Lipsus

Cerita Penyandang Tunanetra yang Belajar Mandiri di Liverpool

Penampilan Moh Hilbram dalam acara pemkot pada 2017 menarik perhatian wali kota Liverpool. Anak dengan disabilitas itu pun bisa mengunjungi kota di Inggris tersebut bersama dengan sesama penyandang disabilitas low vision lain.

JUNEKA SUBAIHUL MUFID, JPG

Di ruang latihan musik itu, Moh. Hilbram memainkan keyboard dengan jemarinya. Sesekali badannya bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti alunan musik. Dia mengiringi lagu Rek Ayo Rek yang dinyanyikan Reva Gabriella Chandra. Teman-teman mereka, sesama murid di YPAB, memetik gitar bas, memukul drum, dan menggoyang-goyangkan angklung. Meski punya keterbatasan dalam penglihatan, mereka begitu lincah dalam memainkan musik tersebut.

Para guru yang mendampingi latihan sesekali mengelus janggut para siswa itu. Senyum mereka langsung merekah. Latihan siang itu merupakan persiapan untuk sebuah pentas yang menghadirkan para siswa YPAB.

Meski punya keterbatasan indra penglihatan, bukan berarti para siswa itu tidak punya kesempatan untuk mengembangkan diri. Mereka pernah melanglang buana hingga ke luar negeri. Misalnya, yang dilakoni Ibam sapaan Moh Hilbram dan Reva Kurang lebih enam pekan, keduanya belajar di ST Vincent’s School Liverpool, Inggris. Ibam dan Reva berangkat bersama 13 orang lain atas prakarsa Pemkot Surabaya dan Pemkot Liverpool.

Mereka adalah Rahul Narendra Wijaksono dari murid SMPN 7 Surabaya, Melinda Putri (SDN Sidotopo Wetan), Rizky Nova Firmansyah (SDN Pacarkeling IX), Early Priscillia Teja (SDN Tambaksari III), dan Firmansyah Rizky Rifai (SDN Klampis Ngasem II).

Dari kalangan guru, ada Tjipto Wardojo (SMPN 29), Supriyadi (SMPN 40), Brandy Handayanto (SMPN 48), Puguh Tiranggono (SMPN 47), Yoyok Hadisaputro (SDN Kebonsari I), Soekardji (SDN Airlangga I), dan Rina Pancawati Soebari (SMPN 28). Sang pendamping adalah Jamdaris, kakek Ibam.

Salah satu yang mendasari keberangkatan para siswa, guru, dan pendamping ke Liverpool adalah saat Ibam menjadi pengisi sebuah acara di pemkot pada 2017. Penampilan Ibam yang menyanyikan sebuah lagu menarik hati wali kota Liverpool kala itu. Ibam pun ditawari untuk bisa berangkat ke Liverpool. ”Waktu itu, saya masih SD. Sekarang sudah kelas VIII,” ujar Ibam yang ditemui di YPAB.

Hingga akhirnya pada 17 Juni, mereka berangkat ke Liverpool melalui perjalanan yang panjang dengan pesawat. ”Bawa baju tidur banyak yang tebal, lima atau empat. Lha ternyata, nasib… nasib…, di sana panas 29 sampai 31 derajat,” ungkap Ibam.

Di sekolah yang mendidik siswa-siswa disabilitas itu, mereka berbaur dengan anak lainnya dari berbagai negara.

Selain punya teman baru, mereka belajar banyak hal baru. Terutama untuk mengasah kemandirian dan kreativitas.

Salah satu metode yang digunakan adalah sight box yang berisi berbagai benda. Mulai bola yang dilengkapi kerincingan hingga parasut. Aneka benda itu dipakai sebagai sarana bermain untuk mengasah kemampuan dengar serta indra peraba. Juga membuat anak jadi lebih percaya diri.

Mereka juga diajari untuk bisa berjalan sendiri dengan tongkat di keramaian. Reva menuturkan, cara memegang tongkat pun berbeda. Di Indonesia lazimnya tongkat itu dipukul-pukulkan. Tapi, pelajaran yang diterima di Liverpool, tongkat itu justru disapukan ke kiri dan kanan. ”Ora di-tuk-tuk. Tapi, di-srek-srek,” jelas Reva.

Ibam terkesima dengan fasilitas layanan publik seperti kendaraan umum yang sudah dilengkapi huruf braille. ”Kalau mau berhenti, tinggal pencet huruf S. Aku wes nyoba, keluar bunyinya. Tak buat mainan juga,” kata Ibam lantas tertawa.

Setelah enam pekan di Liverpool, mereka pulang pada 27 Juli lalu. Rabu (7/8/2019) lalu para siswa itu kembali diundang ke balai kota, seperti saat sebelum mereka berangkat. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyambut dengan hangat para siswa tersebut. Dia bertanya pelajaran apa saja yang sudah diterima dan kondisi di sana.

Risma berharap para siswa itu bisa lebih mandiri. Juga kelak bisa bekerja. ”Para guru nanti bisa menularkan ilmu yang didapat untuk anak-anak di sini,” jelas Risma.

Apa yang menjadi harapan Risma untuk kemandirian para siswa itu memang sedikit banyak sudah menjadi kenyataan. Reva, misalnya, sudah bisa makan sendiri, padahal sebelumnya harus disuapi. Tidur pun sudah berani sendiri. Saat pulang dari lantai 2 balai kota, Reva pun turun tangga tanpa dituntun. Saat keluar dari balai kota, Reva menggunakan tongkatnya yang di-srek-srek. (jp)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close