Lifestyle

Mey Pasaribu: Anak Siantar jadi ‘Ambon Manise’

FaseBerita.ID – Perempuan, cantik, dan berpendidikan. Mey Pasaribu tidak ragu meninggalkan kota kelahirannya, Pematangsiantar. Mey rela meninggalkan orangtua dan keluarga demi mengabdi di Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Maluku.

Ya, kini gadis dengan nama lengkap Abas Mei Julita Pasaribu ini memilih berkarir sebagai penyidik di BNN Maluku. Kebetulan, pekerjaan Mey tersebut sejalan dengan pendidikannya, di Sekolah Tinggi Hukum Yayasan Nasional Indonesia (STH YNI) Pematangsiantar.

“Latar belakang pendidikan saya jurusan Hukum Pidana, dan judul skripsi saya kemarin tentang Analisis Psikologi Kriminal Atas Perempuan Dalam Tindak Pidana Narkotika,” terang Mey, dan menambahkan ia memang tertarik untuk mengetahui hal-hal apa saja yang mendasari orang melakukan tindak pidana, khususnya pidana narkotika.

Lebih lanjut, warga  Jalan Pdt J Wismar Saragih, Kelurahan Tanjung Pinggir, Kecamatan Siantar Martoba, Pematangsiantar ini mengatakan, meski harus jauh merantau dari Sumatera Utara, orangtua memberikan kebabasan.

“Saya sangat bersyukur karena orangtua selalu memberikan kebebasan dalam menentukan apapun,  termasuk yang berkaitan dengan pendidikan, pekerjaan, dan lainnya,” tukas perempuan yang hobi social travelling ini.

Orangtua, kata Mey, sangat memahami jika ia telah memilih sesuatu, berarti sudah tahu kemampuannya.

“Juga bagaimana kita bisa survive serta bagaimana kita menghadapi setiap resiko yang mungkin akan timbul. Istilahnya kita tahu apa yang terbaik buat kita,” jelas Mey lagi, yang mengaku mendapat dukungan dari teman-temannya.

“Meski wilayah penugasan saya sangat jauh dari Siantar, tapi teman-teman tetap memberikan doa dan dukungan,” tambah Mey, yang merasa sangat bersyukur atas semua itu.

Di Maluku, Mey bertugas di Kabupaten Buru Selatan. Setiap hari, ia bekerja menunaikan tugas negara.

“Karena masih baru beberapa bulan ada di sini, saya masih lebih banyak orientasi lingkungan, penjajakan budaya, dan karakter masyarakat setempat,” sebut buah hati dari pasangan suami istri Sitor Pasaribu dan Tumini Manurung ini.

Sedangkan di luar pekerjaan, saat ini Mey sedang berupaya bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk membangun Rumah Pintar atau Rumah Belajar. Mengingat Kabupaten Buru Selatan, termasuk daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Di wilayah tersebut, banyak anak-anak yang belum mendapatkan hak-haknya di luar sekolah, seperti tempat bermain, perpustakaan, dan lainnya. Sehingga dikhawatirkan kondisi ini berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang anak.

Mey termasuk pemudi yang aktif. Sebelum bergabung di BNN, dia sudah berkecimpung di kegiatan sosial di Pematangsiantar. Wanita kelahiran 1 Mei ini aktif di Komunitas Kita Serupa. Diterangkan Mey, Komunitas Kita Serupa adalah sebuah wadah yang pertama kali dibangun oleh beberapa orang yang peduli terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), sekaligus  mengedukasi masyarakat.

Menurut Mey, masih banyak masyarakat tidak tahu bagaimana harus bersikap dan menerima keberadaan ABK. Selama ini, kata Mey, ABK sering disebut sebagai anak cacat atau anak-anak abnormal. Sehingga kerap mendapat perlakuan yang bervariasi dari lingkungan, mulai di-bully, dihina, dikucilkan, dan dianggap seperti ‘monster” karena memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan sosial, serta penghindaran, penolakan  terbuka,  labeling,  bahkan  beberapa  mendapatkan  perlakuan  tidak  manusiawi.

“Labeling  atau  penyebutan  anak  dengan  kebutuhan  khusus  (autisme, bodoh, keterbelakangan mental, dll) membuat orang tua  cenderung sulit  menerima keadaan anak-anaknya  sehingga  tidak  sedikit  orangtua juga memperlakukan  anak-anak  mereka dengan tidak tepat,” terang Mey.

Masih kata Mey, awalnya Kita Serupa hanya  komunitas. Namun setelah beberapa kali melaksanakan kegiatan Kampanye Peduli ABK di Lapangan Merdeka atau Taman Bunga Pematangsiantar, juga menggelar kegiatan memeringati Hari Disabilitas Internasional, dan mendapatkan dukungan dari masyarakat Pematangsiantar, sejak Maret 2019 Komunitas Kita Serupa menjadi Yayasan Kita Serupa.

Saat ini, Yayasan Kita Serupa berusaha memastikan para ABK akan mendapatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan dengan mudah.

“Juga membangun komunikasi dengan Pemko Siantar terkait Pembangunan Taman Terapeutik, yaitu taman yang dikhususkan untuk ABK. Serta  upaya untuk memberikan kartu akses masuk gratis ke tempat umum dan tempat bermain anak bagi ABK di Pematangsiantar,” paparnya.

Diakui Mey, bergabung di Kita Serupa tentunya ada suka dan duka. Sukanya, kata dia bisa berdampak baik di lingkungan

“Termasuk aktualisasi tanggung jawab moral untuk memperhatikan dan memastikan bagaimana ABK mendapatkan haknya secara keseluruhan sebagai salah satu bentuk dukungan pada prinsip SDG’s ‘No One Will Left Be Behind’. Selain itu ada rasa dan kepuasan tersendiri bisa berinteraksi secara langsung dengan ABK, serta berdiskusi dengan orangtua ABK. Mendapatkan dukungan dan apresiasi dari masyarakat, serta Pemko Pematangsiantar yang sangat responsif dengan keberadaan Yayasan Kita Serupa,” terangnya.

Saat membangun Yayasan Kita Serupa, kata Mey, dukanya adalah mengubah pola pikir orangtua yang memiliki anak ABK, termasuk ketakutan akan respon masyarakat yang berbeda.

“Sulitnya lagi, menggugah masyarakat untuk dapat menerima keberadaan ABK. Tidak kita pungkiri, banyak penolakan dari masyarakat yang selalu mengatakan bahwa keluarga saya nggak ada yang cacat. Lalu kemudian, sebagian orang yang menggap kegiatan Kita Serupa itu tidak penting. Parahnya, sebagian lagi menganggap kita ‘cari muka’,” tukas Mey.

Masih di Pematangsiantar, Mey sempat bergabung di Badan Pengendalian Bencana Daerah (BPBD) Pematangsiantar.

“Ada sekitar empat tahun saya di BPBD,” tandasnya.

Saat masih di BPBD, Mey mengatakan sering menjadi Social Action Maker. Mengerjakan semuanya dengan cinta dan tanpa bersungut-sungut.

“Ya mengalir aja. Bisa mendapat pendidikan seputar kebencanaan, bisa melihat secara langsung dan lebih dekat dan merasakan bagaimana masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit dalam hal ini bencana. Prinsipnya, bukan tentang seberapa banyak rupiah yang sudah dikumpulkan, tetapi seberapa banyak orang yang sudah terdampak atas aksi positif kita,” jelasnya.

Hanya saja, sambungnya, saat di BPBD, ia harus sering pulang malam, harus cepat, cermat dan tepat dalam memberikan informasi kepada masyarakat.

“Telat sedikit ke lokasi bencana, langsung mendapat makian dari masyarakat. Padahal kan kita perlu tahu medannya, hal yang harus kita siapkan, terus resikonya petugas. Harapan ke depannya, agar masyarakat saling memahami dan saling memberikan dukungan,” ujar Mey yang saat masih menjadi mahasiswi, menjabat Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STH YNI selama dua periode.

Di masa menjabat Ketua BEM, Mey melaksanakan kegiatan pengabdian masyakat, yaitu Diskusi Masalah Hukum Nasional, Hukum Adat. Juga  Pemeriksaan Kesehatan dan Mata gratis bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun.

Mey juga pernah dua kali mengikuti Program Kelas Inspirasi Siantar, panitia Hari Anak Nasional dengan menghadirkan Kak Seto, dan beberapa kali melakukan pendampingan pada anak yang berhadapan dengan hukum.

“Saya merupakan Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Pematangsiantar Bidang Advokasi dan Hukum,” sebut Mey yang memiliki beberapa akun media sosial, yakni meipasaribu_ (Instagram), Mey Cibu (Facebook), m-cibu (Twitter), dan alamat surat elektronik mey.cibu@gmail.com.

Ke depan, Mey berharap ada lebih banyak anak muda dan remaja milenial yang peduli dan lebih peka terhadap lingkungan sekitar.

“Hal yang kecil bagi kita, mungkin sangat berharga bagi orang lain. Karena ABK tak butuh dikasihani. Mereka butuh dirangkul, diakui, dan dicintai,” kata Mey. (awa)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close