Lifestyle

Nurindah Sinaga: Banyak Berjalan, Banyak Dilihat, dan Banyak Teman

Ramah dan supel. Begitulah kesan pertama saat kali pertama bertemu langsung dengan perempuan yang satu ini. Nurindah Sinaga atau lebih akrab disapa Indah ini, merupakan pengelola hotel milik keluarganya, My Nasha di Tigaras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun. Tak ada kesan sombong dalam diri Indah, meskipun keluarga perempuan berhijab ini memiliki beberapa hotel di Tigaras.

My Nasha, kata Indah yang juga pegawai di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lihou Simalungun ini, dikelola lebih modern. Termasuk ada kolam renang dengan pemandangan Danau Toba.

Diakui Indah, saat ia membangun kolam renang di pinggir Danau Toba, ia dan keluarganya sempat dicemooh dan ditertawakan oleh orang-orang disekitarnya.

“Tapi kan konsep itu tidak sembarangan kami bikin. View Danau Toba dari kolam itu paling bagus. Saya sendiri banyak berjalan dan berkunjung ke tempat-tempat wisata, baik dalam negeri maupun luar negeri. Karena banyak berjalan, ya tentunya banyak yang saya lihat,” tukas ibu dua putra ini.

Karena banyak yang dilihat, Indah pun banyak belajar.

“Kalau ada kita lihat bagus, dan bisa kita lakukan di daerah kita, apalagi ada potensi, kenapa tidak kita lakukan?” tandas Indah yang kini keluarganya tengah membangun rumah Hobbit dan ruang karaoke di My Nasha.

Anak keenam dari 10 bersaudara ini mengaku memang senang berjalan dan bersosialisasi dengan siapa saja. Sehingga tidak mengherankan, Indah memiliki banyak teman yang berasal dari berbagai kalangan.

“Saya berteman dengan siapa saja. Bahkan juru parkir di Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka Pematangsiantar itu kenal sama saya,” sebut Indah yang sering diprotes kedua putranya saat sedang family time. Sebab Indah kerap menyapa dan disapa orang-orang.

“Ha ha ha… Masa ada jumpa orang yang saya kenal, nggak saling sapa. Nanti dibilang pula saya sombong,” tambah Indah seraya menambahkan sekarang ini kedua putranya itu bersekolah di luar kota. Si sulung kuliah di Jogjakarta, dan yang bungsu di SMA swasta di Medan.

Indah mengatakan, ia memang suka berteman dan senantiasa berbuat baik kepada siapa saja. Jika bisa, seluruh orang menjadi temannya.

“Bisa dikatakan, saya nggak punya musuh. Dan saya sendiri, selalu berusaha tidak memusuhi orang-orang,” terang wanita yang menganggap rezeki sudah ada yang mengatur dan tidak pernah salah sasaran.

Hidup ini, menurut Indah, jangan dianggap ribet. Segala sesuatu sebaiknya dijalani dengan happy.

“Boleh tanya kepada teman-teman saya, kalau saya ini paling santai. Tapi bukan berarti saya tidak pernah punya masalah. Yang pasti, saya tidak mau menceritakan masalah saya dengan orang lain,” jelas Indah, yang menganggap solusi dari masalah-masalahnya berasal dari dirinya sendiri, tentunya dengan bantuan Tuhan yang Maha Adil.

Untuk hidup santai, kata Indah, resepnya antara lain tidak kepo dengan urusan orang lain. Selain itu, bisa menutupi kesedihan di depan orang lain.

Indah, meskipun termasuk sibuk di luar rumah, ternyata hobi memasak. Jika memang sedang ingin memasak, bisa bermacam-macam masakan dikerjakannya di waktu bersamaan. Alhasil, teman-teman dan tetangga yang mendapatkan rezeki menikmati masakannya.

“Ya, kalau lagi ingin masak, macam-macam saya masak. Padahal anak-anak saya di luar kota. Jadi masakannya saya bagi ke tetangga, teman, dan saya bawa ke kantor,” sebut Indah yang suka berinovasi saat memasak.

Masih kata Indah, kelezatan masakannya diakui oleh teman-temannya, terutama kedua putra kesayangannya. Mereka kerap bertanya mengapa masakan sang ibu sangat lezat.

“Saya jawab aja, karena saya memasaknya pakai cinta, pakai hati,” ujar Indah yang saat dua buah hatinya masih kecil, sesibuk apapun dirinya selalu memastikan anak-anaknya terawat dan tersedia kebutuhannya.

Masih kata Indah, dari mencicipi suatu masakan, dia bisa tahu bahan-bahannya. Jika ia memang suka, di rumah ia mempraktekkannya.

“Dan biasanya berhasil,” kata Indah yang masakan favoritnya antara lain nasi goreng petai, dendeng, dan sebagainya yang kadang-kadang sesuai permintaan teman-temannya.

Untuk hijab, kata Indah, mulai dikenakannya sekitar dua tahun lalu. Kala itu, seorang teman mengajaknya mengenakan hijab selama bulan Ramadan. Indah mau saja. Apalagi perempuan-perempuan di keluarga besarnya rata-rata berhijab.

Namun, saat Ramadan berlalu, hingga usai Hari Raya Idul Fitri, Indah malah ‘ketagihan’ berhijab. Hingga ia pun memutuskan untuk terus berhijab.

“Saat itu, hati kecil saya mengatakan agar saya tetap berhijab. Jadilah saya berhijab sampai hari ini. Kebetulan kan saya juga jualan hijab,” tambah Indah, yang di dalam mobilnya banyak barang dagangan lainnya, seperti pakaian, tas, parfum, kosmetika, dan lainnya.

Lantas, siapa yang paling berjasa dalam hidup selama ini?

Dengan yakin, perempuan yang selalu tampil modis dengan sepatu boot ini menjawab, “Bapak saya.”

Indah mengaku, sejak kecil ia sangat dekat dengan ayahnya, Oppung Dhani Sinaga. Bahkan sampai sekarang, jika sedang berada di luar kota, sang ayah tidak pernah lupa meneleponnya.

“My father is my Hero,” kata Indah mantap.

Ke depan, Indah ingin mengembangkan hotel milik keluarganya. Ia berharap, infastruktur jalan di Kabupaten Simalungun semakin baik, khususnya menuju Tigaras bisa semakin lancar. Selain itu, pelaku pariwisata juga harus memanjakan pengunjung.

Apalagi, sambungnya, sangat banyak spot lokasi wisata dari Pematangsiantar hingga ke Tigaras.

“Ada kebun teh di Sidamanik, pemandian Bah Manik, lalu ada Bukit Indah Simarjarunjung atau BIS, dan Tigaras.

Setelah Tigaras, bisa lanjut lagi ke Haranggaol. Kalau lokasi-lokasi ini dikelola dengan baik, pariwisata Kabupaten Simalungun bisa berkembang,” papar Indah yang selalu berusaha tamu-tamu di hotelnya tidak kapok untuk datang lagi. (awa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button