Lifestyle

R Yanti Oktavia Simangunsong, Terpanggil Layani Anak Luar Biasa

FaseBerita.ID – Meski awalnya berniat hanya untuk sementara, namun kemudian R Yanti Oktavia Simangunsong justru menikmati menjadi seorang terapis bagi Anak-anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Yanti-demikian ia biasa disapa- malah semakin dalam masuk ke kehidupan anak-anak luar biasa itu.

Sarjana Pertanian lulusan Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung itu, menceritakan, pasca wisuda tahun 2010, ia diminta kembali ke daerah asalnya, Sidamanik, Kabupaten Simalungun karena ibunya sakit. Sekitar tiga tahun kemudian, tepatnya Oktober 2013, Yanti mulai menjadi terapis di salah satu sekolah ABK di Jalan Merdeka Pematangsiantar, dan berlanjut hingga sekarang.

“Setelah kembali ke sini, saya mencoba melamar pekerjaan ke berbagai instansi. Tapi, saya justru diterima di sekolah ABK. Awalnya saya anggap untuk sementara, tapi ternyata saya malah menikmati dan tidak pernah mencoba pekerjaan lain,” terang anak kedua dari tiga bersaudara buah hati pasangan suami istri almarhum Victor Simangunsong dan Kolena Damanik ini.

Tak sekadar menjadi terapis, Yanti selalu berusaha meningkatkan ilmu dan pengetahuannya tentang ABK dan penanganannya dengan mengikuti berbagai seminar online, baik dari dalam maupun luar negeri.

“Saya melayani anak-anak itu dengan cinta. Tak semata karena materi. Mereka anak-anak yang lucu,” sebut gadis yang pernah menerima hadiah dari seorang murid berupa lukisan dirinya yang sangat rinci.

“Gambar sederhana, tapi bagi saya sangat luar biasa. Sangat detail yang digambar. Bahkan liontin kalung yang saya kenakan digambarnya, termasuk kaca mata saya. Lalu di bawah gambar, ada tulisan Ibu Yanti,” tambah gadis yang lahir tanggal 8 Oktober ini.

Yanti mengaku, sejak masih duduk di bangku SMA Bintang Timur Pematangsiantar ia sudah mulai mengajar. Kebetulan, saat di SMA Yanti masuk kelas unggulan. Oleh guru bidang studi Kimia ia diminta mengajar di kelas yang tidak unggulan.

Kemudian, saat kuliah di Bandung, Yanti dan teman-temannya mengajar les untuk anak-anak tidak mampu yang tinggal di sekitar kampus.

“Saya ajak tiga teman dari komunitas Gereja El Shaddai Injil Sepenuh, yang sekarang namanya sudah diganti menjadi Unshakeable Church Jatinangor-Bandung. Kami mengajar anak-anak tidak mampu, termasuk anak-anak jalanan,” terang Yanti yang hingga kini terus berkomunikasi dengan pengajar yang menjadi penerusnya.

Tak hanya menjadi terapis di sekolah ABK, ternyata Yanti juga menerima beberapa ABK untuk menjalani terapi di rumahnya, di Jalan Besar Sarimatondang, Sidamanik.

“Saya ke kampung-kampung yang berada di sekitar Sidamanik. Saya menemukan beberapa ABK. Ketika saya ajak untuk terapi ke rumah, mereka antusias. Hanya saja sekarang ini terkendala waktu. Saya baru bisa terapi di rumah di malam hari, karena pagi sampai sore saya di sekolah,” sebut Yanti yang memberi nama tempat terapi di rumahnya Eleazar yang artinya Pertolongan Tuhan.

Yanti berharap, Eleazar menjadi cikal bakal sekolah atau rumah belajar untuk para ABK yang melayani sesuai perkembangan dan minat masing-masing anak dan melahirkan anak-anak yang sehat, mandiri, dan bahagia.

Ketika ditanya apa kendala menjadi terapis bagi ABK, Yanti mengaku terkadang ada orangtua yang sulit diajak bekerja sama. Misalnya, ketika disarankan agar anak diet Gluten Free, Casein Free, dan Sugar Free (CFGFSF)  seperti tepung terigu, susu, gula, orangtua malah memberikan makanan atau minuman yang mengandung bahan-bahan tersebut. Padahal, gluten dan casein bersifat morphin untuk anak autis. Dan gula, jika dikonsumsi anak autis akan berubah sifatnya menjadi alkohol.

“Ketika anak tidak didietkan, efeknya anak akan menjadi hiperaktif, mengalami gangguan konsentrasi, dan perilaku. Alhasil progres dari perkembangan anak menjadi terhambat. Orangtua memberikan tanggung jawab penuh kepada terapis. Sementara anak lebih banyak waktunya bersama orangtua,” terang Yanti.

Selain sebagai terapis, sekarang Yanti aktif menjadi volunteer di beberapa kegiatan sosial, seperti Yayasan Kita Serupa dan sekarang aktif menjadi pendamping Teman Tuli Siantar. Khusus untuk Teman Tuli, dijadwalkan mengadakan sosialisasi bahasa isyarat di Car Free Day Pematangsiantar.

“Minggu depan, 23 Februari 2020 rencananya kawan-kawan dari Teman Tuli tampil menari Tor-tor di Car Free Day,” kata Yanti.

Yanti sendiri sudah memelajari bahasa isyarat. Kebetulan, kata dia, ada dua jenis bahasa isyarat, yaitu Sistem Isyarat bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). SIBI merupakan standar bahasa isyarat dari pemerintah Republik Indonesia. Sedangkan BISINDO lahir dari komunitas Teman Tuli.

“Yang saya pelajari saat ini yakni SIBI. Saya belajar sendiri dari YouTube dan Google dan kamus SIBI untuk melengkapi program pembelajaran anak tuna rungu yang saya ajar,” tutur Yanti.

Yanti berharap Pemko Pematangsiantar menyediakan wadah dan kesempatan bagi Teman Tuli untuk berkarya sesuai bakat dan bidang masing-masing. Yang ada selama ini, kesempatan yang diberikan sebatas untuk salon kecantikan, menjahit, dan pertukangan kayu. Padahal, ada Teman Tuli yang berminat di bidang desain, fotografi, dan mengoperasikan komputer.

“Pemerintah sebaiknya survei apa minat dan bakat mereka. Jika sekarang ada wadah untuk mereka, ke depan tentunya tidak sulit lagi memberdayakan mereka,” jelas Yanti yang tergabung dalam grup WA Teman Tuli.

“Oh ya, mereka lebih suka disebut Teman Tuli daripada Tuna Rungu. Sedangkan untuk kita yang bisa mendengar, mereka menyebutnya Teman Dengar,” sambung Yanti.

Kepada rekannya sesama terapis, Yanti mengajak untuk terus memperkaya ilmu dan pengetahuan tentang ABK agar bisa meningkatkan kualitas pengajaran. Juga agar mengajar dengan cinta dan hati, sehingga tidak akan merasa lelah.

Untuk orangtua para ABK, Yanti meminta mereka terus memupuk kesabaran. Tetap memberikan yang terbaik kepada anak. Sebab pasti ada kelebihan yang dimiliki anak, meskipun ABK.

“Pasti ada potensi yang bisa digali dan dikembangkan. Anak adalah anugerah Tuhan. Yakinlah, bila diberi kesempatan, mereka bisa mandiri, termasuk secara finansial. Jangan pernah pesimis, apalagi menyerah,” ujar Yanti yang mengaku sejak kecil sudah mulai tertarik di bidang sosial. Contohnya, jika minta uang jajan kepada orangtua, ia kerap memaksa. Namun jika kemudian ada pengemis datang, uang yang dari orangtua malah diberikan kepada pengemis tersebut.

“Masyarakat juga harus memberikan kesempatan kepada para ABK dan penyandang disabilitas. Jangan membeda-bedakan, sehingga mereka bisa hidup berdampingan dan bahagia. Senyum anak-anak istimewa penyandang disabilitas adalah senyum Indonesia,” pungkas Yanti. (awa)