Lifestyle

Ratih Fhaira Belajar Henna Art Tunggu Anak Tertidur

Setelah resign dari pekerjaan dan melahirkan anak pertama, Ratih Fhaira berpikir untuk memiliki aktivitas yang bisa menghasilkan uang. Teringat saat akan menikah sulit menemukan henna artist di Pematangsiantar, Ratih pun berpikir untuk menekuni henna art.

Ratih pun mulai berselancar di internet. Setiap malam, setelah anaknya tertidur, Ratih mulai belajar henna art. Ia melukis tangan kirinya sendiri. Tak jarang, suaminya, Hendra Syahputra, marah. Sebab Ratih yang baru sekitar dua bulan melahirkan seharusnya banyak istirahat.

Namun Ratih tetap saja terus belajar. Di siang hari, biasanya anak-anak tetangga yang menjadi ajang dirinya belajar henna art.

“Namanya anak-anak pasti senang tangannya pakai henna. Padahal saat itu, bentuknya belum sempurna. Karena saya juga masih belajar,” sebut ibu seorang putri ini, Aila Varisha Rafanda.

Ketekunan Ratih tak sia-sia. Akhirnya ada keluarga yang hendak menikah, memintanya untuk menjadi henna artist. Sejak itu, orderan pun mulai berdatangan.

“Rata-rata klien tahu saya dari media sosial,” tukas perempuan berhijab yang tinggal di Jalan Nagur Gang Manunggal Pematangsiantar ini.

Ratih biasanya datang ke rumah klien yang merupakan calon pengantin, diantar dan dijemput suami. Jika rumah klien cukup jauh, sang suami setia menunggu.

“Seperti ke Batu Silangit Kabupaten Simalungun. Kebetulan malam kami ke sana. Rupanya rumah calon pengantin cukup jauh dari jalan raya. Harus melintasi perkebunan karet. Untungnya saat pulang, diantar keluarga klien hingga tiba di kawasan pemukiman. Sampai rumah sekitar jam dua dinihari. Itu jadi pengalaman,” ujar alumni SMA Taman Siswa Pematangsiantar ini lagi.

Orderan terus berdatangan. Hampir setiap minggu ada saja orderan yang diterimanya. Bahkan pernah, dalam sehari ia mengerjakan enam orderan. Syukurnya, sambung Ratih, lokasinya searah.

“Waktu itu, kliennya di sekitar Beringin, Karangsari, dan Jalan Rakutta Sembiring. Semuanya nyaris searah, makanya saya mau terima. Sampai di rumah, jari saya kram. Tapi tetap senang,” terang wanita yang bergabung di grup Facebook Henna Indonesia, sehingga bisa mengikuti perkembangan henna art.

Jika untuk henna merah Ratih mengerjakannya sehari sebelum acara, tidak demikian halnya dengan henna putih (white henna). Untuk white henna, harus dikerjakan di hari yang sama dengan acara. Jika akad nikah digelar sekitar pukul 08.00 pagi, maka white henna harus mulai dikerjakan sekitar pukul 05.00.

“Pernah ada klien white henna di wilayah Serapuh, kami berangkat dari rumah jam empat pagi. Karena harus mengejar waktu. Apalagi pengerjaan white henna membutuhkan waktu lebih lama. Harus menunggu kering dan kemudian diberi glitter,” jelas Ratih, yang sempat bekerja di perusahaan distributor susu di Pematangsiantar.

Pemilik akun Facebook Ratih Fhaira Henna art ini lebih lanjut mengatakan, sebenarnya saat masih sekolah ia tidak hobi menggambar. Jika ada tugas menggambar, ia kerap meminta tolong teman-temannya.

“Nggak bisa menggambar di kertas, bisanya di tangan,” tukasnya bercanda.

Ratih mengaku memang suka dan senang dengan hal-hal yang berhubungan dengan pengantin. Sebelumnya, ia sempat menjalankan bisnis hantaran pengantin. Namun saat itu masih menggunakan keranjang. Sementara sekarang era-nya menggunakan kotak transparan.

“Sempat berhenti bisnis hantarannya. Tapi sekarang mau mulai lagi,” jelas Ratih yang juga menerima jasa pembuatan mahar pengantin.

Bungsu dari lima bersaudara ini melanjutkan, selain calon pengantin, ada juga klien yang meminta henna fun. Untuk henna fun, biasanya ramai menjelang Hari Raya Idul Fitri. Bahkan hingga malam Takbiran, ada saja klien yang datang ke rumahnya.

“Ada anak-anak, remaja, juga ibu-ibu yang ingin tampil beda saat Lebaran,” ujar Ratih yang juga ingin belajar nail art dan memiliki galeri ini. (awa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button