Lifestyle

Muhammad Yarham: Kesabaran Kunci Utama

FaseBerita.ID – Menjadi guru mengaji, terutama bagi anak-anak, banyak suka dan duka yang dialami. Sebab, setiap anak pasti berbeda-beda sifat dan karakter. Kunci terbesar untuk menjadi guru mengaji  terutama adalah kesabaran.

Hal itulah yang dialami Muhammad Yarham SPdI. Pemuda yang pernah mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat nasional di Jakarta tahun 2005 itu.

“Meski begitu, ada saja terkadang ulah dan tingkah anak-anak yang mengaji, yang kadang-kadang bikin kita tersenyum-senyum sendiri karena ulah mereka yang lucu. Ada yang saat mengaji tertidur. Ada juga yang merajuk dan tidak mau mengaji. Pokoknya, ada saja lah,” tukas alumni Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) itu.

Namun, laki-laki kelahiran Pematangsiantar, 16 Mei 1992 ini berusaha tetap bersabar. Ia tidak mau marah-marah, apalagi mengumpat.

“Kunci utama itu, kesabaran,” tegas Yarham yang juga sering menjadi khatib Salat Jumat dan memberi ceramah di acara-acara keagamaan.

Yarham, begitu ia biasa disapa, mulai mengajar mengaji Alquran sejak tahun 2006. Padahal saat itu ia masih duduk di bangku SMP Negeri 4 Pematangsiantar.

“Saya mengajar di Taman Pendidikan Alquran (TPA), ke rumah-rumah, dan pengajian atau perwiridan ibu-ibu,” ujar sulung dari tiga bersaudara, buah hati Abdul Rasyid dan Laila Hafni Nasution ini.

Sebenarnya jadwal mengajar Yarham sangat padat. Apalagi, ia termasuk Penyuluh Agama Islam di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Pematangsiantar. Ditambah, ia sering diundang untuk membaca Alquran dalam berbagai acara keagamaan yang digelar instansi, baik pemerintah maupun swasta. Namun ia menjalaninya dengan sepenuh hati. Nyaris tidak pernah merasa jenuh.

“Bagaimana ya, ini kan hobi yang menjadi pekerjaan. Saya mengerjakan sesuatu yang memang saya sukai,” tukas Yarham yang mengaku dari membaca Alquran dan mengajar mengaji, bisa dikenal dan mengenal banyak orang dari berbagai kalangan. Bahkan ada yang menjadi seperti saudara sendiri.

Dari membaca Alquran pula, ia dikenal oleh Walikota Pematangsiantar Hefriansyah. Hingga kemudian ia pun menjadi guru mengaji putra dan putri Hefriansyah.

“Saya kan sering menjadi pembaca Alquran di acara-acara yang digelar Panitia Hari Besar Islam (PHBI),” sebut Yarham, yang sudah diundang untuk membaca Alquran sejak duduk di kelas 5 SD, atau sekitar tahun 2004.

Selanjutnya, peraih juara 1 kategori anak-anak di MTQ tingkat Provinsi Sumatera Utara (Sumut) itu menceritakan bagaimana ia bisa pintar melantunkan ayat-ayat Alquran. Awalnya, ia dan beberapa temannya belajar mengaji di masjid, di Jalan Ciptomangunkusumo Pematangsiantar. Pengajian digelar setiap Minggu pagi. Saat itu, ia masih kelas 3 SD.

“Guru mengajinya saat itu Almarhum Masroni Saragih. Kalau ada yang dilihatnya punya bakat, maka harus mengaji ke rumahnya di Jalan Siatas Barita, Tomuan. Mengajinya tiga kali seminggu, hingga jam 10 malam,” jelas Yarham, yang saat berangkat dan pulang mengaji selalu diantar ayahnya dari rumah mereka di Jalan Kasuari, Sipinggol-pinggol setelah salat Magrib, naik sepedamotor.

Kalau hari Jumat, sambungnya, belajar mengajinya lebih lama. Sejak pukul 16.00 WIB hingga 22.00 WIB. Bahkan, sesekali mereka harus menginap di rumah guru mengaji.

“Jadi, kami bawa seragam sekolah. Pergi sekolah dari rumah guru mengaji,” kata Yarham.

Jika menginap di rumah guru, sejak selesai salat Subuh, mereka digembleng secara fisik untuk pernafasan.

“Kami disuruh lari-lari di kawasan yang banyak anjing berkeliaran,” kenang Yarham.

Menjelang mengikuti perlombaan, latihan fisik ditambah dengan lari-lari dan senam pernafasan di Taman Bunga atau Lapangan Merdeka Pematangsiantar.

Alumni Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pematangsiantar ini menambahkan, untuk menjaga kualitas suara, ia tidak ada pantangan. Kecuali, menjelang mengikuti lomba berskala besar, biasanya dia menghindari mengonsumsi es.

“Nggak ada pantangan. Malam-malam pun saya minum es,” sebut laki-laki yang juga hobi bermain bulutangkis, karena sekaligus bisa melatih pernafasan.

Yarham juga menambahkan, kesuksesan terbesar itu ketika mampu memberikan manfaat bagi orang banyak.

“Jadi apabila kita telah tiada, orang-orang merasa kehilangan. Namun nama baik kita masih dikenang. Bukan sebaliknya, setelah kita tiada orang-orang malah bersyukur atas ketiadaan kita,” tegas Yarham yang belum ada keinginan masuk dunia politik. (awa)

iklan usi



Back to top button