Lipsus

Dari Kopi pun Bisa Hidup (2/Habis): Musannif Terima Rp15 Juta per Bulan

Memiliki hak paten atas merk Kopi Sipirok, meningkatkan gairah petani menanam kopi. Kelompok petani ini pun bercita-cita menjadikan Sipirok sebagai sentra kopi di Tapsel.

SAAT memasuki wilayah Desa Sampean, Kecamatan Sipirok, Tapsel, Senin kemarin, tanaman kopi terlihat di mana-mana. Bahkan di median jalan pun ada batang kopi yang baru ditanam. Semangat menanam kopi terasa di kawasan tersebut.

“Diperkirakan ada 35 hektare ladang kopi di Tapsel. Produksi sekitar 70 ton per tahun. Jumlah ini berpeluang terus bertambah, karena minat menanam kopi semakin berkembang. Karena itulah, kami bermimpi menjadikan Sipirok sebagai sentra kopi di Tapsel,” cetus Erwinsyah, dengan ekspresi bertekad di wajahnya.

Saat ini, petani yang dibina PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE) yang mengelola PLTA Batangtoru, masih dalam bentuk Kelompok Tani Mekar Sari. Anggotanya 22 petani, dengan Erwinsyah sebagai ketua. Kegiatannya masih menggelar pelatihan, berbagi ilmu soal tanaman kopi, pengolahan kopi, dan pengemasan.

Ke depan, koptan ini berharap dapat membentuk Koperasi, yang akan menyerap seluruh produksi kopi yang dihasilkan petani. Nantinya koperasilah yang akan mengolah dan menjual produksi kopi dalam beragam bentuk, langsung ke konsumen.

“Saya sendiri… saat ini masih menjual langsung ke sebuah perusahaan di Medan melalui menantu saya. Setiap minggu saya mengirim 200 solup (volume dua liter) ke Medan. Sisanya baru saya kirim ke asosiasi,” ungkap Musannif Pane (63), petani yang sudah cukup lama menggeluti kopi.

1 2 3Laman berikutnya