Lifestyle

Yuzika Lubis Pernah 24 Jam Nonstop Kerjakan Orderan

FaseBerita.ID – Meskipun saat masih sekolah sempat berjualan kue buatan sang ibu, namun tak pernah ada dalam benak Yuzika Lubis menjadi pengusaha kue. Apalagi, ibu seorang putra ini sempat bekerja dan kuliah di Jakarta.

Yuke, demikian ia biasa disapa menerangkan, setelah lulus dari SMK Negeri 1 Pematangsiantar, ia bekerja di salah satu perusahaan retail di Jakarta. Setahun bekerja, ia pun memutuskan melanjutkan pendidikannya di Bina Sarana Informatika (BSI) Jakarta. Yuke pun bekerja sambil kuliah.

Yuke kembali ke Sumatera Utara setelah ia diterima bekerja di salah satu bank swasta. Ia ditempatkan di Kisaran, Kabupaten Asahan. Namun hanya sekitar setahun anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Zulkifli Lubis dan Salbiah Saragih itu menjadi bankir.

“Saya resign dari bank karena menikah,” tukasnya.

Setelah menikah, Yuke praktis menjadi ibu rumah tangga. Hingga putranya, Muhammad Rasya Athaya Pane (6) lahir.

Namun sekitar tahun 2015, ada perubahan besar pada kehidupan pribadi Yuke. Ia harus memikirkan bagaimana bisa memeroleh penghasilan, khususnya demi sang buah hati tercinta.

Tahun 2016, Yuke sempat bekerja di PT Ultra Jaya Milk Industry di Pematangsiantar. Namun tidak terlalu bertahan lama. Saat itu, ia mulai memikirkan bagaimana bagaimana agar bisa bekerja di rumah saja. Sehingga tawaran bekerja perusahaan farmasi di Medan pun ditolaknya.

Alumni SMP Taman Asuhan Pematangsiantar ini pun mencoba berbisnis kue basah atau jajanan pasar. Apalagi, sang ibu, Salbiah Saragih mahir membuat beberapa jenis kue basah. Jadilah Yuke mulai belajar membuat kue-kue tersebut. Kebetulan, ia juga hobi memasak, sehingga dengan mudah ia belajar beberapa jenis kue.

Kok rasanya lebih enak bekerja di rumah saja. Saya mulai belajar bikin kue. Saya minta keluarga dan teman mencicipi. Setelah mereka bilang rasanya enak, barulah saya berani menerima orderan,” tukas Yuke yang mulai membuka usahanya yang diberi nama Athaya’s Zuhause Snacks di tahun 2017.

Diakui Yuke, ia memilih fokus ke kue basah atau jajanan pasar karena menurutnya kue-kue tersebut sangat fleksibel untuk berbagai acara, mulai acara pengajian, arisan, ulang tahun, hingga pesta pernikahan yang mewah.

“Saya kerjakan kue-kue itu di rumah orangtua saya di Jalan Sinar No 36 Pematangsiantar ya,” sebut Yuke, seraya menambahkan selain kue basah, ia juga menerima pesanan cake, kue tart, hingga nasi tumpeng.

Yuke pun bersyukur sejauh ini setiap hari selalu ada orderan kue. Jenis dan jumlahnya pun bervariasi. Bahkan, katanya, ia pernah menerima orderan kue dalam jumlah sangat besar. Sehingga membutuhkan waktu lama mengerjakannya.

“Pernah dalam 24 jam saya nonstop mengerjakan pesanan. Begitu selesai, rasa mengantuknya tidak hilang-hilang sampai seminggu,” tandas Yuke yang untuk menjaga kesehatan dan stamina ia rutin mengonsumsi susu, buah-buahan, dan vitamin.

Yuke juga mengaku pernah menerima orderan kue yang ia sama sekali belum pernah membuat dan memakannya. Waktu itu, katanya, ada pemesan yang bertanya apakah ia bisa membuat kue nona manis. Si pemesan itu mengaku pernah makan kue tersebut di Papua.

Tanpa banyak tanya, Yuke langsung mengatakan bisa. Segera ia browsing di internet tentang kue nona manis. Ternyata kue itu berbahan dasar utama santan kental. Lantas, Yuke mencoba membuatnya, dan berhasil. Sejak itu, kue nona manis termasuk kue andalan dan favorit selain risol dan lemper.

Yuke mengaku, ia membuat kue hanya berdasarkan pesanan. Ia sendiri belum memiliki outlet atau rumah kue. Sehingga tidak ada kue yang tersedia jika ada pembeli yang datang tiba-tiba.

“Kan kue basah. Kalau tidak langsung terjual, tentu besoknya tidak enak lagi,” ujar Yuke yang setiap tahun biasanya ikut meramaikan warung Ramadan di Masjid Al Ikhlas Jalan Sisingamangaraja Pematangsiantar, tidak jauh dari rumahnya.

Untuk kemasan kue, sambung Yuke, biasanya sesuai permintaan pemesan. Ada yang tidak perlu dikemas, tapi ada juga yang minta dikemas, dengan jumlah dan jenis tergantung keinginan masing-masing. Selain itu, Yuke juga menerima pesanan Kue Tampah, yakni kue disusun di atas tampah besar.

“Tergantung permintaan. Ada juga yang minta dikemas per paket, yang dilengkapi minuman air mineral kemasan cup atau gelas,” ujar Yuke, dan menambahkan di bulan Ramadan biasanya pesanan kue makin banyak.

Di luar mengerjakan pesanan kue, Yuke yang memajang hasil karyanya di akun media sosial Zi Ka (Facebook) dan @athayas_zuhausesnack (Instagram) ini selalu berusaha memberikan perhatian kepada putra semata wayangnya. Setiap hari, ia menyempatkan diri mengantar dan menjemput anaknya sekolah. Yuke juga aktif mengikuti pengajian.

“Kalau ada waktu luang, sempatkan juga berkumpul sama teman-teman sekolah. Ya, sambil bawa anak juga. Kadang di tempat makan, kadang berenang,” jelas perempuan yang hobi travelling ini.

Ke depan, Yuke yang setiap hari bangun tidur antara pukul 03.00-04.00 WIB itu ingin tetap fokus pada usaha kue-nya. Impiannya adalah, memiliki toko kue sendiri. Meskipun sebenarnya Yuke sempat membuka outlet kue di Jalan Jawa beberapa waktu lalu, namun terpaksa ditutup.

“Repot, karena saya juga harus membuat kue sendiri dan mengerjakan pesanan,” terang Yuke yang berulang tahun setiap tanggal 21 Juli ini. (awa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button