Lifestyle

Yuri Kie: Senyuman Anak Didik jadi Motivasi

FaseBerita.ID – Menjadi pendidik, apalagi Kepala Sekolah Taman Kanak-kanak (TK) sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Yuri Kie. Kini, setelah tiga tahun berkecimpung di dunia pendidikan, Yuri mampu beradaptasi dengan anak-anak, bahkan mengenali karakter, minat, dan bakat masing-masing.

Kepala Sekolah TK Kartini Handayani yang di masa kecilnya bercita-cita menjadi fashion designer ini, mengaku belajar banyak ketika menjadi pendidik. Menurutnya, saat ia menjadi kepala sekolah (kasek) itu ibarat anak di bawah tiga tahun (batita) yang sedang belajar berjalan. Tentunya banyak suka dan duka dalam prosesnya.

“Anak bereksplorasi dan menemukan banyaknya pengalaman hidup yang hanya didapati dan dialami sekali seumur hidup. Saat mulai berdiri dan melangkahkan kaki, seringkali anak terjatuh, terantuk, dan sebagainya. Hal itu memberikan pelajaran bagaimana nantinya menghadapi tantangan dan masalah serta memertahankan diri agar tetap kuat untuk maju, hingga akhirnya anak mampu maju selangkah demi selangkah dan berjalan,” terang istri dari Kevin Phan ini.

Namun, sambung alumni SMA Kristen Kalam Kudus Pematangsiantar ini, si anak tidak berhenti di situ. Dia masih harus belajar melompat dan berlari.

“Sama seperti kepala sekolah, banyaknya suka duka dalam. Kita bereksplorasi menghadapi kondisi dan karakter setiap orang yang berbeda-beda, baik guru, siswa,  bahkan orangtua. Banyak pengalaman baru yang didapat. Bahkan mungkin saja pengalaman ini tidak terulang lagi,” sebut perempuan berambut panjang yang hobi menari ini.

Lebih lanjut dikatakannya, hal-hal baru yang dirasakannya saat menjadi pendidik dan kepala sekolah, sangat menarik dan cukup membawa tantangan serta teka-teki yang menjadikan sensasi hidup setiap hari.

“Saat kita mampu menyelesaikan teka-teki tersebut, hati ini luar biasa puasnya. Yang pasti, pencapaian-pencapaian tersebut berkat dukungan dan motivasi dari setiap anak melalui senyuman tulus mereka. Hanya dengan melihat mereka saja, serasa semua beban kerja terlepaskan. Apalagi mendapatkan kecupan dari para penghibur hati cilik ini,” jelas alumni Universitas Sumatera Utara (USU).

Yurie yang Sarjana Strata Dua (S-2)-nya dari Universitas HKBP Nommensen ini tidak memungkiri ada saja muridnya yang masih manja, bahkan cengeng. Namun dia memiliki kiat tersendiri.

“Namanya saja masih anak-anak. Kita sendiri pernah mengalami tahapan menjadi anak kecil, manja, dan cengeng. Mungkin tanpa disadari, kita yang sudah dewasa juga masih mempunyai sikap seperti itu. Jadi jangan pernah kesal jika ada anak yang manja dan mudah menangis. Mungkin kita melihat mereka masih kecil dan tidak mengerti apapun. Padahal sebenarnya anak-anak lebih peka dari kita,” tukas wanita yang memiliki motto hidup You Can if You Think You Can, atau kamu bisa apabila kamu berpikir kamu bisa.

Anak-anak itu, lanjutnya, sudah dapat melihat, meniru, dan menyimpulkan sendiri dari apa yang mereka rasakan dan lihat. Untuk menghadapi anak-anak yang belum mandiri atau manja dan mudah menangis, “Kita dapat dengan perlahan membujuk sembari memberi mereka pengertian dan penjelasan serta memberikan contoh serta perbandingan kepada mereka. Saat mereka sudah mulai mengalami perkembangan baik dan pencapaian, berikan mereka apresiasi dan pujian, yang menjadikan motivasi serta memberi kebanggaan tersendiri untuk mereka, yang akhirnya mereka akan percaya diri dengan kemampuan mereka. Tentunya dalam hal ini sangat dibutuhkan kerjasama dengan orangtua siswa,” jelas Yuri yang di waktu luangnya selalu olahraga aerobic ini.

Orangtua, katanya lagi, harus memercayakan pihak guru dan sekolah serta berani melepaskan anaknya demi kemandirian si anak.

“Yang pasti, butuh kesabaran penuh dalam menghadapi anak-anak. Sebab setiap proses pasti membutuhkan waktu,” ujar Yuri yang merupakan pengurus Ikatan Guru Taman Kanak Kanak Indonesia (IGTKI) Kota Pematangsiantar bidang Pendidikan, Porseni, dan Kesejahteraan.

Menjadi pendidik anak-anak TK, dirasakan Yuri sangat luar biasa. Ia bisa bergaul dan berada dekat dengan anak-anak.

“Saya serasa masih muda dan mirip dengan mereka yang menjadikan setiap hari itu luar biasa,” akunya.

Yuri tidak memungkiri ada saja orangtua murid yang complain dengan pihak sekolah. Namun Yuri sadar, tentunya orangtua selalu ingin yang terbaik untuk buah hatinya. Hal-hal yang di-complain, biasanya program dan kegiatan belajar mengajar, pengawasan siswa, konflik antar siswa, konflik antar orangtua, pencapaian anak, dan lainnya. Yuri pun tidak alergi dengan kritik dan saran demi pencapaian untuk menjadi lebih baik lagi.

Yuri juga mengatakan, setiap anak memiliki potensi emas masing-masing. Sehingga sekolah dan orangtua harus bekerjasama mencari tahu dan mengembangkan potensi emas tersebut. Sejauh ini, sambungnya, pihak sekolah menyediakan ekstrakokurikuler seni tari, musik, seni rupa, dan bahasa. Tujuannya, lebih menggali lebih bakat anak-anak. Nah, ketika potensi atau bakat anak-anak mulai tampak berkembang, untuk lebih memfokuskannya, sekolah akan memberikan pelatihan di kelas intensif, yakni terpisah dengan anak-anak yang lain guna memersiapkan anak tersebut siap bersaing.

“Ya, sesuai motto Yayasan Pendidikan Kartini Handayani, yakni pondasi yang kuat akan melahirkan putra putri yang handal,” katanya.

Ke depan, Yuri secara pribadi ingin dapat menjadi berkat bagi setiap orang di sekitar, khususnya di Yayasan Pendidikan Kartini Handayani, agar semakin maju dan jaya selalu.

Yuri juga mengingatkan para orangtua bahwa pengembangan anak bukan berarti mengembangkan anak menjadi apa yang sesuai keinginan orangtua. Tetapi, bagaimana mendukung dan membantu mereka berkembang menjadi yang terbaik sesuai minat dan bakat mereka. (awa)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker