Lifestyle

Lia Konsisten dengan Keripik Pisang Kepok Kuning

FaseBerita.ID – Menjadi ibu rumah tangga bukan lantas tidak bisa menghasilkan pendapatan. Sudah banyak ibu rumah tangga yang kreatif dengan home industry.

Salah satunya Lia. Ibu dua anak yang tinggal di kawasan Jalan Medan Simpang Kerang Pematangsiantar ini berbisnis keripik pisang kepok kuning.

Tidak bisa dipandang sepele. Keripik pisang kepok kuning buatan istri dari Syaiful Abdi Chaniago ini sudah menerima pesanan dari luar daerah, seperti Porsea, Parapat, bahkan Medan.

Lia menerangkan, ia memulai bisnisnya sejak sekitar setahun lalu. Awalnya, untuk mengisi waktu luangnya, daripada tidak ada kesibukan di rumah.

“Tadinya masih coba-coba aja. Rupanya banyak yang suka. Katanya enak.  Dari situ, mulai banyak pesanan,” sebut ibu dari Rizky Aditya Chaniago (8) dan Nazwa Choirunnisa Chaniago (4) ini.

Lia mengaku belajar sendiri cara membuat keripik pisang. Ia memilih pisang kepok kuning karena lebih bagus dan rasanya lebih enak. Meski selama ini ada saja yang menyarankannya untuk mencoba pisang jenis lain, namun Lia menolak.

“Saya konsisten menggunakan pisang kepok kuning,” tegas bungsu dari tujuh bersaudara ini.

Perempuan berhijab ini lebih lanjut mengatakan, sejauh ini ia mengerjakan sendiri keripik pisang buatannya. Mulai mengupas, mengiris, menggoreng, mengemas, hingga mengantar ke pemesan.

“Untuk mengupas pisang, ada teknik tersendiri, agar nantinya keripik tidak hitam. Jadi tidak bisa sembarangan,” kata Lia yang menyediakan dua rasa keripik pisang, yakni original dan manis.

“Untuk membuat keripik yang manis, juga ada cara tersendiri agar gulanya tidak kelihatan,” tambah alumni SMA Erlangga Pematangsiantar ini.

Dalam membuat keripik pisang, Lia mengaku berusaha menjaga kualitas. Selain jenis pisang harus kepok kuning, minyak goreng yang digunakannya harus dalam kemasan.

“Saya nggak pernah pakai minyak goreng curah. Dan selalu hanya sekali pakai. Makanya keripik buatan saya tampak cantik. Nggak apa-apa untung sedikit, yang penting usaha saya lancar,” tukas Lia yang semasa gadis sempat bekerja sebagai operator di salah satu warung internet (warnet) di Jalan Wahidin Pematangsiantar. Juga sempat bekerja di loket salah satu taksi jurusan Pematangsiantar-Medan.

Lia resign karena menikah dan kemudian mengikuti suaminya yang bekerja di salah satu perusahaan perkebunan di Kepulauan Riau (Kepri). Namun kemudian Lia memilih kembali ke Pematangsiantar. Baru kemudian, suaminya memilih resign dan ikut kembali ke Pematangsiantar.

Pulang dari Kepri, Lia sempat berjualan sayur dan lauk masak di rumahnya. Juga menerima pesanan catering. Namun ia menganggap usaha tersebut terlalu melelahkan karena setiap hari sekitar pukul 05.00 WIB sudah banyak pembeli yang datang.

“Jadi akhirnya lebih nyaman bisnis keripik pisang. Awalnya hanya bikin 5 kilogram, lalu 10 kilogram, hingga sekarang sekali bikin 100 kilogram,” ujar Lia yang memiliki pelanggan di sejumlah instansi, bank, dan pemilik toko. Ia juga memiliki beberapa reseller.

Lia yang juga dikenal dengan Bunda Rizwa (Rizky dan Nazwa) ini mengatakan ingin terus mengembangkan bisnisnya. Hanya saja, katanya, sering terkendala bahan bahan baku pisang. Sekarang saja, ia mendapatkan pisang dari Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai).

“Susah dapat pisang. Pernah dapat pisang yang ternyata banyak bijinya. Nggak jadi dibikin keripik. Terpaksa cari pisang lagi,” tandas perempuan yang lahir 20 November 1998 ini.

Sejauh ini, Lia memasarkan produk keripik pisang buatannya melalui media sosial (medsos). Selain itu, ia bekerja sama dengan beberapa pelaku home industry lainnya, misalnya yang membuat keripik tempe, kue bawang, kue kering, dan lainnya.

“Kami saling menjadi reseller. Saya bawa dan tawarkan produk kawan-kawan, dan mereka tawarkan keripik pisang buatan saya,” sebutnya. (awa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button