Lifestyle

Muhammad Haris Ritonga: Ortu Sekaligus Sahabat Buat Anak Didik

SIANTAR, FaseBerita.ID – Menjadi seorang Guru khususnya di tingkat Sekolah Dasar (SD) adalah tantangan sekaligus mengasikkan bagi Muhammad Haris Ritonga.

Menurutnya, anak didik di usia itu tidak selalu siap dalam menerima pelajaran, namun itulah yang menjadi tantangan untuk membangun karakteristik si anak.

Muhammad Haris Ritonga Spd yang tinggal di Perumnas Batu 6 itu menceritakan secara singkat pengalaman dirinya sejak duduk di bangku kuliah pada tahun 2003 di UISU Siantar. Saat itu dia mengambil jurusan PGSD.

“Saya selalu aktif di organisasi-organisasi Intra Kampus maupun Ekstra Kampus. Bahkan dua priode di HMI UISU Siantar sebagai Ketua Umum di kampus dan satu periode di cabang. Aku sering melakukan pembinaan terhadap junior dan adik-adik,” ujarnya.

Haris menambahkan sejak tahun 2009, sudah hampir 10 tahun lebih dia mengajar di sekolah dasar sebagai guru kelas. Pengalaman menimba ilmu semasa kuliah sebagai modal dasar untuk mengajar. Anak-anak di usia itu masih dalam tahap mengingat dan memahami bahkan menyimpulkan pun masih kesulitan.

“Berbeda jauh dengan anak-anak yang berada di luar Negeri yang pola pikirnya sudah maju. Selama mengajar juga sering mengikuti pelatihan-pelatihan dari mulai pelatihan tutor, pelatihan kurikulum, pelatihan PKB dan baru-baru ini sebagai guru inti program PKP,” ujar ayah satu anak itu.

Haris menambahkan, hasil TIMMS (trend on internasional mathematics and science study) untuk kelas IV SD dari 72 Negara yang mengikuti sumber OECD, PISA tahun 2015.

“Indonesia mendapatkan rata-rata Nilai 397 dan kita mendapatkan peringkat 4 terbawah dari 43 negara sumber TIMMS 2005 internasional data base. Sementara PISA tahun 2005 Indonesia mendapatkan rata-rata nilai 403. Untuk Sains kita mendapatkan peringkat 3 dari bawah dengan nilai 397. Untuk literasi membaca mendapatkan peringkat terakhir nilai 386 dan untuk berhitung/matematika kita mendapatkan peringkat kedua dari bawah. Berdasarkan capaian tersebut untuk pendidikan kita masih dari kata jauh seperti yg diperhadapkan. Anak didik kita masih kesulitan dalam hal berdiskusi, merencanakan, menganalisis sampai mengevaluasi,” terangnya sembari mengatakan inilah motivasinya untuk memberikan yang terbaik kepada anak bangsa.

Guru itu adalah tenaga pengajar, orang tua sekaligus sabahat. Jadi perannya harus benar-benar memahami pola pikir anak didik. Kapan harus belajar serius dan tekun, bercerita, bermain game atau bermain peran bahkan bercanda.

“Sehingga sekolah benar-benar sebagai tempat yang menyenangkan. Guru harus terus belajar untuk meningkatkan kompetensinya. Karena ketika guru berhenti untuk terus belajar, maka ketika itu pula berhenti lah tugasnya sebagai guru,” ujarnya.

Meski begitu, kata Haris, sesibuk apapun dirinya, baik itu sore, malam, dia selalu pulang ke rumah berkumpul dengan anak dan istrinya. Bahkan, khusus hari Minggu, dia akan memberikan waktu sepenuhnya untuk keluarga.

“Yang utama itu pastilah keluarga. Kalau ada waktu liburan, saya selalu mengutamakan dengan keluarga. Anak istri adalah motivasi terbesar buat saya,” ujarnya. (Mag 04)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close