Lifestyle

Mamnah Lubis (Mem’s Collection) Kerjakan Bros Handmade dengan Cinta

Meski seorang diri, termasuk menyelesaikan pesanan bros handmade hingga 2 ribu pieces, Mamnah Lubis selalu mengerjakannya dengan penuh cinta. Ia tak ingin hasil karyanya asal jadi, yang akhirnya terbuang sia-sia.

Ibu dua putri ini selalu menganggap barang yang dikerjakannya seolah-olah akan dikenakannya sendiri. Sehingga ia benar-benar fokus dan memerhatikan kualitas.

Misalnya suvenir pesta pernikahan. Ia ingin hasil karyanya bisa dinikmati dan digunakan sebagaimana mestinya.

“Jangan menganggap sepele suvenir pernikahan. Bayangkan, ketika yang menerima suvenir ingin menggunakan bros handmade, eh langsung putus atau rusak. Akhirnya terbuang, kan? Meskipun dibayar, saya sebagai orang yang membuatnya pasti sedih. Jual barang kok nggak berkualitas,” ujar Mamnah yang merasa senang jika customer puas dengan hasil karyanya.

Diceritakan perempuan berhijab ini, ia menekuni usaha bros hijab handmade ini sudah berjalan hampir empat tahun. Saat itu ia masih berstatus pengajar di salah satu madrasah di Pematangsiantar.

Awalnya, ia hanya melihat-lihat foto bros hijab handmade di media sosial Facebook. Saat melihatnya, Mamnah yakin bisa membuatnya dengan mudah.

“Jadi, dulunya itu ya untuk dipakai sendiri aja. Rupanya banyak saudara dan kawan yang memuji. Kata mereka, cantik,” terang Mamnah, yang ditemui di tempat usahanya yang sekaligus tempat tinggalnya di Perumahan Simalungun Indah Permai (Jalan SIP), di Jalan Asahan Km 4 Kabupaten Simalungun.

Lantas, banyak saudara dan teman minta dibuatkan, dan tidak sedikit yang membayar. Hingga kemudian, atas dorongan teman, Mamnah yang akrabh disapa Mem, memutuskan untuk menjadikan bros handmade sebagai usaha.

Tanpa meninggalkan pekerjaannya sebagai pengajar di madrasah, Mamnah mulai fokus mengerjakan bros hijab handmade. Bahkan, kemudian tak hanya nros yang dikerjakannya. Tapi barang-barang handmade lainnya, seperti aneka suvenir, bandana baby, bandana anak, deco case handphone, hingga bouqet bunga pengantin.

Untuk marketing, Mamnah tidak mengalami kesulitan. Ia bisa mempromosikan barang-barang hasil karyanya sendiri karena ia memang mengenakan hijab. Selain itu, biasanya ia memosting foto-foto hasil karyanya di akun Facebook Mamnah Loebiz.

“Ketika saya masih aktif mengajar, pelanggan saya itu sesama guru, orangtua murid, bahkan murid saya yang biasanya minta dibuatkan bros hijab ukuran kecil,” terang Mamnah yang sekitar tujuh bulan lalu memutuskan berhenti mengajar.

Selain dirinya sendiri, sang ibu yang aktif di kegiatan religi seperti pengajian, juga selalu mengenakan bros hijab buatan putri tersayang. Tentu saja banyak teman ibunya yang tertarik.

“Ibu saya sudah tua. Tapi dia selalu tampil cantik, termasuk dengan mengenakan bros buatan saya,” tukas anak ketiga dari empat bersaudara itu.

Diakui Mamnah, meski belajar secara otodidak, namun ia selalu berusaha update model-model terbaru dari media sosial. Ia tak ingin ketinggalan mode.

“Kita ikuti perkembangan. Jangan monoton. Dulu sempat bros hijab menggunakan bunga-bunga besar. Kalau sekarang kan nggak lagi,” sebutnya seraya menambahkan, hasil karyanya sempat selama dua tahun mengisi toko suvenir di Taman Hewan Pematangsiantar.

Lebih lanjut dikatakan Mamnah, sejak masih sekolah dulu ia memang sudah kreatif. Jika ada prakarya di sekolah, buatannya selalu tampil beda di antara teman-temannya.

“Termasuk sekarang ini untuk prakarya anak saya di sekolah. Sejauh ini nggak pernah dipulangkan. Selalu dipajang di kelas atau di ruangan guru,” sebut alumni Diploma Tiga (D-3) jurusan Statistik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sumatera Utara (USU) tersebut.

Saat masih aktif mengajar, Mamnah biasanya mengerjakan bros hijab dan lainnya hingga larut malam. Apalagi jika banyak pesanan, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri dan Hari Guru. Sehingga karena terlalu letih, ia jatuh sakit.

Kini, setelah tak lagi mengajar, Mamnah lebih bebas bekerja di ruangannya yang berada di bagian belakang rumah. Ia bisa bekerja di siang hari, dan tidak perlu begadang.

“Malah anak-anak kadang tidur-tiduran di sini sambil membantu saya mengemas bros ke dalam plastik. Atau membantu saya mengambilkan sesuatu. Mereka sudah mulai bisa membuat bros sendiri dan menjualnya ke kawan-kawan sekolah mereka,” jelas ibu dari Syaimima Wajhan Sinaga (11) dan Shilfi Naylin Sinaga (10).

Mamnah sendiri tidak menyangka, usaha handmade-nya bisa berjalan lancar dan nyaris selalu ada orderan. Sehingga sangat jarang ada barang yang ready stock. Ke depan, pemilik label Mem’s Collection ini ingin memiliki tempat usaha yang lebih besar, punya asisten yang berasal dari kalangan ibu rumah tangga (IRT), sehingga bisa selalu ada barang yang ready stock.

Selama ini, lanjutnya, memang selalu ada yang datang untuk belajar darinya. Karena niat mereka hanya belajar, setelah bisa mereka kembali ke daerahnya dan membuka usaha sendiri.

“Nggak apa-apa. Saya senang kalau mereka yang belajar dari saya bisa membuka usaha sendiri. Saya tidak segan berbagi ilmu,” tandas wanita yang memiliki pelanggan hingga di luar Pematangsiantar dan Simalungun, serta reseller hingga Bali dan Kendari.

“Bahkan ada pembeli dari Malaysia. Dia ambil barang dari saya, dan dijual kembali di Malaysia,” tambah perempuan yang lahir tanggal 21 Juli ini.

Mamnah yang bersama keluarganya sempat menetap di Parapat, Kecamatan Girsang Simpangan Bolon, Kabupaten Simalungun ini mengaku ia tidak mau menggunakan barang buatannya yang merupakan sisa atau malah yang rusak. Ia selalu membuat bros secara khusus untuk dirinya sendiri. Bahkan untuk ibunya, kerap didahulukan.

“Nggak tau ya. Kalau ada model terbaru, saya selalu duluan untuk ibu saya. Ya, biar berkah. Malah ibu saya sering menolak. Dia bilang, udahlah dijual saja. Termasuk bros yang saya buat dari Swarovski yang kalau dijual harganya jutaan rupiah,” sebut istri dari Abdul Rahman Sinaga ini.

Meski sibuk dengan orderan, Mamnah selalu menjadikan Minggu sebagai hari keluarga. Apalagi, dua putrinya yang mulai memasuki usia remaja sudah bisa protes jika melihat Mamnah terus berkutat dengan pekerjaannya. Biasanya, Mamnah bersama suami dan anak-anaknya keluar dan bersilaturahmi dengan keluarga besar di hari Minggu. (awa)

iklan usi