Lifestyle

Suci Kebaya Termotivasi Ingin Jahit Baju Orangtua

Sejak remaja, Suci Kebaya memiliki cita-cita sederhana, tapi mulia. Ia ingin bisa menjahitkan baju untuk ayah dan ibunya. Cita-cita itulah yang mengiringi langkahnya setelah lulus dari pondok pesantren, masuk ke SMK Negeri 3 Pematangsiantar jurusan tata busana.

Setelah bisa menjahit pakaian kedua orangtuanya, wanita bernama lengkap Sri Warsuci ini justru memilih untuk fokus menjahit khusus kebaya.

“Menjahit kebaya itu lebih menantang. Selain modenya terus berkembang, cara menjahitnya pun lebih rumit,” terang Suci yang membuka usahanya di lantai 2 gedung I Pasar Horas Pematangsiantar.

Suci mengatakan, setelah lulus dari SMK, sekitar tiga bulan kemudian ia menikah. Praktis, sejak itu ia menjadi ibu rumah tangga.

Ia mulai merintis usaha sesuai keahliannya saat anak keduanya berusia 4 tahun dan putri sulungnya 7 tahun. Awalnya, ia sempat bekerja di usaha menjahit orang lain. Namun hanya bertahan sekitar sembilan bulan.  Selanjutnya ia memilih membuka usaha sendiri.

“Usaha saya ini sudah 10 tahun. Pertama dulu, saya sewa tempat di gedung II (Pasar Horas). Lalu beli dua kios di gedung II. Kemudian, barulah beli 2 kios di gedung I,” jelas Suci yang kini usahanya menggunakan lima kios, yang tiga di antaranya dikontrak.

Diakui Suci, meski banyak kompetitor atau pesaing usaha sejenis, namun ia yakin rezeki sudah ada yang mengatur. Terbukti, pesanan jahitan selalu membludak, khususnya menjelang akhir tahun.

“Tahun lalu, bulan Oktober saya sudah close order. Tahun ini, ya masih agak longgar. Nggak apa-apa. Saya malah jadi punya waktu untuk bersilaturahmi,” tukas ibu tiga anak ini, yakni Wiwin Anggrianingsih (17), Danu Ferdiansyah (14), dan Bianca Almaira Khanza (5).

Di tengah kompetisi yang cukup ketat, Suci yang ditinggal suaminya untuk selama-lamanya sekitar 1 tahun 6 bulan lalu, memegang pesan yang disampaikan pelanggannya. Pesan itu sampai sekarang selalu diingatnya.

“Kata inang itu, Suci, rapikan kerjamu, dan tepati janjimu. Pesan itu terus saya ingat dan saya jalankan,” tukas Suci, yang jika memang tidak mampu memenuhi deadline dari pelanggan, lebih baik menolak orderan.

Masih kata Suci, para pelanggannya beragam. Ada yang membawa contoh desain sendiri, dan kemudian didiskusikan. Ada juga yang datang tanpa membawa contoh desain. Jika seperti ini, biasanya Suci dan pelanggan sama-sama mencari mode yang cocok, biasanya dari media sosial Instagram.

Setelah deal, bahan kebaya yang dibawa pelanggan langsung diberi nama. Selain itu, Suci mencatat secara detail tentang pelanggan tersebut, yakni nama, nomor handphone, dan rincian mode kebaya yang dipesan.

Buku tersebut, sambungnya, disimpan di laci lemari di kios. Suci kapok membawa-bawa buku tersebut.

“Nggak mau lagi saya bawa-bawa buku ini, termasuk ke rumah. Dulu sempat saya bawa ke rumah. Ternyata di jalan saya dirampok. Hilang semua, termasuk buku ini,” tandas Suci yang saat itu, sudah pasrah jika ada pelanggan yang marah karena hilang semua data.

Syukurnya, lanjut istri dari almarhum Dedi Susanto ini, para pelanggan bisa memahami kondisinya.

“Mereka datang, diukur ulang, dan merinci lagi mode kebayanya,” sebut Suci yang kini memekerjakan 16 karyawan di kios dan 25 orang di rumah khusus untuk mengerjakan payet.

Masih kata Suci, kliennya juga ada yang dari luar Kota Pematangsiantar. Mereka, sebenarnya berasal dari Pematangsiantar namun bekerja di luar kota. Jika mereka akan menikah di Pematangsiantar, biasanya hanya beberapa hari sebelum hari H baru pulang kampung.

Jadi, mereka menelepon Suci dan membicarakan mode kebaya yang diinginkannya. Bahkan, ada yang meminta Suci memilihkan bahannya.

“Ada juga yang mengirimkan bahan melalui jasa titipan. Juga mengutus keluarganya ke sini mengantarkan bahannya. Beberapa hari sebelum hari H, mereka datang ke sini tinggal fitting,” sebut Suci yang menganggap para karyawannya sebagai keluarga sendiri.

Suci juga menerima modifikasi kebaya dan juga untuk mengerjakan payet. Tak jarang, perantau asal Pematangsiantar datang membawa kebaya yang sudah selesai khusus untuk dipayet. Suci biasanya memerhatikan mode dan cara menjahit kebaya tersebut.

“Pernah ada yang bawa kebaya yang sudah dijahit di Jakarta. Saya perhatikan, tidak ada jahitan antara bahu dan lengan. Saya perhatikan dan bolak-balik kebaya itu. Dan saya pun langsung tahu bagaimana cara menjahitnya,” papar Suci yang mengaku putri sulungnya saat ini tidak berminat dalam bidang menjahit.

Setiap hari bergelut dengan bahan kebaya dan berbagai mode, Suci tentu saja terkadang merasa lelah. Jika sudah seperti itu, Suci biasanya jalan-jalan seorang diri.

“Ya menyenangkan diri sendiri, kadang beli tas, sepatu. Kalau memang ingin ke Medan, saya pergi aja sendiri, nyetir mobil sendiri,’ ujar Suci yang memang hobi berjalan-jalan.

Suci masih memiliki impian untuk mendesain ulang tempat usahanya agar lebih nyaman, termasuk untuk pelanggan yang datang. (awa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button