Lifestyle

Sari Dulu Gadis Tomboy Kini Eksis di MUA

Gadis tomboy yang kerap berpenampilan polos dan apa adanya. Begitulah penampilan Sari dulunya. Ditunjang hobinya berolahraga dan cita-cita menjadi Polisi Wanita (Polwan), membuat kesehariannya lebih banyak berteman dengan laki-laki.

Namun kini semua jauh berbeda. Selain penampilannya yang lebih feminim, Sari pun berkarir di dunia kecantikan yang identik dengan kaum Hawa.

Perubahan pada diri pemilik Sari Mam Salon di Jalan Lapangan Bola Bawah Simpang Siabal-abal Pematangsiantar ini, berawal dari diajaknya ia menjadi model penata rias pengantin.

Sering dirias dan mengenakan pakaian ala pengantin, malah membuat Sari terobsesi ingin menjadi perias pengantin.

Di tahun 2008, Sari mulai belajar tata rias. Awalnya ia belajar di Frida Salon, di Rambung Merah, tempat ia sering menjadi model pengantin. Selain itu, Sari rajin mengikuti pelatihan, seminar, bahkan perlombaan. Setelah kemampuannya dirasakan mumpuni, Sari yang saat itu masih gadis, sudah mulai menerima orderan, termasuk untuk pengantin.

“Meski belum pernah menjadi pengantin, saya sudah merias pengantin. Yang penting kan sudah paham tekniknya. Saya yang tadinya sering dirias saat menjadi model pengantin, beralih menjadi tukang riasnya,” tutur alumni SMA Erlangga Pematangsiantar ini.

Sulung dari tiga bersaudara ini pun menganggap menjadi penata rias atau Make Up Artist (MUA) sebagai dunianya. Ia merasa sudah nyaman dengan profesi ini.

“Ya, di sini lah saya sekarang. Saya tidak menyesal meskipun cita-cita saya menjadi Polwan tidak tercapai. Saya sudah menikmati profesi ini,” sebut Sari yang sempat vakum dari dunia MUA setelah melahirkan putra pertamanya.

Setelah putranya berusia dua tahun, Sari kembali aktif. Bahkan saat hamil anak kedua, sama sekali tidak mengganggu aktivitasnya.

Menjadi MUA pengantin, lanjut wanita yang lahir 10 Februari 1987 ini, tentu saja ada suka dan duka, meskipun tidak dipungkiri lebih banyak sukanya. sukanya, ia bisa bertemu dan merias wanita-wanita dari berbagai kalangan, termasuk pejabat dan istri para pejabat.

Sebut saja, istri Walikota Pematangsiantar Nyonya Syahputri Hefriansyah Boru Hutabarat, istri Kapolres Pematangsiantar Nyonya Budi Pardamean Saragih, istri Kapolres Simalungun Nyonya Heribertus Oppusunggu, dan beberapa istri pejabat lainnya.

“Tapi saya menerima orderan tidak melihat statusnya. Tidak harus istri pejabat. Semua saya terima asalkan ada kecocokan,” jelas ibu dua putra ini, Muhammad Ade Mulya (9) dan Muhammad Aditya Mumtaz (3).

Sedangkan dukanya, lanjut Sari, pernah ia menerima orderan di salah satu nagori (desa) di Kabupaten Simalungun. Ternyata lokasinya cukup jauh dari jalan raya, harus melewati perkebunan yang sepi. Yang membuat panik, jaringan operator telepon seluler di sana sangat buruk. Sehingga sulit untuk berkomunikasi dengan calon pengantinnya saat mereka masih di perjalanan menuju lokasi.

“Aduh… padahal waktu terus berjalan. Kami takut terlambat sampai di lokasi. Kalau sampai terlambat, bakal berantakan semua,” sebut Sari yang berencana mengoleksi pakaian pengantin daerah, terutama untuk suku-suku yang ada di Pematangsiantar.

Meski sudah terkenal sebagai MUA, namun Sari tidak lantas berpuas diri. Ia mengaku masih harus terus belajar dan mengikuti perkembangan tata rias. Tidak boleh terlena dengan kondisi saat ini. Kebetulan sang suami, Komaruddin, sangat mendukung profesi Sari.

Masih kata Sari, selain orangtuanya, teman-temannya di masa sekolah merasa takjub dengan pencapaian yang telah diraihnya. Mereka sama sekali tidak menyangka Sari bisa eksis sebagai MUA. Terutama teman-teman sekolahnya, mengingat dulunya Sari merupakan garis tomboy.

“Tapi meski tomboy, sejak SMP saya sebenarnya sudah mulai tertarik dengan bidang kecantikan. Waktu itu, saya sudah bisa memangkas rambut teman-teman. Padahal saya tidak pernah belajar. Otodidak aja,” tandas Sari seraya menambahkan, orangtuanya justru tahu pencapaian Sari dari orang lain dan keluarga besar, termasuk klien-klien Sari yang merupakan orang terkenal.

“Orangtua saya kan nggak punya akun media sosial. Padahal saya biasanya selalu posting di media sosial, nggak pernah melapor sama mereka,” tambahnya. (awa)



Unefa

Pascasarjana
Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close