Lifestyle

Mardi Purba Dasuha Ciptakan Teks Pancasila versi Bahasa Simalungun

Isi Pancasila sudah banyak diterjemahkan dalam berbagai versi bahasa, baik bahasa Inggris sebagai bahasa internasional maupun bahasa daerah di Indonesia. Namun teks Pancasila dalam Bahasa Simalungun, baru dimunculkan oleh Mardi Purba Dasuha.

Anak muda ini dikenal sebagai praktisi seni dan budaya Simalungun. Dia mampu menari, teater, bisa aksara Simalungun, dan memahami adat-istiadat Simalungun.

Khusus teks Pancasila versi Bahasa Simalungun, menurut Mardi, diciptakannya sekitar dua tahun lalu. Namun baru dipublikasikannya saat ia tampil marbual pokkalan (stand up comedy dalam Bahasa Simalungun, di acara Senandung Simalungun 3, di Siantar Hotel, Sabtu (14/3) malam lalu.

Saat tampil, Mardi membawakan topik “Jahe” yaitu Janda Hebat. Dalam penampilannya selama sekitar sembilan menit itulah, Mardi menyempatkan diri memperkenalkan teks Pancasila dalam Bahasa Simalungun.

“Selama ini, paling-paling teman dekat saya yang tahu. Karena saat mengobrol, kadang-kadang saya mau juga menyampaikan teks Pancasila ala Simalungun,” sebut anak kedua dari tiga bersaudara, buah hati Usman Purba Dasuha dan Sutia Manurung ini.

Teks Pancasila versi Bahasa Simalungun yang diciptakan Mardi, yaitu:

  1. Lang adong na pajagojagohon i lobeini Naibata (Ketuhanan)
  2. Maradat hubani haganup jolma (beradab)
  3. Partuppuan halak Simalungun (persatuan)
  4. Martinggili, marsisarbutan salpu ai mardame (mufakat)
  5. Bahat pe bois, otik pe sukkup (adil)

Alumni SMA Negeri Panombeian Panei Kabupaten Simalungun ini piawai membawakan beberapa tarian Simalungun. Sebut saja, Tortor Sombah dan tarian kreasi, seperti Haruan Bolon.

Untuk menari, Mardi mengaku sempat dilatih oleh Oppung Raminah Saragih Garingging (86) dari Sanggar Rayantara. Perempuan yang masih sehat dan gesit itu, kata Mardi, rencananya dijadikan Maestro melalui Jabu Sihol milik Daniel Oppusunggu.

Sedangkan untuk teater, Mardi berlatih bersama Sultan Saragih.

“Saya pernah ikut pementasan Tuan Sangnaualuh Damanik, saat peringatan Hari Ulang Tahun Kota Pematangsiantar empat tahun lalu,” sebut Mardi yang saat ini menjadi sekretaris pengusaha Juanita Tarigan.

Penampilan lainnya, di pementasan Tuan Rondahaim Saragih saat peringatan Hari Pahlawan beberapa tahun lalu.

“Sekarang Tuan Rondahaim Saragih diusulkan sebagai Pahlawan Nasional,” tambah pria yang lahir 5 Desember 1994 ini.

Mardi sendiri memiliki ciri khas dalam penampilannya sehari-hari. Dalam empat tahun terakhir, ia kerap mengenakan hiou (kain khas Simalungun) di leher. Saah satu koleksinya, sehelai hiou Simakkat-akkat peninggalan oppung bapaknya.

“Namanya Oppung Pogang. Menurut cerita keluarga, oppung itu meninggal tahun 1952. Bahkan bapak saya tidak sempat mengenalnya. Selama ini, hiou tersebut disimpan bapatua saya. Ketika saya lihat ada di lemarinya, saya minta dan sekarang selalu saya pakai,” papar Mardi yang memahami banyak hal tentang Simalungun dari literasi dan cerita para tetua.

Di masa sekolah, Mardi bercita-cita menjadi penyair. Ia sering menulis puisi. Bahkan, saat masih duduk di bangku SMA, puisi ciptannya berjudul Janji Belaka, mendapat hadiah dari kepala sekolahnya berupa uang sebesar Rp500 ribu.

“Itu saat peringatan Hari Guru. Ketika teman-teman yang lain membuat puisi dengan thema guru, saya tampil beda,” tukas Mardi yang di tahun 2009 menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Kabupaten Simalungun.

Mardi yang aktif sebagai pengajar aksara Simalungun di Jabu Sihol, ingin menggalakkan kembali tradisi Simalungun yang mulai terlupakan. Salah satunya, ritual maranggir.

“Bahkan saya mengajak untuk mengonsumsi air jeruk purut. Sebab jeruk purut mengandung anti oksidan yang tinggi,” tandas Mardi yang memiliki keinginan travelling keliling dunia. (awa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button