Lifestyle

Wanda Vanny Siallagan: Dari Nol Membangun ‘Budapest Siantar’

FaseBerita.ID – Nama Wanda Vanny Siallagan di Pematangsiantar dan Simalungun identik dengan Budapest. Bukan Budapest ibukota Hongaria, tapi Budapest yang merupakan cake dengan isian cream dan daging durian.

Sebenarnya, kata Wanda, ia memulai usaha Budapest di tahun 2015 bukan sengaja. Semuanya berawal dari kesempatan dan tantangan.

Diceritakan Wanda, di tahun 2015 dari Batam, Kepulauan Riau, ia kembali ke kampung halamannya di Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun. Pulang kampung bukan dengan kesuksesan besar, justru sebaliknya.

Dengan memboyong putra tunggalnya, Moses Hutabarat yang belum genap berusia dua tahun, Wanda pulang dengan penuh kesedihan dan pikiran yang kacau balau.

“Suami saya meninggal dunia saat kami masih di Batam. Ketika suami meninggal, anak kami berusia enam bulan. Kepergiannya yang mendadak dan tanpa keluhan sakit sebelumnya, pastinya membuat saya benar-benar sedih,” ujar alumni SMA Budi Mulia Pematangsiantar ini.

Sebenarnya, diakui Wanda, bukan tanpa pekerjaan ia di Batam. Sebab, beberapa bulan setelah lulus dari Akademi Kebidanan (Akbid) Kesehatan Jalan Pane Pematangsiantar, Wanda merantau ke Batam, dan bekerja di salah satu rumah sakit swasta di sana. Pekerjaan itu terus dilakoninya hingga ia menikah dan memiliki anak.

Hanya saja, sambungnya, kesedihan yang mendalam dan selalu terkenang kebaikan suami, Wanda akhirnya memilih kembali ke kampung halaman. Meskipun ia sendiri saat itu belum tahu apa yang harus dikerjakannya.

“Memang keluarga suami tinggal di Batam. Karena suami saya, meski orang Batak, tapi lahir dan besar di Batam. Hanya saja saat itu saya merasa nggak mau lagi tinggal di sana. Mungkin karena terus teringat suami saya,” kata Wanda.

Setelah pulang kampung, Wanda sempat melamar bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Pematangsiantar. Namun dengan mempertimbangkan berbagai hal, seperti nilai gaji dan jam kerja, akhirnya ia memutuskan tidak menerima pekerjaaan tersebut.

Wanda pun hanya di rumah merawat anaknya. Kebetulan, ia tinggal di rumah orangtua bersama ibu dan saudara laki-lakinya yang masih melajang, di Jalan Melati, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun.

Di rumah, untuk cemilan sang anak, Wanda mencoba membuat makanan sendiri, terutama yang berupa cake dan sejenisnya. Ia belajar secara otodidak dengan membuka-buka situs di internet. Setelah cemilan tersebut selesai, Wanda kerap mempostingnya di media sosial.

“Karena saya posting, teman-teman banyak yang lihat. Lalu ada saja yang tertarik dan pesan ke saya,” sebut Wanda.

Sejak itulah, Wanda mulai menerima pesanan cake. Meski tidak memiliki keahlian dan pengalaman membuat cake, Wanda merasa yakin jika ia serius dengan usaha tersebut, pasti bisa sukses.

Tak jarang, ada saja temannya yang meminta dibuatkan cake yang sebenarnya Wanda sendiri belum paham. Namun ia meyakinkan dirinya kalau ia pasti bisa.

Ia pun berselancar di internet. Membaca bahan-bahan yang dibutuhkan dan cara membuatnya. Terkadang ada saja bahan kue yang tidak dikenalnya dan apa fungsinya. Kalau sudah begitu, tanpa malu-malu, Wanda bertanya kepada pemilik toko yang menjual bahan-bahan kue. Dari pemilik toko, Wanda mendapatkan penjelasan. Bahkan, tidak jarang pemilik toko memberikan tips-tips agar kue yang dibuat bisa bagus.

Saat mencoba memasak jenis cake baru, kata Wanda, ada saja kekurangan.

“Bantat, nggak mengembang seperti punya orang-orang yang terlihat cantik. Pokoknya, nggak langsung bagus. Bahkan kadang, terpaksa saya ulang-ulang sampai beberapa kali. Kalau sudah begitu, terkadang ibu menegur saya. Katanya untuk apa saya jadi tukang kue, lebih bagus bekerja sesuai ijazah saya,” terang Wanda lagi.

Tapi Wanda tidak putus asa. Trial and error sudah biasa baginya. Hal yang sama terjadi saat ia menerima tantangan pesanan Budapest dari seorang temannya. Tanpa pikir panjang, Wanda langsung menerimanya. Padahal saat itu, Wanda sendiri belum tahu seperti apa rasa Budapest.

Berbekal nekat dan penuh percaya diri, Wanda mencoba membuat Budapest. Ketika itu, di Siantar belum ada yang menjual Budapest.

“Itu juga yang bikin saya tambah semangat. Karena di Siantar belum ada yang jual Budapest,” tandas Wanda, yang kemudian memodifikasi Budapest yang isiannya jeruk/kiwi, menjadi daging durian.

“Saya coba pakai daging durian, ternyata enak dan banyak yang suka. Sejak itu, saya fokus ke Budapest, dan Budapest menjadi ciri khas usaha saya. Sehingga usaha saya diberi nama Budapest Siantar,” jelasnya.

Seiring waktu, usaha Wanda berkembang. Yang tadinya meminjam dapur dan alat pembuat kue milik ibunya, Wanda sudah bisa membuat ruangannya sendiri, di belakang rumah ibunya.

“Tadinya, seperti mixer dan oven pakai punya ibu saya. Saya memang memulai usaha ini dari nol. Selanjutnya, saya bisa beli alat-alat masak kue dengan ukuran yang jauh lebih besar. Kalau saya tetap pakai punya ibu saya, nggak selesai-selesai pesanan,” kata Wanda tertawa.

Selain itu, Wanda yang tadinya bekerja seorang diri di dapur, kini sudah memiliki tiga orang asisten.

“Secara finansial, dari usaha ini saya bisa memenuhi kebutuhan saya dan anak saya, juga menabung. Sehingga saya tidak kepikiran lagi bekerja di bidang lain,” tukas sulung dari empat bersaudara ini.

Kini, setiap hari Wanda sudah mulai berkutat di dapur sejak pukul 04.00 WIB. Ia berjibaku menyiapkan pesanan-pesanan dari customer. Ketika para asistennya datang sekitar pukul 08.00 WIB, mereka tinggal melanjutkan pekerjaan Wanda.

Di sela-sela menyiapkan pesanan, Wanda meluangkan waktu untuk mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah. Selanjutnya, kembali ‘bertempur’ di dapur hingga seluruh pesanan terkirim ke customer.

“Begitulah saya setiap hari. Kalau malam, saya usahakan menemani anak belajar dan bermain. Nyaris tidak ada waktu untuk diri sendiri. Tapi saya menikmatinya,” ujar Wanda yang tidak menerima pesanan di hari Minggu. Di hari itu, ia hanya membuat stok beberapa Budapest.

“Kalau Minggu, selain ibadah, saya sempatkan jalan sama anak, atau bertemu teman-teman,” tukas Wanda yang customer-nya banyak dari luar Siantar-Simalungun, seperti Balige, Tarutung, dan lainnya.

Ke depan, Wanda ingin fokus dengan usahanya. Apalagi, kini ia tidak perlu berbelanja langsung ke toko. Ia tinggal menelepon pemilik toko, dan barang pesanannya diantar, termasuk daging durian. Sedangkan untuk barang-barang yang tidak tersedia di Siantar, Wanda bisa belanja di toko online.

“Seperti pernak-pernik atau aksesori kue tart, biasanya saya belanja online,” jelas Wanda yang juga menyediakan aneka kue lainnya, seperti bolen, kue tart, roll cake, donat, roti, dan lainnya. (awa)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker