Lifestyle

Tommy Angelo: Anak Petani, Mandiri, Kini MC Terkenal di Siantar

FaseBerita.ID – Hidup merantau dan jauh dari orangtua dirasakan Tommy Angelo sejak ia lulus SMP. Bersama adik bungsunya yang baru lulus SD, keduanya berangkat dari kampung halaman di Nias, menuju Kota Pematangsiantar ditemani sang ibu. Di kota dengan motto Sapangambei Manoktok Hitei inilah Tommy melanjutkan pendidikannya, mencoba berkarir, dan kini ia menjadi seorang Master of Ceremony (MC) berbagai event yang cukup dikenal.

Di Pematangsiantar, kebetulan ada abang dan kakaknya yang sudah duluan merantau. Kehidupan yang sulit di Nias lah yang ‘memaksa’ mereka untuk bertarung di kampung orang.

“Di Nias, orangtua saya bertani padi. Tapi hasil panen tidak seberapa, bahkan sering gagal karena hama dan tikus,” cerita anak keenam dari tujuh bersaudara itu.

Dari hasil panen, sambung pemilik nama asli Sokhiatulo Zebua Amd Fin ini, tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sehingga, lima saudaranya terpaksa putus sekolah.

Nah, saat Tommy lulus SMP, orangtuanya mengaku tidak sanggup membiayai sekolahnya jika ia ingin melanjut ke SMA. Apalagi, ayahnya sudah sakit-sakitan. Namun, kakak-kakak dan abang-abangnya ingin kedua adik mereka tetap mereka.

Bahkan, salah seorang kakaknya yang bekerja menenun ulos (partonun) di Pematangsiantar meyakinkan Tommy dan adiknya, ia yang akan membiayai sekolah mereka. Sedangkan biaya makan dan lainnya, ditanggung saudara-saudaranya yang lain.

Jadilah Tommy melanjutkan pendidikannya. Ia masuk SMK Surya di Jalan Dalil Tani, Kelurahan Tomuan, Pematangsiantar. Sedangkan adiknya masuk ke salah satu SMP Negeri di Pematangsiantar.

Selama di SMK, Tommy aktif di kegiatan sekolah. Dia mengikuti ekstrakokurikuler bola voli dan berenang. Sedangkan bakat MC-nya yang sudah ada sejak di masa SD, mulai mendapatkan wadah.

“Kalau ada pentas seni dan acara perpisahan di sekolah, selalu saya yang jadi MC. Kecuali saat saya kelas tiga, MC di acara perpisahan tentunya bukan saya lagi,” tukas pria yang jika tidak ada kegiatan di sekolah, dia biasanya membantu sang kakak martonun di rumah.

Selama di SMK, Tommy juga sempat mengikuti seleksi Paskibra Kota Pematangsiantar. Bahkan, katanya, saat tragedi kecelakaan bus anggota Paskibra Pematangsiantar di Pondok Buluh, Kabupaten Simalungun tahun 2013 yang menewaskan tujuh pelajar, Tommy termasuk salah seorang korban luka.

“Saya ada di bus itu. Kalau ingat kejadian itu, saya sedih dan merinding,” kenang Tommy, yang akhirnya gagal menjadi anggota Paskibra Pematangsiantar karena jadwal latihan dan seleksi berbenturan dengan jam sekolah.

“Kita diminta datang jam satu siang. Padahal pulang sekolah sudah jam dua. Belum lagi saya harus menunggu angkutan untuk menuju tempat seleksi. Jadi saya gagal. Padahal saya yakin, kalau saya lolos, orangtua di kampung pasti sangat bangga,” sebut Tommy yang sejak kecil suka dengan kegiatan baris-berbaris.

Karena suka baris-berbaris, awalnya Tommy bercita-cita menjadi polisi. Sehingga begitu lulus SMK tahun 2015, dia sempat menyiapkan berkas-berkas untuk mengikuti seleksi penerimaan anggota Polri. Hanya saja, ketika ia mendatangi lokasi pendaftaran, ada oknum polisi yang malah menyarankan agar Tommy mendaftar di kampung halamannya, di Nias.

“Ada polisi yang menyuruh saya mendaftar saja di Nias. Karena saya suku Nias, peluang lulusnya besar. Akhirnya saya nggak jadi mendaftar. Kalau harus pulang ke Nias, berapa lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk transportasi,” sebut pria yang akhirnya mengubur cita-citanya menjadi polisi.

Saat itu, Tommy tidak terpikir untuk melanjutkan pendidikannya ke bangku perkuliahan. Yang diinginkannya, mencari pekerjaan secepatnya. Apalagi, adik bungsunya juga baru lulus SMP. Tommy ingin adiknya juga bisa tetap bersekolah.

Tommy pun melamar pekerjaan sebagai salesman perabotan rumah tangga. Ia harus door to door ke beberapa daerah di Kabupaten Simalungun, terutama di perumahan karyawan perusahaan perkebunan. Di awal bekerja, Tommy bingung. Tak banyak yang bisa dilakukannya. Alhasil, gaji pertamanya hanya Rp162.500.

“Gaji itu saya kasih ke kakak yang selama ini membiayai sekolah saya. Tapi kakak saya tidak menjatuhkan mental saya. Dia support dan meyakinkan saya untuk bekerja lebih giat,” ujar Tommy, yang sejak SMP ngefans dengan aktris Tommy Kurniawan, sehingga teman-temannya lebih suka memanggilnya dengan nama Tommy. Apalagi di Siantar, katanya, orang-orang merasa asing dan sulit menyebutkan nama aslinya.

Tak ingin hanya memeroleh gaji sedikit, Tommy semakin giat bekerja. Dia mulai belajar berkomunikasi dalam menawarkan dagangannya. Hingga hanya dalam beberapa bulan, omzet penjualannya sudah melebih target. Gaji yang diterimanya pun berlipat-lipat, plus bonus.

“Untuk yang baru beberapa bulan lulus SMK, gaji saya saat itu sudah sangat besar. Makanya, saya memberanikan diri untuk membiayai sekolah adik bungsu saya ke SMA. Sekarang adik saya sudah lulus SMA dan bekerja di salah satu pusat perbelanjaan di Siantar, dengan gaji yang sudah bisa memenuhi kebutuhannya sendiri,” beber Tommy lagi.

Saat bekerja sebagai salesman, Tommy mencoba peruntungan lain. Ia melamar pekerjaan di salah satu perusahaan mini market. Diakui Tommy, lamaran pekerjaan itu dikirimnya saat gajinya sebagai salesman belum besar. Ia baru dipanggil oleh perusahaan mini market itu, dua bulan kemudian, ketika Tommy dalam kondisi menikmati pekerjaannya sebagai salesman.

Tommy bingung. Ia tergoda untuk memilih perusahaan mini market yang ketika itu sedang gencar-gencarnya menambah gerai di mana-mana. Akhirnya, ia memenuhi panggilan dari perusahaan itu. Kepada tempat bekerjanya yang lama, Tommy jujur. Tentu saja pimpinannya keberatan. Bahkan Tommy sempat ditawari kenaikan gaji dan jabatan. Tapi Tommy berpikir, dia mulai lelah bekerja di lapangan dan mengejar target.

Tommy resign. Ia memilih pekerjaan baru yang mengharuskannya mengikuti training di Medan, kota yang sama sekali belum pernah didatanginya. Di Medan, ia mengikuti seleksi lanjutan. Hingga kemudian ia dinyatakan sebagai lulusan terbaik.

Mereka yang lulus seleksi, langsung menerima penempatan di gerai mana bertugas. Teman-temannya bisa langsung penempatan dan mulai bertugas. Tapi tidak dengan Tommy. Ternyata, ia belum memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP). Padahal, salah satu syarat untuk penempatan tugas adalah KTP.

Tommy terpaksa kembali ke Pematangsiantar tanpa surat penempatan tugas. Ia masih harus melengkapi syarat KTP. Apa daya, ia kesulitan mengurus KTP. Ada saja hal yang membuat ia terbentur saat mengurus KTP. Untunglah, ada seorang teman abangnya yang kemudian membantunya memeroleh KTP. Jadilah Tommy resmi sebagai karyawan di mini market tersebut hingga saat ini.

“Nggak banyak orang yang tau saya berstatus karyawan tetap di mini market itu. Sehingga ada saja yang menawari saya pekerjaan di luar MC,” tambah Tommy.

Sempat setahun ‘menganggur’, di tahun 2016 Tommy yang penghasilannya dianggap mencukupi, mulai memikirkan kelanjutan pendidikannya. Ia menjadi mahasiswa di Politeknis Bisnis Indonesia Murni Sadar Pematangsiantar. Jadi, sambil bekerja sebagai karyawan, menerima job MC, dan lainnya, Tommy juga kuliah. Tak sia-sia, ia sudah lulus dan akan wisuda 5 Oktober mendatang.

Masih kata Tommy, ia mulai menjadi MC di acara-acara komersil, di tahun 2016. Sebelumnya, ia sempat mencoba menjadi penyiar radio dan berkenalan dengan seniornya yang juga MC kondang di Pematangsiantar, Anca Damanik. Anca lah yang memberikan job MC kali pertama kepadanya.

“Waktu itu acara nonton bareng pertandingan sepakbola Euro di salah satu kafe di Jalan Pattimura Pematangsiantar. Orang-orang di kafe itu rata-rata dari kalangan menengah ke atas. Aduh, saya benar-benar grogi. Saya sendiri yakin saat itu penampilan saya tidak maksimal. Waktu itu honor saya Rp140 ribu,” cerita Tommy, yang juga sempat masuk ke dunia modeling di tahun 2015.

Sejak itu, Tommy yang sempat menjadi finalis ajang pencarian bakat Rising Star di Medan International Convention Centre (MICC) ini, banyak belajar secara otodidak. Ia memerhatikan bagaimana para seniornya saat membawakan acara. Juga dari Youtube.

“Kalau ada event, yang saya perhatikan itu MC-nya. Saya lihat Bang Anca, Bang Juju, Kak Ika, Bang Daniel, dan lainnya,” sebut Tommy yang juga hobi dancing ini. Bahkan, ia bersama grup dance-nya meraih juara 2 Lomba Goyang Rp1 XL yang digelar perusahaan operator seluler XL bersama Metro Siantar tahun 2017 lalu.

Kini, Tommy mulai banyak menerima job MC. Biasanya, sebelum mulai bekerja, Tommy selalu menelepon ibunya di Nias. Ia mohon doa restu kepada ibunya agar bisa sukses membawakan acara.

“Saya yakin dengan kekuatan doa keluarga, terutama ibu,” tandas Tommy yang juga aktif di Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) ini.

Ke depan, Tommy yang ditinggal sang ayah untuk selama-lamanya pada 14 Februari 2016 ini, ingin melanjutkan pendidikannya hingga meraih Sarjana Strata Satu (S-1). Juga ingin menjadi MC di acara konser besar.

“Ya, saya sangat ingin MC di panggung besar. Impian lainnya, ingin hijrah ke Jakarta dan berkarir di sana. Apalagi banyak kawan yang mengajak. Tapi sepertinya, saya ingin kuliah dulu lah dan terus terima job MC di sini,” ujar Tommy yang untuk kebugaran tubuhnya biasanya jogging di hari Minggu dan berenang seminggu sekali. (awa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button