Lifestyle

Utami Suzariani, Guru SD ‘Ciptakan’ Kampung Tematik

Dari Jalan Tongkol Kelurahan Pardomuan, Kecamatan Siantar Timur, Kota Pematangsiantar, masuk ke Gang Muhajir, langsung terasa suasana berbeda. Warna-warni ceria menyambut. Jalan gang dan dinding rumah warga menyuguhkan aneka lukisan indah di kampung tematik tersebut.

Seorang pria yang tengah menyelesaikan lukisannya di salah satu bagian tembok pembatas gang, ketika ditanya rumah Utami Suzariani, langsung memberi arahan. Setelah menyeberang rel kereta api dan berbelok ke kiri, rumah Mimi, demikian panggilan Utami Suzariani, berada di paling ujung.

Mimi yang ditemui Sabtu (4/1) siang tengah memberi arahan beberapa remaja yang sedang menyelesaikan lukisan di beberapa rumah warga.

“Semua lukisan-lukisan ini kami yang kerjakan, dari Komunitas Budaya Sanggar Lukis Qalam Jihad,” sebut wanita berhijab ini.

Mimi merupakan salah seorang founder Komunitas Budaya Sanggar Lukis Qalam Jihad yang berdiri hampir 18 tahun lalu. Sanggar tersebut berada di kediaman Mimi. Mimi sendiri, selain pemilik, juga menjadi pengajar di sanggar.

“Ada 150 murid kami di Qalam Jihad. Mereka, ada yang belajar di hari Kamis, dan ada juga yang di hari Minggu,” sebut penyandang gelar Sarjana Pendidikan Islam (SPdI) dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Samora Pematangsiantar itu.

Mimi, sehari-hari merupakan salah seorang guru SD Muhammadiyah 01 Pematangsiantar. Ia yang lahir dari pasangan suami istri almarhum Suluhono dan Zahara Nasution ini, memiliki darah seni dari sang ayah yang memang seniman. Ayahnya, merupakan pelukis, penyanyi, dan pemusik.

Mimi, sulung dari tiga bersaudara ini belajar melukis sejak kecil. Hanya saja, saat masih sekolah ia justru menekuni kaligrafi. Bahkan kini Mimi menjadi pengurus Lembaga Kaligrafi (Lemka) Kota Pematangsiantar, dan kerap menjadi juri lomba kaligrafi di ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Kota Pematangsiantar.

Istri dari Zainal Abidin Lubis ini mengatakan, sebenarnya sejak lama ia ingin menjadikan Gang Muhajir sebagai kampung tematik. Tujuannya, agar anak-anak bisa memiliki tempat bermain yang aman dan nyaman.

“Selama ini anak-anak di sini banyak yang bermain di rel kereta api. Meskipun mereka tahu jadwal kereta api melintas, tapi kan tetap saja tidak bagus,” terang ibu tiga anak ini, yaitu Badariyah Sufina Azzaimi Lubis (16), Amir Fahdy Azzaimi Lubis (15), dan Amin Fathy Azzaimi Lubis (6).

Hanya saja, sambung Mimi, impiannya membuat kampung tematik terkendala dana. Hingga kemudian, beberapa waktu lalu, Lurah Pardomuan Arif Lubis menemuinya, dan mengajak bekerja sama menjadikan Gang Muhajir sebagai kampung tematik.

“Saya senang sekali. Bersama suami dan anak-anak Qalam Jihad kami mengatur sistem kerja,” terang Mimi yang sempat menjabat Bendahara Ikatan Remaja Muhammadiyah Kota Pematangsiantar.

Sebagai proyek pertama, lanjutnya, adalah rumah yang tepat berada di sebelah kediaman Mimi. Setelah selesai, ternyata tetangga yang lain menyambut antusias. Bahkan tak sabar dinding rumahnya segera dilukis.

“Mereka pun mengajukan permintaan masing-masing. Kalau kami merasa mampu mengerjakannya, ya kami terima. Kalau kira-kira waktunya tidak memungkinkan, kita minta agar diganti,” tukas Mimi yang menjabat Ketua Lembaga Kebudayaan Aisiyah Kota Pematangsiantar.

Lebih lanjut dikatakan Mimi, meski ia memiliki banyak kegiatan, namun selalu berupaya tetap memasak untuk suami dan anak-anak. Sedangkan pekerjaan rumah tangga lainnya, kebetulan putri sulungnya sudah remaja, sehingga bisa mengerjakan yang ringan, seperti menyapu lantai.

“Ada asisten rumah tangga, tapi hanya untuk mencuci dan menyetrika pakaian,” tandas Mimi yang juga mengajar ekstrakurikuler melukis di SD Kalam Kudus Pematangsiantar.

Diakui Mimi, sebenarnya sangat banyak aktivitasnya sehari-hari. Ia juga termasuk dalam Tim Pengembangan SD Muhammadiyah 01 Pematangsiantar. Sehingga ia sering mengikuti studi banding hingga ke luar kota.

“Bahkan sebelumnya saya sempat aktif menjadi MC (master of ceremony) di berbagai acara. Tapi karena sekarang anak-anak sudah remaja dan butuh banyak perhatian orangtua, pelan-pelan kegiatan di luar rumah saya kurangi,” ujar wanita yang lahir tanggal 15 Maret ini.

Yang pasti, lanjut Mimi, setiap Rabu dan Sabtu setelah ia mengajar, merupakan waktu untuk keluarga (family time).
“Kami menyebutnya hari kebebasan nasional,” sebut Mimi, seraya menambahkan ketiga anaknya mewarisi bakat seni dan sering menjuarai berbagai perlombaan.

Kini, setelah adanya kampung tematik, Mimi senang karena anak-anak di lingkungan tersebut sudah memiliki tempat bermain yang bersih, nyaman, dan aman.

“Kalau ada pengunjung datang dan berfoto-foto di sini, kami anggap itu bonus. Saya hanya minta kepada warga di sini agar kita sama-sama menjaga kampung tematik ini,” kata Mimi. (awa)

iklan usi