Lifestyle

Merry Jingga Rangkul Remaja Cinta Olahraga

Kondisi remaja zaman now yang lebih cinta dengan gadget daripada beraktivitas fisik, khususnya olahraga, membuat Merry Jingga prihatin. Sebagai pegiat olahraga, khususnya Zumba di Pematangsiantar, Merry sangat ingin merangkul remaja-remaja yang merupakan penerus bangsa itu.

Merry yang berhak menyandang gelar Zumba Instructor Network (ZIN) ini mengaku sangat mencintai olahraga. Sejak remaja, yakni saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia sudah rutin mengikuti senam aerobic. Hal itu berlanjut hingga ia kuliah dan bekerja di Jakarta.

Kembali ke Pematangsiantar setelah menikah dengan Susanto Effendi, Merry tetap aktif bersenam. Ia hanya vakum saat hamil dan melahirkan. Ketika sudah melahirkan, Merry kembali aktif.

Sekarang, ibu tiga anak ini fokus ke senam Zumba. Bahkan, ia mengikuti training khusus Zumba di Jakarta dua tahun silam, atau di tahun 2017. Pasca mengikuti training itulah, selanjutnya Merry bergabung di ZIN.

“Kalau untuk di Siantar, saya yang pertama ZIN. Jumlah ZIN terus bertambah. Sekarang ada sekitar delapan ZIN untuk Siantar aja. Siapa-siapa saja ZIN itu, bisa dilihat langsung di website www.zumba.com,” terang alumni SMA Kalam Kudus Pematangsiantar ini.

Zumba, menurut Merry yang sudah menjadi instruktur senam sejak tahun 2007 ini mengatakan, bukan sekadar bergoyang atau berjoget. Namun lebih ke dance.

“Ada standar gerakan dalam Zumba. Salah satunya Salsa. Jadi, jangan ketika ada orang senam goyang-goyang, terus dibilang Zumba,” terang ibu dari Willy, Beatrice, dan Nicholas ini.

Sebagai pelopor Zumba di Pematangsiantar, Merry bersama komunitas Siantar Zumbanation-nya, telah menggelar tiga kali Zumba Party. Kegiatan itu, kata alumni Fakultas Ekonomi Universitas Trisaksi Jakarta itu, merupakan event yang resmi.

“Yang pertama itu, kita bikin di Internasional Restaurant, lalu di Hotel Horison. Yang ketiga, kita bahkan mengundang ZIN dari Filipina, yakni Mark Kramer,” tukas perempuan yang sempat bekerja sebagai pegawai kantoran di Jakarta itu.

Merry sendiri sudah menjuarai berbagai kompetisi senam di Medan dan juga daerah lainnya. Sehingga sudah banyak piagam penghargaan yang diterima dan tersimpan rapi di rumahnya.

“Saya simpan rapi, karena pasti ada cerita dan perjuangan untuk mendapatkannya,” sebut Merry.

Di awal-awal mengikuti lomba, diakui Merry, tidak serta merta dia langsung meraih kemenangan. Saat kalah, dia tak langsung putus asa. Namun belajar dari kekalahan dan juga dari sang pemenang.

“Saya lihat yang menang itu mengapa dia bisa menang. Ternyata memang ada yang bisa saya pelajari. Selain gerakan dan teknik senam ya bagus, rupanya kostumnya keren, matching, juga eye catching. Nah, di kompetisi selanjutnya, tentu saya memperbaiki penampilan saya,” terang Merry.

Sebagai instruktur Zumba, hampir setiap hari Merry mengajar. Selain di beberapa sanggar senam, Merry juga kerap diundang berbagai instansi untuk mengajar senam. Murid-murid Merry dari berbagai kalangan dan usia. Bahkan ada yang usianya 65 tahun.

Merry senang melihat semangat mereka yang sudah lanjut usia (lansia) tapi tetap semangat berolahraga. Sebaliknya, ia miris karena remaja-remaja yang masih sangat produktif justru lebih suka duduk-duduk sambil pegang gadget.

“Iya kan. Mereka nggak lepas dari gadget. Bermedsos, nonton YouTube, terus selfie-selfie. Kapan olahraganya?” tanya Merry.

Kondisi itu, sambung Merry, sempat terjadi pada anak gadis satu-satunya, Beatrice. Dengan berbagai pendekatan, Merry berusaha mengajak putri kesayangannya itu untuk ikut olahraga. Apalagi, saat itu, berat badan sang putri sudah di atas ideal.

Meski awalnya bersedia ikut senam dengan penuh keterpaksaan, namun menurut Merry, saat ini Beatrice sudah ketagihan ikut berzumba. Berat tubuhnya pun sudah turun sedikit demi sedikit.

“Teman-teman saya sesama ZIN banyak yang memuji gerakan Zumba-nya Beatrice sudah semakin bagus. Ini bagi saya suatu kemajuan,” sebutnya.

Merry makin senang karena kemudian ada beberapa teman Beatrice juga mulai mau ikut bersenam, meskipun jumlahnya tidak banyak.

“Saya sudah suruh mereka mengajak teman-temannya untuk ikut senam. Tapi katanya, teman-teman mereka nggak mau. Sayang sekali kan, di masa remaja mereka sudah mulai kurang bergerak secara fisik,” kata Merry.

Untuk mengampanyekan olahraga, khususnya kepada para remaja, Merry berencana mendatangi sekolah-sekolah. Ia rela mengajar senam secara gratis untuk para remaja. Yang penting mereka menyediakan waktunya.

“Nggak bisa dibiarkan. Saya harus aktif. Saya siap memberikan pengajaran gratis,” ujar Merry yang kini sedang memerkenalnya jenis Zumba baru, yaitu Strong by Zumba.

Strong by Zumba, katanya, tidak lagi nge-dance, namun lebih kepada menunjukkan kekuatan tubuh. Levelnya, ada tiga, yakni low, base, dan max.

“Nggak perlu khawatir. Bagi pemula tentunya latihan di level low. Kalau gerakan-gerakan yang ada di YouTube atau Instagram, itu kan sudah level max,” tambah Merry yang juga sudah menyandang Strong by Zumba Instructor atau SYNC.

Merry, meski memiliki kegiatan di luar rumah, termasuk membantu bisnis suami, ia tetap istri dan ibu bagi anak-anaknya. Ia selalu berusaha urusan di rumah sudah beres, apalagi untuk keperluan anak-anak.

Merry sendiri mengatakan, sebelum mengajar senam di pagi hari, ia selalu masak untuk sarapan keluarga. Setelah pulang mengajar, ia kembali ke rumah dan memasak.

“Kalau belanja, biasanya di hari Minggi karena kebetulan tidak ada jadwal mengajar. Di hari Minggu lah saatnya memenuhi isi lemari es dengan bahan-bahan makanan,” tukas Merry yang mengaku setiap hari harus menikmati segelas kopi.

Sedangkan untuk liburan bersama keluarga, lanjutnya, biasanya di masa libur sekolah.

“Atau saat libur Imlek,” sambung Merry yang juga hobi renang, memasak, dan wisata kuliner ini. (awa)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker