Lifestyle

Pipit Supriani Resign demi Fokus Bisnis

Tanpa ragu, Pipit Supriani memilih resign dari salah satu perusahaan retail di Pematangsiantar. Padahal ia sudah bekerja selama 15 tahun.

Keputusan Pipit bukan tanpa alasan. Perempuan berparas manis ini ingin fokus menjalankan bisnis sendiri yang sudah dikerjakannya selama 10 tahun.

Pipit menceritakan, saat masih bekerja sebagai karyawan, ia sudah memulai usaha kerajinan di rumahnya, di Nagori Karanh Bangun, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun. Ia membuat aneka pernak-pernik dari kain flanel. Seperti tutup stoples, tempat tissue, dan lainnya.

Seiring waktu, Pipit mengikuti perkembangan zaman. Dari kain flanel, ia beralih ke jenis lainnya, yaitu kain bulu rasfur.

“Dari bulu rasfur, saya membuat bantal sofa, karet rambut, jepit rambut, dompet handphone, dan lainnya,” sebut wanita berhijab ini.

Kerajinan menggunakan kain bulu rasfur sudah ditekuni Pipit sejak sekitar empat tahun lalu. Pipit pun menikmati usahanya tersebut. Hingga tanpa ragu, ia berani resign dari pekerjaannya sekitar enam bulan lalu agar bisa fokus menjalankan usahanya.

Sejak resign, Pipit memiliki banyak waktu untuk mengembangkan bisnis. Ia juga bisa menambah ilmu bisnisnya dengan mengikuti berbagai pelatihan yang digelar sejumlah instansi.

“Juga ikut pameran UMKM. Saya ikut pameran hingga ke Tebingtinggi, Medan, Parapat, Balige, juga Pematangsiantar,” ujar alumni SMK Pariwisata Universitas Simalungun (USI) Pematangsiantar ini.

Sedangkan pelatihan yang diikutinya antara lain, membuat penganan non beras (umbi-umbian) di Dinas Koperasi Medan, pelatihan market online dari Bank Indonesia (BI) dan Bank Rakyat Indonesian (BRI), dan pelatihan membuat kemasan di Dinas Koperasi Simalungun.

Masih kata anak kelima dari enam bersaudara ini, dengan menjadi pengusaha, ia memiliki banyak waktu untuk bersosialisasi, hal yang sangat jarang dilakukannya selama 15 tahun sebagai karyawan. Namun yang paling penting, ia bisa lebih dekat dengan putri semata wayangnya, Aminah Alfisarah (11).

Pipit menjelaskan, berbagai produk yang dihasilkannya merupakan hasil karya dan kreativitasnya. Ia belajar secara otodidak karena ia memang hobi membuat kerajinan tangan dan segala pernak-pernik.

“Kalau menjahit, kebetulan ibu saya memang suka menjahit. Bahkan empat abang saya bisa menjahit. Jadi saya pun bisa juga menjahit. Saya juga sempat mengikuti pelatihan menjahit di Balai Latihan Kerja atau BLK,” tukas Pipit yang memiliki seorang pegawai untuk membantunya berbisnis.

Selain membuat produk sendiri, Pipit juga menyediakan berbagai barang, termasuk produk fashion. Hanya saja, barang-barang tersebut tidak diproduksinya sendiri.

“Ya, bisnis online. Apa yang diminta konsumen, saya sediakan,” tandas Pipit seraya menambahkan, ia juga kerap membeli bunga artifisial. Lalu, bunga-bunga itu dirangkainya sendiri, dan kemudian dijual.

Tak hanya itu, ternyata Pipit juga menjadi marketing produk opak yang perusahaannya merupakan peninggalan ayahnya. Usaha tersebut sebenarnya sudah ada sejak tahun 1990-an. Namun baru sekitar enam bulan terakhir dijalankan Pipit, khusus untuk marketing.

“Kalau untuk produksi, bagian abang saya. Pemasarannya, offline dan online. Untuk offline, ada sales yang mengambil langsung dan mengantarnya ke warung-warung, bahkan sampai ke Sidamanik,” jelas Pipit lagi.

Sedangkan untuk marketing secara online, sama dengan promosi untuk barang dagangan Pipit lainnya, dipromosikan melalui media sosial. Untuk foto, Pipit berusaha membuatnya semenarik mungkin. Bahkan ia menyediakan ‘studio mini’ di rumahnya.

“Saya sebut studio mini. Sebenarnya sederhana saja. Dari kertas karton putih yang dilapisi kertas minyak putih. Jadi kalau kena cahaya, ada pantulan dari kertas,” terang Pipit.

Misalnya untuk foto opak, Pipit tak hanya meletakkan opak dan difoto begitu saja. Namun, di samping opak ia meletakkan bunga dalam vas.

“Kalau hanya foto opak, tentu tidak menarik. Jadi harus ada yang indah-indah supaya menarik. Karena kalau bisnis online, kita kan menjual foto,” beber Pipit yang mengaku ide membuat ‘studio mini’ diperoleh saat mengikuti pelatihan di BI.

Ada lagi bisnis Pipit, yaitu menjadi pengepul madu hutan. Setelah madu terkumpul, ia kemas dalam botol-botol. Kemudian tutup botol disegel dan diberi label. (awa)

Unefa

Pascasarjana


Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close