Lifestyle

Michelle Lim: Dari Sekolah Musik, Rambah ke Properti

SIANTAR, Fase Berita.ID – Seorang wanita yang di masa kecilnya sempat memiliki cita-cita menjadi sekretaris perusahaan, akhirnya membuka sekolah musik di Pematangsiantar. Kecintaannya pada musik kah, yang ‘memaksa’ Michelle  membuka sekolah musik tersebut.

Dengan penuh perjuangan, akhirnya sekolah musik diberi nama Legato Music and Art Centre, berdiri sejak pertengahan tahun 2011 lalu.

Kini, setelah delapan tahun, sekolah musik yang tadinya hanya berlokasi di Jalan Sutomo Nomor 56 Pematangsiantar, telah memiliki cabang di Siantar Plaza lantai 4 sebelah Hall GBI, Jalan Merdeka. Michelle pun mengembangkan sayap dengan merambah bisnis di bidang lain, yakni sebagai Konsultan Properti.

Michelle yang memiliki nama panggilan Thing menerangkan, sejak berusia 5 tahun ia sudah mengikuti kursus piano. Bahkan saat duduk di bangku SMA, ia harus menempuh perjalanan bolak-balik Siantar-Medan untuk mengikuti kursus piano tingkat advance yang saat itu belum ada di Pematangsiantar.

Setelah lulus dari SMA Methodist Pematangsiantar, Michelle yang hobi travelling dan membaca ini sempat kuliah musik di Sydney, Australia (2002-2004). Untuk menambah pengalaman pribadi, Michelle bekerja sebagai freelance waiter di sebuah kafe di Sydney.

 

Setelah lulus, Michelle pun berkelana ke Shanghai dan bekerja sebagai  guru Inggris dan musik (2004-2006) di salah satu sekolah internasional. Kemudian  tahun 2006 Michelle bekerja sebagai guru musik di Singapore Kawai Paragon. Tahun 2008 Michelle bertemu Richard,  pria yang menjadi suaminya saat ini dan menyarankan Michelle kembali ke Pematangsiantar.

Sebagai wanita yang aktif, di Pematangsiantar Michelle kembali mengajar musik private. Saat itu, jumlah muridnya private telah mencapai 40-an orang, dan ia mulai terpikir membuka sekolah musik.

“Membangun Legato adalah sebuah perjuangan. Saat susah juga ada, terutama dalam pemikiran yang berbeda-beda. Namun berkat dukungan yang kuat dari keluarga, saya tertantang untuk membuka sekolah musik.

Awalnya, tentulah tidak mudah. Tetapi akhirnya saya benar-benar jatuh cinta dan  berkeinginan mengembangkan usaha tersebut,” terang ibu dua anak, Ethelene (8) dan Reagan (6) ini.

Terkait nama Legato, Michelle mengatakan, kata itu diambil dari bahasa Italia. Artinya, mengalun dengan lembut (play smoothly). Nama itu dipilih dengan harapan proses belajar dan mengajar di Legato bisa berjalan lancar, seperti air mengalir.

“Saya berharap tercipta keharmonisan antara guru, orangtua, dan murid. Biasa juga disebut segi tiga emas. Karena ada kerja sama itulah, proses pengajaran baru dapat berhasil,” kata wanita yang hobi travelling dan membaca ini.

Michelle tidak menampik, membangun usaha dari nol bukan hal mudah. Termasuk menghadapi berbagai karakter orang di sekitarnya. Namun ia menjadikannya sebagai pembelajaran mengingat Pematangsiantar termasuk kota yang sedang berkembang.

Banyak pemikiran atau ide yang ingin disalurkan. Apalagi, ia sangat berharap anak-anak di Pematangsiantar yang berminat dan serius belajar musik hingga level tertinggi, bisa terakomodir.

“Di Legato, anak tak hanya dididik mahir memainkan alat musik, namun juga mendapat peluang belajar hingga level advance grade 8, yakni memiliki standar minimal untuk mengajar. Selain itu, Legato juga memandu anak didik untuk mengikuti berbagai kompetisi di bidang musik,” sebut Michelle seraya menambahkan, Legato menawarkan beberapa pilihan kursus dan jenis alat musik yang ingin dipelajari, seperti piano klasik, piano pop, gitar klasik, biola klasik, biola pop, keyboard rohani, keyboard pop, dan vocal.

Saat ini murid Legato telah berjumlah ratusan dan dibantu puluhan guru. Meskipun Legato merupakan sekolah musik berbasis profit, namun tidak lantas Michelle melupakan kepedulian sosial. Michelle tidak perlu berpikir terlalu lama untuk memberikan beasiswa kepada beberapa anak didiknya yang berbakat musik namun terkendala kondisi ekonomi keluarga.

Untuk prestasi anak didik Legato sudah sangat banyak. Prestasi terbaru, salah seorang murid Legato, yaitu Josephine Aurelia mendapat beasiswa kuliah musik di ISI (full scholarship).

Selain itu, di De VIers Piano Competition 2019 di Hotel Adimulia, ada 30 murid Legato  yang mengikuti kompetisi. Di ajang tersebut, Jeanne Alicia Serafim Tamba meraih juara 1, Natan Juan Arif juara 1 , Ned Olifia Magdalena Barus juara 2, Zita Marcella Salsa GInting juara 3, dan Arta Gloria Sinaga meraih juara 3.

“Dan banyak lagi penghargaan yang diperoleh murid Legato yang tidak bisa disebut satu persatu.

Setiap tahun, Michelle selalu memikirkan inovasi baru untuk Legato. Ia selalu sharing dengan beberapa pemilik sekolah musik yang di Jakarta untuk mendapatkan ide baru. Tetapi, sekali lagi dikatakannya, mengelola sekolah musik tidak gampang. Banyak aspek yang harus dipikirkan dengan matang. Kita harus mengedukasikan kepada mereka yang masih awam di musik, bahwa belajar musik itu adalah proses, tidak bisa instant. Justru itulah tantangannya.

Kini, selain mengkoordinator Legato dan mengajar di Jakarta, Michelle mulai merambah bisnis lain, yakni sebagai Konsultan Properti di Jakarta. Ketika ditanya bagaimana ia mengontrol sekolah musik, Michelle pun menjawab, “Legato telah memiliki sistem dan silabus.”

Tidak lupa, Michelle selalu berkomunikasi dengan guru dan staf.

“Jadi bukan  masalah untuk Legato. Yang terpenting adalah komunikasi. Ada masalah apa langsung dikasih tahu dan dicari solusinya. Setahun sekali saya pulang ke Siantar untuk mengadakan konser,” tukas Michelle.

Karen saat ini Michelle di Jakarta, hasrat untuk belajar hal yang lain sangat kuat. Matanya terbuka ketika meminta saran dari teman yang sukses.

“Bagaimana kalau mencoba di properti?” tawar temannya seperti ditirukan Michelle.

“Kenapa tidak dicoba saja? Who knows kalau dapat berjalan dua-duanya. Bagi saya, itu saran yang bagus. Tanpa berpikir banyak lagi, akhirnya saya terjun ke dunia properti,” jelas Michelle yang menganggap pergaulan yang tepat dan positif itu penting karena dapat memberi pengaruh positif.

Masih menurut Michelle, bidang properti sangat menarik dan ia melihat peluang di bidang tersebut.

“Banyak hal yang saya pelajari di bidang properti. Contohnya, Saya menjadi hapal jalan, cluster, kawasan Jakarta dan sekitarnya, product knowledge property, dan berkomunikasi dengan orang-orang baru. Juga mengetahui harga pasaran rumah dan tanah. Apabila kita dapat mencari tempat teduh yang nyaman buat orang lain, itu juga salah satu kebahagiaan,” papar Michelle.

Bersyukur, dalam 2,5 bulan ia berhasil menjual kavling pertama di daerah Pantai Indah Kapuk Jakarta.

“Saya mempunyai Aim (tujuan) untuk menjadi salah satu pemilik agen properti,” katanya lagi sambil tersenyum.

Michelle mengaku sebagai ibu yang  workholic. Meski begitu, ia berusaha menyisihkan waktu untuk keluarga ketika day off. Biasanya Michelle mengajak mereka aktivitas bersama seperti art and craft, lari, berenang, menonton bareng, ataupun  bercerita sebelum tidur.

Untuk keseimbangan dalam hidup apalagi sebagai wanita karir, menurutnya “me time ” sangat penting. Michelle selalu meluangkan waktu untuk ngopi santai maupun nonton di bioskop sendirian.

“Saya sangat menikmati hari sendiri saya. Justru pada waktu kesendirian itu muncul ide-ide segar baru,” tukasnya.

Ketika ditanya tentang dua anaknya apakah berminat di musik, Michelle mengaku keduanya kurang berminat. Namun Michelle tidak mempermasalahkannya. Ia tetap mendukung minat keduanya selagi memberikan dampak positif.

“Zaman sudah berbeda dan kita harus beradaptasi dengan generasi sekarang. Hobi itu banyak sekali, jadi saya tidak membatasi mereka. Tidak seperti di zaman kita. Cita-cita anak saya menjadi Games Youtuber. Jadi saat ini saya memberikan kursus games animasi kepada anak saya di ESDA PIK,” sebutnya.

Kepada generasi muda Pematangsiantar, Michelle berharap dapat membuka pikiran dan beradaptasi dengan perubahan. Bergaul dengan orang yang tepat, yang dapat memberikan pengaruh positif.

“Jangan berhenti belajar. Keluarlah dari zona nyaman. Dunia ini begitu luas dan menarik apabila kita dapat memanfaatkan sebaik-baiknya,” sarannya.

Hidup ini, katanya, adalah tantangan dan proses belajar. Apabila tantangan hidup terlewati, maka kita akan meningkat satu level lebih tinggi.

“Saya juga belajar bahwa kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Jangan selalu terpaku oleh pemikiran orang lain, tetapi tetaplah melakukan yang terbaik dan selalu berdoa kepada yang Berkuasa. Don’t give up easily in everything because there is something more powerful than us,” pungkas Michelle yang memiliki akun Instagram michelle.property ini. (awa/fe)

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close