Lipsus

SIT Bunayya Libatkan Keluarga dalam Budaya Literasi

Mengasah Orangtua dan Guru pada Pola Asuh

Ada klub literasi dan lomba menulis bagi orangtua di sekolah. Merupakan cara Sekolah Islam Terpadu (SIT) Bunayya Padangsidimpuan mengikat kesadaran peran penting orangtua dalam pendidikan anak. Sekaligus membangun budaya literasi di rumah dan mengasah pola asuh anak.

SAMMAN- Sidimpuan

Lomba menulis bagi orangtua itu diberi nama; Gerakan Literasi Orangtua Menulis. Hal itu mulai dilaksanakan sejak April 2019 lalu. Bertepatan pada peringatan Hari Buku Sedunia, tertanggal 9 April.

Tetapi tak hanya orangtua, guru pun turut serta menulis. Tema yang diangkat seputar cinta kasih orangtua pada anak-anak, momen bahagia bersama, dan harapan orangtua pada ananda di masa depan.

Tulisan orangtua itu dibaca secara bersama pada hari di mana Buku Sedunia itu diperingati. Anak-anak mendengar secara langsung ceritera dan ungkapan kalbu ayah atau pun ibu, yang ditoreh dalam lembaran-lembaran kertas. Dan tentu, ini menarik minat ananda untuk membacanya kembali.

“Orangtua menulis ini sekaligus ada klub literasi orangtua juga yang kita aktifkan, diadakan tim pustaka (Perpustakaan sekolah),” terang Vida Sylvia Pasaribu, pemimpin tingkat SMP di SIT Bunayya, Sabtu (28/9/2019) di komplek sekolah yang berada di Sabungan Jae, Padangsidimpuan Hutaimbaru.

Ada sebanyak 815 anak didik SIT Bunayya, pada empat satuan pendidikan dari PAUD, TK, SD sampai SMP. Secara umum untuk mendukung literasi keluarga ini, SIT Bunayya juga melibatkan orangtua dalam pola pendidikan asah-asuh-asih. Dan tak jarang bersama orangtua diadakan seminar dan bazaar buku.

“Siswa di SMP kita ada 180 dengan tujuh robel (Kelas/rombongan belajar). Di SD ada 535 siswa 18 rombel. PAUD TK, satu berkisar 100 siswa. Tapi untuk gerakan literasi orangtua menulis itu, untuk SD,” terang Vida menjelaskan bagaimana jalinan komunikasi antara guru dan orangtua murid.

Karena itu, guru di masing-masing rombongan belajar harus memiliki koneksi dengan para orangtua anak didik. Memudahkan komunikasi berbagi informasi perkembangan anak dan juga guna menyamakan persepsi dalam mendidiknya, baik di sekolah maupun di rumah.

“Di grup orangtua dan guru, kita sering membagikan flyer berisi kajian bermacam-macam. Berkaitan dengan ananda,” cerita Vida mengenai upaya membangkitkan minat belajar termasuk membaca anak, tak hanya di sekolah.

Dalam budaya literasi pada anak, peran guru pada tingkatan SMP ini lebih kompleks. Sebab di tahap ini bukan lagi menitikberatkan pada minat baca.

Namun lebih pada pemahaman tema dan selera anak sesuai dengan mesin kecerdasan yang dimilikinya. Guru pun harus mafhum, mampu membimbing anak memilih buku bacaan denganjenis fiksi atau non fiksi.

“Untuk itu kita harus memilih membimbingnya mana bahan bacaan yang layak. Kalau anak yang dominan di otak kiri, ke buku-buku non fiksi. Anak yang dominan otak kanan, kita arahkan buku bacaan fiksi yang membangun karakternya pastinya,” kata Kepala SMP IT Bunayya.

Untuk itu, dalam Majelis Silaturahmi Orangtua (Masila) yang rutin tiga kali dalam satu semester. Seperti terakhir ini, Sabtu (21/9) kemarin. Silaturahmi ini jadi ajang menambah wawasan untuk guru dan orangtua. Meski pun tidak semua orangtua dapat hadir bersama.

Tidak hanya melibatkan orangtua membaca, menulis dan berbagi wawasan. Namun sekolah ini juga mengajak anak didik membuat karya tulis, dengan puisi dan sebagainya.

“Tahun ini kita sudah mulai fokus untuk program literasi. Tahun kemarin kan per kelas saja. Ini juga kita lagi menyusun buku, ontologi puisi. Masih mencari kerjasama penerbit. Menyusun karya anak-anak, tapi nanti untuk koleksi di sini. Tahun depan, masih tahap wacana. Kita juga mau buat satu pojok literasi, tidak untuk siswa saja,” terang Vida Sylvia.

Upaya dari seluruh jenjang pendidikan di SIT Bunayya dalam penguatan budaya literasi ini, ekses yang diharapkan akan terbangun kecakapan berpikir anak yang didapat dari membaca atau menghitung, agar mampu memahami dan menuntaskan berbagai soal di pelajaran maupun di lingkungannya.

Sejatinya budaya literasi yang dibangun untuk anak tidak melulu dari dan di sekolah. Keluarga juga mesti punya peranan sejak dini, menanamkan minat baca pada anak. Terlebih di era seperti ini, banyak anak-anak yang lebih asyik bermain dengan gawai atau telepon pintar. (*)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close