Lifestyle

Rahmat Rizki Bangga Boleh, Tapi Jangan Cepat Puas

FaseBerita.ID – Rahmat Rizki selalu berjuang dan pantang menyerah demi memenuhi kebutuhan keluarga serta meraih cita-cita anak. Apapun akan dia lakukan demi mensejahterakan keluarganya.

Pria kelahiran 1967 yang tinggal di Jalan Purba Ujung, Kelurahan Timbang Galung, Kecamatan Siantar Barat ini mengaku lahir di Medan dan Alumni SMA Medan Putri Jalan Gaharu.

“Saya pindah ke Siantar tahun 2006 sampai sekarang. Awalnya saya membuka usaha jual putu bambu,” ujarnya.

Dia kemudian memberi nama usaha itu Putu Bambu Erna yang terletak di Jalan Sutomo tepatnya di Simpang Siantar Square. Orang-orang atau pelanggan biasa menyebut nama usahanya itu Putu Bambu Siantar Square. Usaha ini sudah berjalan 10 tahun.

“Awalnya saya menggeluti usaha putu bambu karena dulu diajak sama abang ipar. Kalau abang ipar saya memang sudah dari kecil usaha seperti itu. Saya sudah nyaman dengan usaha ini. Dulunya saya sempat bekerja di konfeksi sebagai pengawas di Tanjung Mulia,” ujarnya.

Pria yang biasa dipanggil Rahmat ini bercerita suka dukanya berjualan. Terutama kalau harga bahan-bahan sembako mahal. Sementara harga putu bambu sama saja dari tahun ke tahun. Memang bahan-bahannya itu sederhana seperti kelapa, gula merah, pandan wangi, gula putih, dan beras diolah menjadi tepung.

“Tapi lihat kondisi untuk sekarang menaikkan harga cukup berat. Karena saya masih berpikir untuk tetap menjaga langganan saya agar tidak lari ke tempat lain,” terangnya karena ingin selalu menjaga pelanggannya.

“Kalau bicara sukanya sih ada. Pertama hasil dari jualan ini, Insyallah, sekarang saya sudah daftar haji dan umroh. Kemudian hasilnya juga saya sisihkan untuk membeli sebidang tanah. Yang penting saya tidak lupa bersyukur kepada sang pencipta. Kemudian jangan dulu merasa puas dengan hasil,” ucapnya.

Ia mengatakan, penikmat kue buatannya itu tidak hanya dari Siantar. bahkan, pembelinya ada dai Jakarta, dan Malaysia.

“Alhamdulillah mereka sudah menikmati kue kami walaupun mereka kebetulan singgah di Siantar,” tambahnya seraya mengatakan dia berencana akan buka cabang. Namun belum ada tempat yang cocok.

“Rencana ada, tapi masih terkendala di anggota. Karena untuk cari anggota kerja yang jujur itu sangat susah. Jadi anggota yang saya pakai saat ini ada empat dan itu bisa mengurangi angka pengangguran. Selanjutnya untuk perencanaan buka cabang usaha, itu masih dipikirkan,” ujar Rahmat.

“Harapan saya soal usaha makanan ini agar bisa maju dan berhasil tentu ada tiga hal yang kita jalankan. Yang pertama adalah dalam berjualan kuliner itu harus menjaga kebersihan, menyambut pembeli dengan ramah tamah walaupun hanya sebatas tanya tetapi tidak jadi beli, dan kue atau makanan yang kita jual itu harus benar-benar bisa dirasakan sama pembeli kita,” sebut Rahmat yang mulai buka usaha putu bambu dari pukul 04.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB.

Satu putu bambu dijual Rp1.000 per biji. Sementara untuk bahan, dalam sehari ia mampu menghabiskan 24 kg beras.

“Dulu enak buka usaha seperti ini. tidak seperti sekarang, saingan sudah banyak. Tapi aku percaya setiap orang sudah punya rezeki masing-masing,” ujarnya yang selalu menyisihkan waktu bermain dan berkomunikasi dengan keluarga terutama anak-anaknya. (Mag 04)

Unefa

Pascasarjana

Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close