Lifestyle

Lia Pamukti Girsang Selalu Teringat Surat untuk Ayah

FaseBerita.ID – Memenangkan berbagai kompetisi atau lomba senam, tentu saja membuat Lia Pamukti Girsang senang dan bangga. Namun sebenarnya ada hal yang disimpannya, yang membuatnya selalu termotivasi untuk berbuat lebih baik lagi.

Setiap memenangkan kompetisi, Lia selalu teringat ayahnya, almarhum Jansiamin Purba Girsang. Sebab, ia sempat berjanji untuk membanggakan sang ayah dalam bidang senam, termasuk menjadi instruktur senam professional.

Ceritanya, pemilik nama Lengkap Lia Anggreini Pamukti Girsang ini sudah rutin mengikuti senam sejak masih duduk di kelas 1 SMP. Kebetulan, pemilik sanggar senam sekaligus instrukturnya, Silvi, merupakan teman orangtuanya. Nah, guru tersebut melihat Lia memiliki minat dan bakat besar dalam senam. Sehingga, ia langsung membimbing Lia.

Suatu ketika, untuk kali pertama Lia mengikuti kompetisi senam. Ternyata, Lia melaju hingga 20 besar, namun tidak memeroleh predikat juara. Saat itu, Lia mengaku sangat sedih. Ia pun merasa malu kepada ayahnya. Apalagi, selama mengikuti senam, ayah lah yang menyediakan seluruh perlengkapan, plus mengantar dan menjemputnya.

“Karena kalah, di mobil saya menangis. Saya merasa belum bisa membuat bapak bangga. Bapak pun menghibur saya. Tapi saya tetap saja sedih,” tandas istri dari Alex Fedrico Napitu ini.

Sampai di rumah, dengan perasaan yang diliputi kesedihan dan kekecewaan, Lia menulis surat yang ditujukan untuk ayahnya. Isinya, meminta maaf karena belum bisa memenangkan lomba dan membuat ayahnya bangga. Di surat itu, Lia juga berjanji harus bisa menjadi instruktur senam profesional.

“Padahal, saat itu, karena masih SMP, belum paham kali apa itu profesional. Tapi begitulah yang Lia tulis di surat,” tukas Lia sambil meneteskan air mata.

“Maaf, kalau ingat bapak, Lia jadi mellow,” tambahnya.

Selanjutnya, kertas surat dilipat. Lalu diselipkan Lia di antara tumpukan pakaian bapaknya di lemari. Keesokan harinya, Lia melihat posisi surat sudah berubah dan tampak sudah dibuka.

“Namun bapak nggak pernah mengatakan apa-apa tentang surat itu. Sampai bapak meninggal saat Lia di bangku SMA,” sebut alumni SMA Negeri 2 Pematangsiantar ini.

Saat masih SMP, Lia sudah menjadi asisten instruktur senam. Hingga ia memasuki masa SMA, Lia mulai menjadi instruktur senam di salah satu hotel di Pematangsiantar. Namun, ayahnya melarang. Alasannya, image hotel terkesan negatif. Ayahnya tidak rela, putri kesayangannya itu dinilai negatif oleh orang-orang.

Lia sempat berkeras. Ia beralasan, yang dilakukannya hanya bersenam, bukan hal-hal negatif. Lia keras, ayahnya lebih keras. Lia diminta memilih, tetap senam atau sekolah.

Diberi pilihan sulit, Lia pun mengalah. Kepada ayahnya, ia berjanji memilih sekolah.

“Meski begitu, Lia kadang curi-curi waktu mengajar senam. Lia mengajar pagi, guru Lia ada juga yang ikut senam. Jadi, Lia sering terlambat masuk sekolah, tapi nggak pernah dimarahi guru,” kenang Lia, seraya menambahkan hingga sekarang masih ada guru sekolahnya dulu menjadi murid senamnya.

Diakui Lia, dirinya up and down dalam senam. Apalagi, setelah menikah dan punya anak. Ditambah, suami tercinta sempat tidak mengizinkannya mengajar senam.

Lia tidak pasrah begitu saja. Ia terus berusaha meyakinkan suami dan keluarga besarnya bahwa ia tetap menjaga nama baik keluarga.

“Lia berusaha agar suami dan keluarga percaya kepada Lia. Dan Lia pun tetap menjaga kepercayaan yang telah diberikan. Hingga akhirnya mereka mengizinkan Lia kembali senam,” terang perempuan yang kembali aktif mengajar senam dalam tiga terakhir ini.

Kini, sang suami mendukung penuh kegiatan Lia. Bahkan bersedia mengantar Lia jika ada kegiatan di luar kota, termasuk saat mengikuti kompetisi senam. Seperti, saat Lia berkeras mengikuti kompetisi di Kisaran, Kabupaten Asahan beberapa waktu lalu.

Lia, yang saat itu berada di Parapat, Simalungun, mengetahui ada lomba senam di Kisaran, di malam hari sebelum perlombaan. Kepada suami, Lia mengatakan ingin ikut. Namun suaminya melarang dengan alasan jarak tempuh cukup jauh.

“Dari Siantar saja, jaraknya cukup jauh. Apalagi dari Parapat. Malam itu Lia nggak bisa tidur. Lalu Lia rayu-rayu suami. Akhirnya suami mengizinkan. Subuh, kami berangkat  dari Parapat. Sampai Siantar, singgah ke rumah hanya untuk mengambil perlengkapan senam. Lalu, cusss… ke Kisaran,” cerita Lia.

Sampai di lokasi acara, baru mendaftar. Tentunya dengan biaya pendaftaran lebih mahal.

“Tapi semuanya terbayar, karena Lia meraih juara pertama,” jelas Lia senang, dan menganggap kompetisi tersebut paling berkesan. Meski, masing-masing kompetisi selalu memiliki kesan tersendiri.

Selain kompetisi di Kisaran, dalam tiga tahun terakhir ini Lia juga mengikuti kompetisi di Medan. Malah hingga tiga kali. Dari tiga kompetisi itu, dua kali Lia meraih juara. Sedangkan di satu kompetisi, yang kali pertama diikuinya, Lia belum meraih juara.

Ibu dari Bintang Napitu (14) dan Carlissa Napitu (3) ini menganggap my job is my hobby (pekerjaanku adalah hobiku). Soalnya, dengan hobi senam, Lia bisa memeroleh berbagai keuntungan, termasuk materi.

“Tubuh sehat, punya banyak teman, dan dibayar,” katanya.

Apalagi, Lia pernah menerima job senam di Parapat selama dua hari. Saat itu, ia bisa membawa dua buah hatinya sekalian berlibur.

“Anak-anak senang, seluruh akomodasi ditanggung, dan dibayar. Jadi, saat itu Lia kerja sambil liburan,” sebutnya lagi.

Hal yang paling berkesan lainnya, saat Lia terlibat mengisi acara senam Zumba di perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Pematangsiantar tahun 2017. Lia merupakan salah satu dari 10 instruktur yang ‘bergoyang’ di atas panggung besar.

“Acaranya malam hari dan ramai,” tambah perempuan yang juga hobi menari dan mendengarkan musik ini.

Ke depan, Lia ingin lebih profesional dalam senam. Ia menganggap senam merupakan dunianya. Sehingga ia pun kerap mengikuti berbagai pelatihan yang berhubungan dengan senam.

“Lia yakin, senam tidak akan pernah mati. Namun terus berkembang,” tandas Lia, yang setiap weekend, Sabtu dan Minggu, tidak menerima job senam demi meluangkan waktu untuk keluarga.

“Sabtu dan Minggu, biasanya Lia bawa anak-anak jalan, makan, atau berenang,” jelas Lia, yang ingin sukses dalam karir dan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, termasuk pendidikan.

Lia sangat berharap, ilmu yang dimilikinya sebagai instruktur senam (aerobic) dan dance mix open bisa memberikan manfaat bagi orang banyak, terutama bagi masyarakat di Siantar-Simalungun. (awa)

Unefa

Pascasarjana

Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close