Lifestyle

Ririn Fatma Tampubolon Paskibraka, Kuliah, dan Protokol

Wajah manis Ririn Fatma Tampubolon sering terlihat di acara-acara formal yang digelar Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar. Gadis berhijab ini biasanya memandu acara atau kerap disebut protokol.

Debut gadis berhijab ini sebagai protokol di lingkungan Pemko Pematangsiantar memang belum lama. Baru sekitar setahun lebih. Ririn sendiri menyadari ia masih harus banyak belajar.

Sehari-hari Ririn tercatat sebagai pegawai honor di Pemko Pematangsiantar, tepatnya di Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (sebelumnya bernama Bagian Humas dan Protokoler). Namun Ririn juga terdaftar sebagai salah satu mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Simalungun (USI).

“Kalau pagi Ririn tugas di Pemko Siantar. Kuliahnya ambil kelas malam,” sebut perempuan kelahiran 2 Juni 2000 ini.

Ririn sendiri merupakan anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) tahun 2016. Sebagai anggota Paskibraka yang bertugas saat upacara penaikan bendera di Lapangan Merdeka Medan, Ririn mendapat posisi istimewa. Ia menjadi pembawa baki bendera.

“Ririn langsung menerima bendera dari inspektur upacara, saat itu Gubernur Sumatera Utara Bapak Tengku Erry Nuradi,” jelas dara pemilik tinggi badan 169 centimeter ini.

Lebih lanjut dikatakan Ririn, sejak masih duduk di bangku SMP Negeri 1 Pematangsiantar, ia sudah aktif di gerakan Pramuka. Namun saat masuk ke SMA Negeri 5 Pematangsiantar, Ririn memilih fokus di kegiatan Paskibraka.

Diakui Ririn, ia memang sangat ingin menjadi anggota Paskibraka. Apalagi, ia begitu terkesima melihat anggota Paskibraka Kota Pematangsiantar saat mengikuti latihan di Lapangan H Adam Malik.

Namun ternyata, Ririn tak sekadar anggota Paskibraka Kota Pematangsiantar. Ia melaju lolos ke tingkat Provinsi Sumut. Bahkan ia berkesempatan mengikuti seleksi Paskibraka Nasional di Cibubur.

“Kami dua pasang dari Sumut dikirim untuk mengikuti seleksi nasional. Tapi bukan saya yang lolos. Saat itu saya sempat sedih dan menangis,” jelas anak kedua dari tiga bersaudara buah hati pasangan suami istri Baharuddin Tampubolon dan Rosmawati Sirait ini.

Meski gagal ke tingkat nasional, Ririn tetap bersyukur bisa tetap bertugas di tingkat Sumut. Apalagi, katanya, sangat banyak pengalaman yang diperolehnya saat menjalani masa karantina selama hampir sebulan saat itu.

Di antaranya, memiliki banyak teman yang berasal dari seluruh kabupaten/kota di Sumut.

“Juga teman dari provinsi lain saat mengikuti seleksi Paskibraka Nasional. Sampai saat ini kami masih menjalin komunikasi. Bahkan kalau ada teman yang datang ke Siantar, selalu menghubungi saya,” tambahnya.

Pengalaman lainnya, disiplin yang sangat ketat saat karantina. Juga pengarahan-pengarahan yang diberikan berbagai pihak.

“Saat karantina, setelah makan malam kami masuk ruangan. Lalu ada yang memberikan pengarahan dan motivasi. Misalnya dari Dinas Pemuda dan Olahraga Sumut,” kenang wanita yang hobi berenang, membaca novel, dan menonton drama Korea ini.

Di Pemko Pematangsiantar, Ririn ditempatkan di Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan. Tugas Ririn, lebih ke bidang protokoler. Ia ditempa menjadi protokol. Meski mengaku pendiam dan pemalu, Ririn tertantang dengan tugas tersebut.

“Saat kali pertama diberi tugas sebagai protokol, benar-benar jantungan. Itu masih acara di dalam ruangan. Lebih jantungan lagi saat tugas pertama di lapangan upacara. Waktu itu peringatan Hari Korpri tahun 2018,” cerita Ririn yang menyimpan seragam Paskibraka dengan baik.

Sebagai remaja, Ririn sangat berharap seluruh warga menjaga toleransi di Kota Pematangsiantar. Jangan sampai muncul konflik SARA di kota ini.

“Siantar kan termasuk salah satu kota paling toleransi di Indonesia. Jadi mari sama-sama kita jaga,” ajaknya. (awa)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close