Lipsus

Anak-anak Punk pun Ziarah Kubur

NGOPI bareng itu berakhir dengan permintaan salah seorang anak punk kepada Halim Ambiya: minta diajari salat. Halim kaget karena tak memperkenalkan diri sebagai ustad atau pendakwah.

Tapi di saat yang sama juga lega. Halim merasa pintu baginya mendekati anak-anak muda yang biasa mangkal di perempatan Gaplek, Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), itu terbuka lebar.

Halim pun langsung mengajak para anak punk itu ke tempatnya di daerah Ciputat, juga masih di Tangsel.

Sejurus kemudian para anak punk tersebut disuruh mandi sampai bersih. Setelah itu diajak salat berjamaah. Bahkan sampai menjalani renungan malam hingga waktu subuh.

Tak terasa, sudah empat tahun lalu momen pendekatan itu dilakukan Halim, pendiri Pesantren Tasawuf Underground. Saat ini anak punk yang nyantri di pesantren tersebut berjumlah 15 sampai 20 orang. Jika dihitung dengan santri kalong, yang pulang pergi alias tidak mondok, jumlahnya 45 orang.

”Saya ini NU (Nahdlatul Ulama) cabang HMI (Himpunan Mahasiswa Islam, Red) hahaha,” kata lulusan Jurusan Akidah dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu. Biasanya para mahasiswa nahdliyin berkiprah di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.

Alumnus program magister sejarah peradaban Islam di International Institute of Islamic Thought and Civilization, Universitas Antar Bangsa, Malaysia, itu menyebutkan, secara kultural pendekatan NU sangat cocok dengan anak punk. NU yang dikenal moderat bisa bersanding dengan anak punk yang radikal sekali pola pikirnya.

Kitab-kitab yang dia ajarkan di pesantren juga sama dengan kitab-kitab di pondok pesantren milik kiai NU.

Seperti kitab Tauhid Aqidatul Awam, kitab fikih Safinatun Naja, dan kitab Nashoibul Ibad.

Di antara budaya di NU yang juga dia tanamkan ke anak-anak punk adalah ziarah kubur. Secara rutin anak-anak itu diajak berziarah ke makam-makam wali atau sesepuh NU. Melalui kegiatan ziarah tersebut, Halim ingin membangun kesadaran rohani. ”Jika mendekati mereka dengan Islam yang hitam-putih, halal-haram, untuk mereka bahaya juga. Bisa saja perubahan di casing saja,” kata pria kelahiran Indramayu, Jawa Barat, 12 Juli 1974, itu.

Pada awalnya Pesantren Tasawuf Underground yang dia dirikan pada 2012 itu tidak menyasar anak-anak punk atau anak jalanan (anjal). Halim memilih berdakwah lewat media sosial. Selain itu keliling ke diskotek, tempat dangdutan, dan sejenisnya.

Sebagian anak muda NU lainnya yang berada di belakang layar islami.co memilih berkreasi lewat film pendek. Saat ini sudah belasan short movie bertema kemanusiaan (human interest) telah mereka hasilkan. Dan semua bisa ditonton di kanal YouTube islami.co.

Founder sekaligus Direktur islami.co Savic Alielha atau Savic Ali mengatakan bahwa semua film pendek dan social ads yang mereka produksi saat ini telah meraup 40 juta view. ”Memang tidak setiap film penontonnya jutaan. Tapi ratusan ribu minimal,” jelasnya.

Salah satunya film bertajuk Berbagi atau yang lebih dikenal sebagai Film Tempe. Film yang bicara tentang toleransi dan kerukunan antarumat beragama itu menyita banyak perhatian.

Tema-tema lain dari film-film islami.co di antaranya kisah gadis yang ditolak ibu kos karena berbeda keyakinan. Ada juga soal pastor yang ditolong tukang tambal ban. ”Kami berusaha sebulan bikin satu film. Tapi kadang libur, kadang sebulan dua film,” kata Savic.

Pembuatan film bekerja sama dengan jaringan anak-anak teater di Jogjakarta. ”Kami pengin ada konten yang bisa dipakai banyak orang. Mewartakan toleransi, persaudaraan manusia,” ucapnya. (jp)