Lifestyle

Netty Sianturi Tetap Menawan di Usia 60 Tahun

Bulan depan, tepatnya tanggal 6 Desember, usia Netty Sianturi memasuki 60 tahun. Namun penampilannya tetap cantik, menawan, dan awet muda.

Netty sendiri mengaku sama sekali tidak ada ‘mempermak’ wajah dan kulitnya. Hanya saja, ia rutin merawat tubuh dan kulitnya menggunakan bahan-bahan alami. Dan cukup dilakukan di rumah.

Menurut Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Pematangsiantar ini, ia jarang melakukan perawatan tubuh dan kulit, terutama wajah di salon kecantikan. Netty memilih melakukannya di rumah.

Kata Netty, ia memang rutin melakukan perawatan kulit wajah dengan cream yang diperolehnya dari dokter langganan yang berada di Jakarta. Hanya saja, menurut Wakil Sekretaris Komisi II DPRD Pematangsiantar ini, harga cream tersebut tidak sampai ratusan ribu rupiah, apalagi jutaan rupiah.

“Sudah 20 tahun saya pakai cream-nya. Dua botol, untuk pagi dan malam. Itu bisa untuk satu bulan. Jadi nggak mahal-mahal. Saya malah lebih sering pakai bedak baby,” terang perempuan yang mengawali karirnya di bidang politik sebagai Sekretaris DPC Partai Gerindra Pematangsiantar.

Perawatan lainnya, Netty rutin mengonsumsi juice buah segar di pagi hari setelah bangun tidur.

“Juice-nya harus yang asli, tanpa campuran air dan gula. Kalau buahnya, bisa wortel, tomat, daun seledri, jagung, dan lainnya,” jelas Netty seraya menambahkan, ampas dari buah yang di-juice dijadikannya kulit untuk kulit tubuh.

Rahasia awet muda lainnya, lanjut Netty, selalu mensyukuri anugerah Tuhan yang diberikan kepadanya dan jangan banyak mengeluh.

Netty, bisa dikatakan sebagai wanita yang nyaris tidak pernah hidup dalam kondisi kesulitan ekonomi. Orangtuanya menjabat sebagai Kepala Puskesmas di Siborong-borong, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput). Sedangkan suaminya, almarhum Drs Djahormat Hans Sumbayak merupakan pejabat di instansi Perpajakan, dengan jabatan terakhir sebelum pensiun sebagai Kepala Kantor Perpajakan Pematangsiantar.

Setelah suaminya meninggal dunia tahun 2006, Netty yang semasa gadis sempat menjadi pramugari maskapai penerbangan BUMN, beralih menjadi petani jeruk yang sukses di Siborong-borong. Sebagai petani, Netty terjun langsung ke lahan, termasuk membuat pupuk organik. Ia juga piawai mengendarai truk dan traktor. Selain itu, Netty memiliki usaha doorsmeer di Jalan Pdt J Wismar Saragih Pematangsiantar.

Namun Netty tetap tampil sederhana. Barang-barang yang dikenakannya, menurut wanita yang lahir hingga menamatkan pendidikan SMP-nya di Siborong-borong ini, tidak selalu bermerek terkenal (branded). Termasuk perabotan di rumahnya yang kini beralamat di Jalan Ragi Hidup, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun.

“Harga tas saya nggak sampai yang berjuta-juta rupiah. Kalaupun ada, itu biasanya hadiah dari anak-anak saya. Begitu juga pakaian. Bagi saya, daripada saya beli baju dengan harga Rp3 juga per piece, lebih baik dengan uang segitu bisa dapat sepuluh pieces. Kan jadi banyak baju saya, bisa ganti-ganti setiap hari. Yang penting nyaman dipakai dan matching. Begitu juga perabotan di rumah saya, harganya biasa-biasa saja,” jelas Netty yang hobi menata interior rumahnya, dan senang mengepel lantai ini.

Netty yang melanjutkan pendidikan SMA dan kuliah di Jakarta ini memang mulai terjun ke dunia politik setelah kelima putrinya mandiri. Sebelumnya, ia menjadi ibu rumah tangga total, khususnya saat anak-anaknya masih kecil.

“Saya juga kan harus mendampingi suami yang pindah-pindah tugas ke beberapa daerah di Indonesia. Paling-paling saya aktif di kegiatan Dharma Wanita, karena kebetulan suami saya pegawai di instansi pemerintah,” sebut Netty yang lima anaknya lahir di daerah yang berbeda-beda.

“Dua anak saya lahir di Manado, satu di Malang, satu di Kudus, dan yang bungsu di Siantar. Karena suami saya purna tugas di Siantar,” jelas ibu dari Judith Sumbayak ST MM (alumni ITB), drg Laura Sumbayak (alumni Unpad), Astrid Sumbayak SIKom (alumni Unpad), dr Ines Sumbayak (alumni UI, dan kini sedang mengambil program spesialis juga di UI), dan Naomi Sumbayak (mahasiswi Fisipol USU).

Netty memang sibuk. Apalagi kini selain menjabat ketua parpol, ia menjadi anggota DPRD. Alhasil ia kerap berangkat pagi dan pulang malam.

Netty boleh bangga. Ia merupakan satu-satunya perempuan yang menjabat ketua parpol di Pematangsiantar. Selain itu, keanggotaan di DPRD Pematangsiantar, dari tiga perempuan, ia-lah salah satunya.

“Hanya tiga orang perempuan di DPRD Siantar. Saya salah satunya, dan hanya saya yang baru di periode ini. Dengan kondisi seperti itu, saya percaya diri bisa sejajar dengan kaum pria yang masih menguasai dunia politik saat ini. Meski akan selalu ada tantangan, saya yakin bisa mengatasinya,” ujar Netty yang mengaku kerap diingatkan anak-anaknya agar jangan sampai melakukan tindakan penyalahgunaan wewenang jabatan.

Di sela-sela kesibukannya, jika memiliki waktu luang, Netty lebih memilih menghabiskan waktu untuk anak-anak dan cucunya. Ia memang dekat dengan anak-anak dan juga ketiga menantunya. Bahkan saat liburan keluar kota atau luar negeri, Netty selalu membawa keluarga.

“Menantu-menantu saya anggap sebagai anak sendiri. Apalagi saya tidak punya anak laki-laki. Dengan cucu-cucu, saya juga sangat dekat. Mereka-lah pelipur hati saat saya merasa kesepian. Cucu-cucu memanggil saya Oppung Gerindra,” ujar Netty yang gemar masakan daun ubi tumbuk, ikan teri sambal, dan ikan mas arsik ini.

Sering berada di luar rumah dan di antara para pria, Netty tidak menampik adanya godaan. Apalagi, sejak ia menjadi wakil rakyat, godaan itu semakin banyak. Namun Netty selalu menanggapinya dengan bercanda agar jangan ada yang tersinggung.

“Saya selalu bilang kalau saya sudah tua. Sudah oppung-oppung, hanya casing yang mulus,” tukas Netty sembari tertawa. (awa)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close