Lipsus

Di Balik Dinding Pembuatan Antivenom Negeri Gajah Putih

URUSAN antivenom, Thailand nomor wahid se-Asia. Sejak 1922 mereka meriset sekaligus memproduksi penawar racun ular. Di bawah payung Queen Saovabha Memorial Institute (QSMI). Wartawan Jawa Pos Amri Husniati beruntung mendapat kesempatan langka. Mengintip pembuatan antivenom tersebut.

AMRI HUSNIATI

For Patria, for scientia, for humanitate. Moto dalam bahasa Latin yang berarti demi negara, demi pengetahuan, dan demi kemanusiaan itu tertulis besar-besar di dinding yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai 2 gedung Queen Saovabha Memorial Institute (QSMI).

Bangunan bergaya klasik di kawasan Pathumwan, Bangkok, itu menjadi ”markas” institusi yang merupakan bagian dari Palang Merah Thailand (The Thai Red Cross Society).

Seperti misinya yang memadukan antara pengabdian, pengetahuan, dan kemanusiaan, di gedung tersebut aktivitas yang dilakukan bukanlah profit oriented.
Yang paling menonjol adalah pembuatan antivenom. Bukan hanya pusat riset, produksi penawar racun gigitan ular tersebut juga dilakukan dalam skala masal. ”Produksi kami mencapai 200 ribu vial per tahun,” jelas Prof Dr Sumana Khomvilai, deputy director technical and administrative affairs QSMI.

Untuk antivenom tersebut, Indonesia tertinggal jauh. Di negeri ini baru ada satu macam SABU (serum antibisa ular) polyvalen. Yang bisa untuk mengatasi gigitan tiga macam jenis ular. Yaitu, ular kobra, welang, dan ular tanah. Padahal, jenis ular berbisa di Indonesia mencapai 76 jenis.

Adapun Thailand, mereka sudah memiliki 7 antivenom monovalen dan 2 antivenom polyvalen. Yang monovalen digunakan untuk gigitan king cobra (Ophiophagus hannah), cobra (Naja kaouthia), banded krait (Bungarus fasciatus), malayan pit viper (Calloselasma rhodostama), russels’s viper (Daboia russeli siamensis), green pit viper (Trimeresurus albolaris), serta malayan krait (Bungarus candidus).



Pascasarjana

Unefa
1 2 3 4 5 6Laman berikutnya
Back to top button