Lifestyle

Otto Sihombing Multitalenta untuk Cinta dan Kebahagiaan

Memiliki multitalenta merupakan anugerah Tuhan bagi Otto Libra Sihombing. Ia senantiasa berusaha menggunakan talenta-talenta tersebut untuk menebarkan cinta dan kebahagiaan (spare love and happyness) kepada sesama.

Otto, anak keempat dari enam bersaudara ini, sehari-hari berprofesi sebagai karyawan di salah satu bank milik Badan Usaha Negara (BUMN). Di sela-sela kesibukannya sebagai bankir, ia memiliki side job sesuai talentanya.

Pria kelahiran Medan, 20 Oktober 1985 ini piawai bercuap-cuap di hadapan orang banyak. Sejak kuliah Fakultas Hukum Universitas Lampung (FH Unila) ini, Otto sudah menjadi penyiar radio. Dimulai dari radio kampus hingga radio komersil.

“Lalu saya mulai menjadi MC untuk acara-acara kampus,” tukas alumni SMA Negeri 8 Medan ini.

Menurut Otto, sejak lahir hingga duduk di bangku SMA, ia menetap bersama orangtua dan saudaranya di Medan. Selepas lulus SMA, Otto memutuskan melanjutkan pendidikan di luar Kota Medan.

“Pokoknya, waktu itu mau mandiri. Nggak mau kuliah di Medan. Orangtua sempat tidak mengizinkan dengan alasan kampus di Medan sudah bagus,” terangnya.

Namun kemudian orangtua mengalah. Otto yang diterima di Unila berangkat meninggalkan Kota Medan.

Di Lampung, Otto aktif di kegiatan kampus. Selain sebagai penyiar radio dan MC, ia sempat mengikuti Pertukaran Pemuda ke Palu, Sulawesi Tengah dalam rangka Hari Sumpah Pemuda.

“Setelah wisuda di tahun 2009, saya ikut Pertukaran Pemuda ke Palu. Di sana kami tinggal di rumah warga selama tiga bulan. Kegiatan tersebut untuk memperkenalkan budaya Lampung kepada masyarakat di sana,” jelas Otto yang juga sempat bekerja sebagai bekerja sebagai pegawai hotel dan di pusat perbelanjaan.

Hingga kemudian, Otto diterima sebagai pegawai di salah satu bank BUMN. Untuk tugas pertama, ia ditempatkan di Batam.

“Itu kali pertama saya menginjakkan kaki di Batam. Ada sekitar lima tahun saya di sana,” tukasnya.

Di Batam, karir Otto di MC makin bersinar. Berbagai kegiatan dan acara kerap menjadikan Otto sebagai MC. Baik acara-acara resmi seperti wedding (pernikahan), maupun acara arisan para sosialita. Bayaran Otto pun sangat menggiurkan.

“Ha ha ha… Saya di Batam biasa terima bayaran pakai mata uang Dollar Singapura. Belum lagi saweran-saweran dari para tamu,” ujar Otto tanpa bermaksud menyombongkan diri.

Selama di Batam juga, Otto aktif berolahraga di salah satu tempat kebugaran. Ia jatuh cinta dengan Zumba.

“Ya, tadinya untuk kebugaran. Lama-lama jadi enjoy,” tandasnya.

Lima tahun berlalu. Oleh manajemen bank tempatnya bekerja, pemuda buah hati dari pasangan suami istri (pasutri) B Sihombing dan R br Sianturi ini dimutasi ke Pematangsiantar. Kebijakan ini tidak mungkin ditolak. Jadilah Otto sebagai Siantar Man terhitung sejak tahun 2015.

Di tahun pertama menetap di Pematangsiantar, kehidupan Otto hanya di seputaran kantornya di Jalan Sudirman dan tempat kos di kawasan Kampung Banjar, Kecamatan Siantar Barat.

Hingga kemudian Otto bergabung di salah satu pusat kebugaran dan melanjutkan hobinya ber-Zumba.

“Mulailah saya mengenal orang-orang di luar kantor. Kenal orang-orang yang aktif Zumba. Saya juga yakin di Siantar banyak yang suka Zumba,” ujar Otto, yang mengikuti ujian sebagai Zumba Instructor Network (ZIN) di Batam di tahun 2018, sehingga berhak menyandang gelar ZIN.

Diakui Otto, tak sedikit orang-orang yang merasa heran jika bertemu dirinya dengan profesi dan tampilan berbeda.

“Ada saja yang datang ke bank tempat saya bekerja dan mengaku sebelumnya melihat saya sebagai MC di suatu acara  atau sebagai instruktur Zumba,” katanya lagi.

Di awal-awal bekerja di Pematangsiantar, Otto sempat berpikir apakah dia bisa melanjutkan karirnya sebagai MC. Ternyata, rezeki berpihak kepadanya.  Ia berkenalan dengan orang-orang yang juga memiliki talenta, dan mengajaknya menjadi MC di acara colour run di tahun 2016.

Sejak itu, tawaran menjadi MC berdatangan. Apalagi Otto bisa menjadi MC untuk berbagai acara, termasuk untuk acara ulang tahun anak yang pertama. Bahkan, Otto diajak untuk menjadi MC acara wedding hingga ke Bali.

“Saat saya memandu acara ulang tahun anak-anak, apalagi ulang tahun pertama, saya di antara anak-anak balita. Tentunya harus bisa membuat anak-anak itu fokus ke acara. Ya saya bikin yang lucu-lucu. Dan kebetulan, saya dikenal sebagai MC yang bisa melucu,” sebut Otto yang mengaku talentanya sebagai MC menurun dari ayahnya yang merupakan Raja Parhata (juru bicara acara adat Batak) di Kota Medan.

Otto juga memiliki keinginan mulia. Ia ingin memiliki wadah yang bisa mengumpulkan anak-anak di Pematangsiantar dan memberi mereka pelatihan public speaking.

“Dari situ, akan bisa diperoleh bibit-bibit  MC. Saya berharap bisa muncul MC terkenal dari Kota Pematangsiantar ini,” sebut Otto yang sat di Batam sempat tergabung dalam paduan suara rohani, bahkan mengikuti Pesparawi.

“Jadi, apapun yang saya lakukan dan kerjakan, baik itu ketika saya menjadi banker, MC, bahkan instruktur Zumba, saya lakukan dengan sepenuh hati dan  tanggung jawab. Profesional itu harus. Terima kasih untuk berkat yang Tuhan kepada saya sehingga saya bisa menjadi berkat bagi orang lain,” pungkasnya. (awa)

Unefa

Pascasarjana

Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close