Lipsus

Cerita Si Nopal Jalin Kerjasama Kampanye Medsos dengan Facebook

Agar Tak Jadi Korban Hoaks

SI NOPAL dipilih Facebook karena sudah familier di media sosial dan pesan-pesannya mudah dipahami. Meski sudah mendapat brief, sang kreator tetap melakukan survei agar karyanya bisa lebih dekat dengan penonton.

DEBORA D. SITANGGANG, Jakarta, Jawa Pos

Sadar tidak, ada yang berbeda dari unggahan Anima Si Nopal sepekan terakhir? Si Nopal tahu-tahu getol bicara soal keamanan di media sosial (medsos).

Tapi, ini bukan karena nggak ada hujan, nggak ada angin. Si Nopal memang sengaja karena dia sudah berkomitmen membantu Facebook untuk memberikan edukasi.

Si Nopal menjadi salah satu karya yang dikontrak Facebook untuk turut serta dalam kampanye terbaru mereka. Namanya #nyamandisosmed.

Naufal Fadirurrazak, kreator Anima Si Nopal, mengatakan agak terkejut ketika dihubungi Facebook Juni lalu dan diundang ikut proyek mereka. Undangan tersebut bikin Naufal berpikir dulu beberapa saat. Soalnya, belum ada pikiran bahwa Si Nopal akan dipilih jadi tokoh yang mengampanyekan aman main medsos. Meski, Si Nopal hidup dan besar lewat medsos.

’’Awalnya kayak agak ragu-ragu, tapi setelah lama-kelamaan dipastiin, ayolah buat proyek, akhirnya aku ikut deh,” ungkap Naufal kepada Jawa Pos kemarin (19/8).

Awalnya Si Nopal berangkat dari komik setrip yang diunggah Naufal secara rutin sejak Juli 2015 di Facebook dan Instagram.

Bentuk komik setrip itu dipertahankan hingga 2017. Setelah itu, Naufal merambah animasi dan memperkenalkan Si Nopal dalam bentuk animasi gerak yang sederhana.

Bentuk animasi tersebut tak cuma diunggah di Facebook dan Instagram. Naufal juga memperluasnya ke YouTube pada Oktober 2018. Pada tahun yang sama, Naufal menerbitkan komik setripnya dalam bentuk cetak.

Naufal mengunggah video animasinya ke YouTube setiap pekan dengan hari yang berbeda-beda. Satu animasi biasanya dikerjakan 4–5 hari mulai menggali ide hingga eksekusi.

Kebetulan, kemarin hari Rabu. Waktunya Naufal mengunggah edisi baru untuk kampanye tersebut. Dia sudah menghasilkan dua episode dalam kerja samanya dengan Facebook.

Episode pertama, Si Nopal membahas berita palsu atau hoaks. Ceritanya, Si Nopal mau pergi ke mal bareng Abah dan adiknya, Cute Girl alias Cuty.

Betapa kagetnya Si Nopal karena mereka berdua malah mengenakan pakaian serba tertutup. Abah bilang, dia baru baca berita bahwa matahari hari itu bakal merusak kulit dan menyebabkan kematian. Si Nopal tepok jidat. Berita yang dibaca Abah ternyata hoaks.

Lewat penuturan sederhana itu, Naufal bersama Facebook ingin mengampanyekan bagaimana pengguna internet harus bersikap atas derasnya arus informasi palsu.

Kampanye itu bukan hal baru sebetulnya. Tapi, tak bisa dimungkiri, masih banyak orang yang belum cukup melek akan bahayanya misinformasi tersebut.

Menurut Karissa Sjawaldy, public policy untuk Facebook di Indonesia, misinformasi bukan cuma perkara membagikan berita tak benar saja. Informasi itu bisa jadi mencelakakan orang lain. Seperti yang dialami Abah dan Cuty, mana tahu mereka justru pingsan karena memakai baju berlebih di tengah cuaca panas.

’’Kami ingin kampanye #nyamandisosmed ini karena sesuai yang dilakukan banyak orang saat ini,” jelas Karissa.

Sejak Covid-19 merebak, orang-orang terbiasa melakukan kegiatan di rumah saja. Salah satu dampaknya adalah penggunaan media sosial yang makin tinggi. Facebook pun melihat Si Nopal sebagai sosok yang familier di medsos sehingga sesuai dengan tujuan kampanye mereka.

Tak cuma bicara soal hoaks, mereka juga ingin berkampanye mengenai pentingnya keamanan bermedsos. Itu krusial karena fenomena phising dan scamming yang membahayakan pengguna jika akun mereka tak diberi proteksi ganda.

Orang bisa lebih mudah meretas akun media sosial seseorang untuk kemudian digunakan secara tak bertanggung jawab. Topik itu dibahas di episode Si Nopal yang meluncur kemarin.

Kampanye tentang privasi tersebut sudah pernah digalakkan Facebook pada 2019. Bedanya, kali ini mereka menekankan pesan bahwa media sosial itu ada di bawah kendali penggunanya.

’’Ketika bicara bermedsos dengan nyaman, kami berkampanye segencar mungkin. Tapi, semua kembali lagi kontrolnya ke pengguna masing-masing,” lanjut Karissa.

Pada episode kedua, Si Nopal menjelaskan cara mengamankan akun medsos kepada adiknya, Cuty. Naufal dan Facebook menampilkan langkah demi langkah mengamankan akun dengan otentikasi dua faktor. Dengan begitu, kalau ada yang mau membobol akun seseorang, akan muncul peringatan ke e-mail dan nomor telepon orang tersebut.

Seperti biasa, Naufal menghadirkan topik-topik mulai yang remeh-temeh hingga serius dalam kemasan yang ringan. Mudah dipahami. Tokoh Si Nopal sendiri digambarkan sebagai sosok yang melek gadget. ’’Sebenarnya episode-episode sebelumnya pernah pakai konsep medsos. Tokoh Ibu sama Ayah yang diedukasi,” jelas Naufal.

Ketika mendapat tawaran kampanye tersebut, Naufal memang sudah mendapat brief dari Facebook. Namun, seperti kebiasaannya, Naufal tetap melakukan riset dan survei sendiri supaya karyanya bisa lebih dekat dengan penonton dan cepat nempel di kepala mereka. Kegiatan riset dan survei kecil-kecilan itu sudah dia lakukan sejak awal membuat Si Nopal pada 2015.

Konsep awal Si Nopal memang slice of life. Naufal menyampaikan keresahan atau pendapatnya atas suatu kondisi atau isu. Tapi, dia juga belajar bahwa berpendapat harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar, dalam hal ini medsos.

’’Karena bisa jadi aku ngerasa begini, tapi ternyata cuma aku doang yang mikir begitu. Orang lain enggak. Ide kita nggak ketangkap sama audiens, jadi harus banyak-banyak survei,” jelasnya.

Perkara mencari ide dan eksekusinya pun tidak mudah. Naufal mengaku sempat buntu saat harus menyiapkan draf untuk episode ketiga dan keempat seri #nyamandisosmed ini. Dipikir berjam-jam pun, ide segar itu tidak juga keluar.

Justru satu hari menjelang deadline, sebelum tidur, barulah Naufal terpikir ide untuk episode itu. Ceritanya tentang apa? Tunggu saja episode selanjutnya Rabu depan. (jp)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button