Lifestyle

Melda Theodora Silaen: Pahitnya Hidup Ajarkan Banyak Hal

FaseBerita.ID – Jatuh bangun dan pahit manis dalam kehidupan merupakan hal biasa. Yang  luar biasa, ketika bisa menjadikan masa-masa jatuh dan pahit sebagai pelajaran berharga untuk menjadi lebih baik.

Hal tersebut yang dialami Melda Theodora Silaen. Perempuan energik ini bisa bangkit dari keterpurukan dan belajar banyak dari masa-masa sulit. Hingga kemudian, usaha yang dikelolanya bersama seorang teman baik, bisa berjalan sesuai harapan.

‘Bos’ Riris Putri Management (RPM) ini mengaku sempat terpuruk dalam kehidupan pribadinya. Hingga ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, terutama demi putra tunggalnya, Garent Salomo Barus.

“Dari Jakarta, saya kembali ke kota kelahiran saya, Siantar. Saya yang dalam kondisi down, membawa anak saya. Saya bingung mau kerja apa di Siantar ini,” terang bungsu dari delapan bersaudara ini.

Diakui Melda, selama ini ia hanya memiliki pengalaman berdagang. Karena sejak kecil, ia terbiasa mengikuti orangtuanya yang memiliki usaha toko sepatu.

Di tengah kebingungan, ia bertemu sahabatnya, Johan Lumban Gaol. Johan pun mengajak Melda untuk mengelola RPM. Kebetulan saat itu, Johan masih terikat pekerjaan dengan salah satu perusahaan British America Tobacco (BAT), sehingga tidak bisa fokus mengelola RPM.

Awalnya, Melda menolak. Ia merasa tidak memiliki kompetensi di bidang usaha event organizer (EO) dan sejenisnya. Pengalaman di bidang itu pun tidak ada sama sekali.

Namun Johan terus mendesak dan berusaha memberikan support. Ia yakin, Melda pasti bisa.

“Kata Bang Jo, jalani saja dulu. Kalau memang nanti tidak mampu, ya sudah,” cerita Melda.

Jadilah Melda bergabung di RPM terhitung sejak tahun 2014.

” Jadi RPM sudah lima tahun. Sebenarnya saya bukan bos di RPM. Saya lebih ke marketing dan humas. Bos RPM ya Bang Jo. Hanya saja, Bang Jo memberikan wewenang yang sangat besar untuk berkarya dan berkreativitas. Saya juga bisa mengambil keputusan, nantinya tinggal melaporkan ke Bang Jo,” terang Melda yang saat ini sedang mempersiapkan pementasan grup band asal Pematangsiantar, Punxgoaran di delapan kabupaten/kota di Sumatera Utara (Sumut).

Lebih lanjut, alumni SMA Negeri 1 Pematangsiantar ini mengatakan, selama lima tahun mengelola RPM, tentunya sangat banyak pengalaman yang diperolehnya. Banyak event yang sudah dikerjakannya, seperti pagelaran musik, terutama yang mendatangkan artis ibukota.

“Tak hanya event musik. Kita juga mengerjakan event-event lainnya, seperti gathering perusahaan, kegiatan di instansi pemerintah, dan lainnya,” jelas perempuan berkacamata ini, seraya menambahkan sudah banyak kota yang dijalaninya selama bergabung di RPM. Tak hanya kota/kabupaten di Sumut, tapi juga daerah lainnya, seperti Bali, Manado, Makasar, dan lain sebagainya.

“Kita pernah mengerjakan job yang klien-nya berada di Papua. Tapi pelaksanaan kegiatannya di Bali. Kita dari Sumut, klien dari Papua, bertemunya di Bali,” tukas wanita yang hobi travelling ini.

Berbagai event pernah dikerjakan Melda bersama tim RPM, namun yang paling berkesan adalah konser artis Judika Sihotang di Lapangan H Adam Malik tahun 2018 lalu. Penyebabnya, konser Judika yang digelar pihak lain seminggu sebelumnya, dibatalkan di hari H. Kondisi tersebut, kata Melda, tentu saja cukup menguras pikiran. Apalagi, izin dari kepolisian baru diterbitkan di H-1. Padahal mereka harus memersiapkan segala sesuatunya di lokasi acara, dan itu tidak mudah.

“Sebelumnya, berbagai cara sudah kita lakukan agar izin bisa cepat keluar.kalau satu saja izin tidak dikeluarkan oleh instansi berwenang, klien tidak akan mau. Kita pontang-panting saat itu, ke sana kemari. Saat itu, bukan profit lagi yang kita pikirkan, tapi sudah harga diri dan kepercayaan klien,” jelas Melda.

Di tengah fisik yang letih namun masih tetap semangat, Melda menolak ajakan rekannya, Johan untuk hadir dalam suatu pertemuan dengan klien. Kepada Johan, Melda mengatakan saat itu ia ingin berdoa, memohon yang terbaik kepada Tuhan.

“Puji Tuhan, besoknya surat izin diterbitkan. Berkali-kali saya mengucap syukur kepada Tuhan,” kenang Melda.

Diakui Melda, bekerja di EO tentunya banyak pengalaman diperolehnya. Ia bisa bertemu orang-orang penting dan hebat, dan yang pasti artis ibukota.

“Bisa berbicara langsung dengan orang-orang penting dan hebat, itu kan sesuatu yang luar biasa. Bagaimana saya harus berpenampilan dan mengatur cara berkomunikasi, bahasa tubuh, itu semua saya pelajari sambil menjalankan Pekerjaan ini. Ya, otodidak lah. Termasuk melobi pekerjaan dan presentasi,”  tukas Melda, yang untuk menjaga kesehatannya juga tidak terlalu neko-neko. Semuanya berjalan alami.

“Saya nggak ada pantangan makanan dan minuman. Kalau ingin makan atau minum sesuatu, ya dinikmati saja. Kalau sakit, ya minum obat,” ujar Melda, yang juga enjoy mengerjakan seluruh job yang dipercayakan kepadanya, termasuk bekerja di bidang yang didominasi para lelaki.

Di tengah kesibukannya, termasuk mengerjakan job hingga keluar kota, Melda pun mengaku memiliki keterbatasan waktu untuk putra kesayangannya. Anaknya yang kini duduk di kelas 3 SMP sempat protes karena ibunya kerap bekerja keluar kota.

“Namanya anak-anak, pasti ingin mamanya di dekat dia terus. Tapi sekarang dia sudah besar, sudah mulai memahami pekerjaan saya,” tambah Melda, yang jika tidak ada job biasanya mengajak anaknya berjalan-jalan, makan-makan, dan memenuhi permintaan si anak.

Kini Melda menikmati pekerjaannya di RPM. Dari pengalaman hidupnya yang pahit, Melda belajar berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan. Rasa percaya dirinya terbangun, dan ia mampu mandiri.

Melda pun berharap RPM yang dibangun dengan modal rasa percaya diri, bisa lebih maju dan mereka mampu memberikan pelayanan terbaik kepada klien sesuai target brand klien.

“Apapun ceritanya, hidup saya bergantung di RPM. Saya nyaman dan ingin terus di RPM. Saya nggak mau RPM tinggal kenangan,” tukas Melda yang mengajak generasi muda di Pematangsiantar untuk terus berkarya dan berkreativitas.

“Yang paling penting, jauhi narkoba!” sebut wanita yang di waktu luangnya menyempatkan diri bergabung dengan teman-temannya, untuk jalan dan juga nongki-nongki. (*)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button