Lipsus

Di Balik Dinding Pembuatan Antivenom Negeri Gajah Putih (2/Habis)

TIDAK hanya produktif menghasilkan antivenom, Thailand membuktikan sukses menekan angka kematian karena gigitan ular. Korban meninggal tak lebih dari dua orang per tahun. Apa rahasianya? Inilah laporan wartawan Jawa Pos Amri Husniati yang baru pulang dari Thailand.

AMRI HUSNIATI

Juli tahun lalu Rizky Ahmad, pemuda 19 tahun yang tinggal di Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekanraya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, digigit king cobra peliharaannya di ajang car free day (CFD) di Bundaran Besar Palangka Raya. Nyawa Rizky tak tertolong meski sempat dirawat di RSUD Doris Sylvanus.

Mundur lagi dua tahun, ada Irma Bule yang kematiannya tak kalah tragis. Penyanyi dangdut yang punya nama asli Irmawaty itu tewas setelah dipatuk king cobra saat manggung.

Dua kematian tersebut hanyalah sebagian kecil dari insiden yang bermula karena korban sengaja berakrab-akrab dengan hewan berbisa. Parahnya, mereka tidak siap dengan risikonya. Yaitu kematian.

Ya, memelihara ular berbisa itu berarti memang harus siap dengan kondisi jika sewaktu-waktu terjadi insiden. Paling buruk, digigit. Sayang, fakta di tanah air menunjukkan bahwa mereka yang “berurusan” dengan ular ternyata tak ada satu pun yang siap dengan antivenom.

iklan usi

1 2 3 4Laman berikutnya