Lifestyle

Sriyanti Bell Jatuh Cinta dengan Nail Art karena Suami

FaseBerita.ID – Kuku yang panjang, rapi, cantik, dan berhias aneka aksesori atau lukisan, tentunya memberikan kesan perfect pada penampilan seorang wanita. Wordrobe ok, make up cetar, tapi bila penampilan kuku biasa-biasa saja, seperti ada yang kurang.

Kondisi kuku yang kurang cantik itulah yang sering dikeluhkan suami Sriyanti Bell, yakni George Bell. Pria berkebangsaan Scotlandia itu memang selalu memuji penampilan istrinya. Hanya satu yang kerap diprotesnya.

“Kuku saya rapuh, jadi mudah patah. Sulit dipanjangkan. Nah, suami saya ingin kuku saya juga harus cantik, terutama kalau menghadiri pesta-pesta,” terang alumni SMK Ekonomi Taman Siswa Pematangsiantar ini.

Setelah diprotes suami, Sriyanti yang menyukai tantangan, mulai mencari informasi segala hal tentang kuku. Termasuk bagaimana mempercantik kuku.

“Dulu, paling-paling saya hanya pakai kutex (cat kuku), tapi gampang sompel dan saya sendiri geram melihatnya,” tukas sulung dari empat bersaudara ini.

Sriyanti mulai rajin berselancar di sejumlah situs internet, termasuk YouTube. Hingga kemudian dia tahu ada nail extension, yang bukan sekadar menggunakan kuku tempelan.

Sriyanti mencari salon kecantikan yang bisa melakukan nail extension. Namun saat itu, sekitar empat tahun lalu, sulit menemukannya. Bahkan, salon yang ada di Jakarta belum bisa. Tak putus asa, Sriyanti terus berburu nail extension.

Hingga kemudian, saat ia mengunjungi mertuanya di Scotlandia, kebetulan teman suaminya memiliki home studio khusus untuk kuku. Tak menyia-nyiakan kesempatan, selain mempercantik kukunya sendiri, Sriyanti mulai belajar nail art, termasuk mengikuti kursus singkat.

Selebihnya, selama sekitar 2-3 bulan, putri dari pasangan suami istri Tandra dan Jenny ini belajar otodidak dan sharing dengan teman suaminya.

Sriyanti terus mencari informasi tentang nail art. Hingga kemudian dia berkenalan dengan seorang pakar nail art dari Rusia.

“Saya belajar secara online dengan guru dari Rusia. Ya, saya sudah benar-benar jatuh cinta dengan nail art,” tukas perempuan yang sempat bekerja sebagai finance manager di di Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur itu.

Menurut alumni STMIK-STIE Mikroskil Medan ini, dalam memelajari dan menekuni nail art, tidak cukup hanya dari seorang guru. Sebab, bagaimanapun pasti ada trik yang tidak akan dibagi kepada muridnya.

“Jadi harus ada banyak guru, dan tentunya ada trik atau teknik yang bisa diperoleh dari pengalaman,” sebut Sriyanti yang melayani klien nail art di kediamannya di kawasan Jalan Panyabungan, Kelurahan Timbang Galung, Kecamatan Siantar Barat, Pematangsiantar ini.

Setelah menekuni nail art, Sriyanti tidak lantas berpuas diri. Ia pun sudah tergabung di dua grup nail art internasional yang berpusat di Inggris dan Rusia. Sriyanti sendiri, pernah meraih juara pertama kompetisi yang digelar dua grup tersebut.

“Kompetisinya online. Kita mengirim video atau foto yang menunjukkan tahap-tahap pengerjaan nail art,” ungkap Sriyanti yang memeroleh hadiah voucher, aksesoris kuku, serta perlengkapan dan peralatan nail art dari kompetisi tersebut.

Sriyanti tidak pelit berbagi tentang kesehatan kuku. Menurutnya, kuku sejelek apapun bisa menjadi cantik asalkan mengetahui teknik nail art.

“Kutikula kuku harus dibersihkan agar hasil nail art rapi dan cantik,” tandas Sriyanti seraya menambahkan, ada banyak klien-nya yang rutin datang untuk mengganti-ganti nail art. Malah ada yang datang dua minggu sekali.

Diakui Sriyanti,  nail art bisa dilakukan untuk diri sendiri, berbeda jika ia menekuni bidang yang memercantik alis atau bulu mata.

“Saya bisa lakukan nail art untuk diri sendiri. Coba kalau untuk alis atau bulu mata, kan sulit. Saya kerjakan kuku saya pelan-pelan sambil santai,” sebut Sriyanti yang sempat bercita-cita menjadi fashion designer.

Namun Sriyanti mengingatkan, jika kuku telah panjang dan cantik, jangan sampai menelantarkan pekerjaan rumah tangga. Sriyanti sendiri, meski kukunya telah cantik dan lentik, jika suami sedang berada di rumah dan meminta dirinya memasak, maka tanpa canggung dia akan memasak makanan kesukaan sang suami.

Yang penting, tetap hati-hati. Jangan sampai karena kuku telah cantik, eh pekerjaan rumah berantakan. Kalau seperti itu, suami pasti protes,” sebut Sriyanti yang juga pecinta Anjing ini.

Sriyanti juga mengingatkan agar konsumen lebih berhati-hati menggunakan produk kecantikan, khususnya untuk kuku. Katanya, jangan mau menggunakan produk yang mengandung MMA. Selain itu, alat yang digunakan harus steril.

“Biasanya di kemasan suatu produk kan ada tertulis kandungan produk tersebut. Hindari yang mengandung MMA. Kita harus waspada dengan bahan-bahan berbahaya. Sebab bisa menyebabkan kuku asli terkelupas atau kuku kuning berjamur. Saya sendiri, biasanya menggunakan produk yang saya beli untuk diri sendiri dulu. Jika memang ok, barulah saya gunakan untuk klien. Kalau menurut saya tidak bagus, tidak saya gunakan lagi. Saya mengutamakan kualitas, dan menjaga nama baik saya,” terang Sriyanti yang hobi menyanyi, menari, dan menikmati cocktail ini.

“Saya selalu mencoba segala jenis cocktail di setiap restoran, bar, atau kafe yang saya kunjungi di berbagai negara, termasuk cocktail di Restaurant Gordon Ramsay di London,” aku Sriyanti, yang sejak menikah hobi menyanyinya telah ditinggalkan.

Sriyanti pun bertekad tetap melanjutkan pekerjaan nail art, karena ia memang menikmatinya. Meski sempat terpikir membuka studio khusus nail art, namun banyak yang harus dipertimbangkan, termasuk waktu di luar rumah.

“Kalau ada studio, saya harus lebih banyak di sana. Padahal saya sebenarnya lebih suka di rumah. Saya jarang ke luar rumah. Kalau keluar, ya sama suami atau teman dekat. Tapi kan teman juga punya kesibukan. Di rumah, saya ditemani Anjing kesayangan saya, Angel,” katanya, dan menambahkan jika keluar rumah pun ia kerap membawa Angel, termasuk saat liburan seperti ke Medan atau Samosir.

Untuk memanjakan klien dan menarik klien, Sriyanti terkadang membuat kuis di media sosial. Hadiahnya, macam-macam. Misalnya parfum, lotion, atau voucher nail art.

“Ya, untuk have fun aja ya. Sekalian berbagi,” ujarnya, yang memiliki prinsil jika ada kemauan, pasti bisa. (awa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button