Lifestyle

Peran Perempuan di Industri Digital

PERNAHKAN sahabatmu melontarkan penyataan seperti, “Duh gaptek nih, kamu kan laki-laki, pasti lebih paham.” Sebuah potongan percakapan mengandung stereotipe yang sering kita dengar dari para perempuan.

Perempuan menganggap gaptek (gagap teknologi) adalah hal yang bisa dimaklumi walaupun sebenarnya mereka sama sekali tidak gaptek. Menggunakan smartphone dan menghabiskan waktu yang cukup lama dalam satu hari sudah membuktikan bahwa penggunanya sama sekali tidak gaptek.

Apakah memang tidak ada laki-laki yangtidak fasih dengan teknologi? Tentu saja ada, hanya saja dengan stereotipe yang sama membuat para laki-laki menahan diri untuk tidak mengutarakannya.

Tidak hanya soal gaptek penggunaan benda teknologinya, tetapi juga soal game, media sosial, atau pun hal lainnya pada industri teknologi dan digital.

“Perempuan kok main game?” Tidak jarang pasti mendengar pertanyaan seperti ini. Padahal yang namanya bermain tidak ada ketentuan gender dalam aturan penggunaannya.

Hal ini kemudian terbawa ketika menjadi orang tua dan ada pembicaraan mengenai game dengan anak. Si ibu sering sekali bilang, “Duh, ibu nggak ngerti,” atau “Sana, kamu ngomong sama ayah!”

Pintu komunikasi antara Ibu dan anak menjadi tertutup. Padahal isi pembicaraan bisa saja dialihkan menjadi soal kegiatan bermainnya, bukansoal teknis game-nya.

Akhirnya hilang lah kesempatan ibu untuk ngobrol dengan anak dan anak menganggap si ibu tidak dapat menjadi lawan bicara yang tepat.

Kalau sudah begini apakah orangtua atau seorang ibu perlu memahami semua spesifikasi smartphone, main semua game, dan fasih semua jenis media sosial? Kok tampaknya berat sekali ya? Karena sesungguhnya, bukan seperti itu yang sebaiknya berjalan. (fim/int)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button