Lifestyle

Lina Purnamasari: Sejak Sekolah Suka Matematika

FaseBerita.ID – Pelajaran matematika sering menjadi momok menakutkan bagi murid-murid, termasuk orangtua. Meski tidak sedikit siswa yang memang gemar dengan pelajaran ‘angka’ tersebut.

Sama halnya dengan yang pernah dialami Lina Purnamasari. Beberapa tahun lalu, putri sulungnya mengalami kendala khusus dalam pelajaran matematika.

“Sudah kelas lima SD, tapi belum terlalu paham perkalian,” katanya.

Sebagai solusi, Lina mendaftarkan anaknya mengikuti les matematika. Bukan hanya satu, tapi kedua anaknya.

Namun ternyata, anak keduanya merasa tidak nyaman dan mulai bosan mengikuti les matematika. Padahal, kata Lina, anaknya tersebut sebenarnya memiliki potensi di bidang matematika.

“Anaknya bilang bosan, jadi nggak mungkin dipaksa. Padahal saya sangat ingin menggali potensi dia untuk pelajaran matematika,” terang perempuan asal Malang, Jawa Timur itu.

Suatu hari, saat bertelepon dengan kakak iparnya yang menetap di Pulau Jawa, Lina mendapat saran agar anaknya mengikuti les matematika di Sakamoto. Menurut kakaknya, Sakamoto mengutamakan pembentukan logika melalui soal-soal dalam bentuk cerita, dan tentunya tanpa mengesampingkan materi dasar matematika, yakni penjumlahan, pengurangan, perkalian, serta pembagian.

Selanjutnya Lina mulai mencari informasi lebih banyak tentang Sakamoto. Hingga ia mengambil kesimpulan Sakamoto bagus untuk mengembangkan kreativitas anak.

Hanya saja, Lina harus dihadapkan pada kenyataan: belum ada les matematika Sakamoto di Pematangsiantar. Yang ada baru di Medan. Lina sedikit kecewa. Padahal ia sangat bersemangat ingin anaknya belajar matematika di Sakamoto.

Di tengah kekecewaannya, Lina bercerita dengan suaminya, Edwin Teguh Nusantara. Edwin yang memang berprofesi sebagai pendidik, bahkan pada masa itu menjabat kepala sekolah di salah satu SMP swasta favorit di Pematangsiantar, justru menyarankan Lina membuka les Sakamoto di Pematangsiantar. Ia mendukung Lina menjadi pelopor les Sakamoto di kota dengan motto Sapangambei Manoktok Hitei ini.

Mendengar saran dari suami, Lina sempat tertegun. Sebab di benaknya selama ini tidak pernah terpikir untuk memiliki tempat les. Meskipun saat masih menjadi mahasiswa Teknik Pertanian di Universitas Negeri Jember, Lina sempat menjadi guru private les.

“Suami malah menyuruh saya buka les Sakamoto. Saya bingung, apa bisa saya buka tempat les? Apalagi selama 15 tahun tinggal di Pematangsiantar ini, saya hanya ibu rumah tangga,” terang Lina.

Bungsu dari empat bersaudara itu merasa tertantang. Ia pun mengirimkan surat elektronik ke Sakamoto yang ada di Jakarta. Tetapi, hingga dua tahun, tidak kunjung mendapat respon. Lina pun ‘menyerah’.

Lina kembali ingat dengan Sakamoto ketika anaknya tidak kunjung mendapatkan tempat les seperti yang diinginkannya. Lina pun mencoba mengirim surat elektronik lagi ke Sakamoto di Jakarta.

Kali ini, surat Lina langsung mendapat respon. Ia diminta menghubungi Sakamoto di Medan.

“Desember 2017 kita kali pertama bertemu dengan pihak Sakamoto di Medan. April 2018, kita sepakat membuk les Sakamoto di Pematangsiantar, dan Juli 2018 Japanese Mathematics Center (JMC) Pematangsiantar di Jalan Ciptomangunkusumo sudah beroperasi,” terang Lina, seraya menambahkan les matematika Sakamoto didirikan pria berkebangsaan Jepang, Dr Hideo Sakamoto. Dia-lah yang menemukan metode Sakamoto.

Masih kata ibu dari Saskia Tan (14) dan Andrew Hansen (9) ini, di awal pembukaan, Lina berusaha memperkenalkan dan membangun branding Sakamoto di Pematangsiantar. Diakuinya, tidak mudah memperkenalkan sesuatu yang baru. Bahkan, saat itu tidak sedikit yang membandingkan Sakamoto dengan tempat les matematika yang sudah ada sebelumnya.

“Ya, kita mulai memperkenalkan Sakamoto kepada kenalan dan orang-orang yang dekat. Selanjutnya, orang-orang itu memperkenalkan Sakamoto kepada kenalannya,” jelas wanita yang hobi memasak, termasuk membuat kue untuk keluarga.

Di Sakamoto, Lina bukan hanya sebagai pemilik, tetapi sekaligus staf pengajar.

“Dengan saya, kita ada lima pengajar,” tambah Lina yang sempat menjadi asisten dosen di masa kuliah.

Lebih lanjut dikatakan perempuan yang memang gemar dengan pelajaran matematika ini, para staf pengajar wajib menjalani training di Medan terlebih dahulu. Juga mengikuti ujian pengetahuan dasar.

Lina merasa sangat bersyukur, ada seorang staf pengajarnya yang sempat mengajar di Sakamoto Jakarta. Guru tersebut diminta orangtuanya kembali ke Pematangsiantar. Di Pematangsiantar, begitu dia tahu ada les Sakamoto, langsunglah ia melamar sebagai tenaga pengajar.

“Saya sangat bersyukur mendapatkan tenaga pengajar yang sudah berpengalaman,” tukas Lina yang di masa duduk di Sekolah Dasar (SD) bercita-cita sebagai guru.

Diakui Lina, setelah mengenal Sakamoto, banyak orangtua murid yang antusias. Karenanya, Lina optimis les Sakamoto bisa berkembang di Pematangsiantar.

Apalagi, meski belum ada dua tahun beroperasi, sudah ada murid Sakamoto Pematangsiantar yang mengikuti World Sakamoto Mathematics Championship (WoSaMaC), yaitu olimpiade khusus untuk murid-murid Sakamoto tingkat nasional.

“Kita yakin, akan ada dari Sakamoto Pematangsiantar yang mengikuti WoSaMaC tingkat internasional,” tandas Lina yang membiasakan anak-anaknya hidup sederhana ini.

Masih kata Lina, sebagai perantau di Pematangsiantar, apalagi ia berasal dari Pulau Jawa, ia berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan di Pematangsiantar.

“Tentunya banyak perbedaan kehidupan di Siantar dengan di Jawa, termasuk karakter orang-orangnya. Apalagi saya dan suami di sini tidak punya saudara. Jadi kami saling support, dan hingga saat ini,” sebut Lina yang mengaku selalu menyediakan waktu untuk kebersamaan dengan suami dan anak-anaknya. (*)



Unefa

Pascasarjana
Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close