Lifestyle

Santi Rohdearni Panjaitan Muda, Cerdas, dan Mandiri

FaseBerita.ID – Usianya relatif muda, namun Santi Rohdearni Panjaitan sudah menjadi dosen sekaligus akuntan. Gadis berusia 25 tahun ini sudah hidup mandiri sejak kedua orangtuanya meninggal dunia.

Santi ditinggal ayah, almarhum Muller Panjaitan BA untuk selama-lamanya di tahun 2011 saat ia masih duduk di kelas 2 SMA, di usia yang terbilang masih belia. Sedangkan ibunya, almarhumah Mesnah Purba, menghadap Illahi ketika Santi masih kuliah Strata Dua (S-2), tahun 2018.

“Bapak meninggal karena kecelakaan lalu-lintas. Sedangkan mama karena sakit sejak tahun 2014,” terang Santi yang kuliah S-1 di Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (USU) Medan jurusan akuntansi, dan kuliah S-2 di kampus yang sama.

Sepeninggal ibunya, Santi seorang diri di keluarga inti. Sebab abangnya, Putra Ansari Panjaitan yang berprofesi sebagai Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) bertugas di Bandung.

“Ada memang keluarga. Di Medan pun saya tinggal dengan nenek (opung)  dari pihak ibu,” tukas alumni SMA Negeri 3 Pematangsiantar ini.

Santi menuturkan, setelah wisuda S-1 di tahun 2016, ia sempat bekerja di salah satu lembaga survei nasional selama enam bulan. Setelah itu, ia bekerja di kantor akuntan publik di Medan.

Nah, saat itu tahun 2016, ibu yang sudah sakit meminta Santi untuk kuliah S-2.  Sang ibu yang berprofesi sebagai guru di SMP Negeri 9 Pematangsiantar sangat ingin putri kesayangannya itu melebihi dirinya, baik secara akademik maupun profesi.

“Mama kan S-1. Dia ingin saya minimal S-2. Terus, mama guru dan ingin saya jadi dosen,” tukas dara yang lahir 1 Oktober 1994 itu.

Santi sempat galau saat akan memulai kuliah S-2. Sebab saat itu ibunya membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit. Apalagi harus dibawa berobat ke Penang, Malaysia.

“Tapi itulah, mungkin karena saya berniat membahagiakan mama, entah mengapa ada saja rezeki. Sehingga saya tidak pernah minta uang kuliah dari mama,” ujar Santi yang mengaku sering diminta membantu teman kuliahnya untuk mengerjakan tugas, mengingat saat itu ia yang termuda di kelas.

Belum selesai kuliah S-2, Santi diminta salah satu kampus di Pematangsiantar untuk menjadi dosen. Santi pun berkarir di kampus itu hingga hampir tiga tahun. Di tahun 2019, dan sekarang santi juga fokus sebagai auditor dan di lembaga penelitian, serta menulis jurnal ilmiah.

Semasa sekolah, Santi memang berprestasi. Ia mewakili SMA Negeri 3 untuk mengikuti Olimpiade Ekonomi Akuntansi tingkat Kota Pematangsiantar.

“Saat itu saya dan teman saya meraih juara 2,” tukas gadis berhijab yang merupakan anggota Paskibraka Pematangsiantar tahun 2011.

Selanjutnya, Santi yang hobi menulis dan travelling, masuk USU dari jalur undangan (siswa berprestasi). Masih di semester 2, Santi sudah menerima beasiswa untuk mahasiswa berprestasi dari Bank Indonesia. Sehingga Santi tergabung dalam Generasi Bank Indonesia (GenBI)

Bisa lulus S-2 di usia muda namun sudah tidak memiliki kedua orangtua, tak ayal membuat Santi menangis saat usai sidang tesis dan wisuda. Apalagi, ia yang termasuk wisudawati berprestasi (predikat cum laude) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,7 sebenarnya berhak didampingi orangtua saat di tempat duduk menunggu prosesi wisuda.

“Sebenarnya saat itu saya ingin bilang, ‘Ma, keinginanmu agar saya S-2 sudah tercapai. Mama lihat nggak?,” kenang Santi, yang tak mampu membendung air matanya.

Ke depan, Santi yang semasa kuliah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HMA) ingin menjadi dosen tetap di salah satu perguruan tinggi. Juga membuka kantor akuntan di Pematangsiantar, kota kelahirannya. Sekaligus, ia ingin lebih membuka mindset warga di Pematangsiantar bahwa profesi akuntan atau sering di sebut auditor itu penting untuk jangka panjang.

“Kalau mau jadi auditor haruslah kuliah jurusan akuntansi,” tambah wanita muda ini. (*)

Universitas Simalungun  
Tags

Berita lainnya

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close