Lifestyle

Laura Tias Avionita Sinaga, Lestarikan Budaya Simalungun melalui Tarian

Usianya relatif muda, masih 23 tahun. Namun Laura Tias Avionita Sinaga sudah banyak menciptakan tarian yang gerakannya diadopsi dari tarian Simalungun yang sudah ada.

Kecintaan Laura kepada tarian sudah mendalam. Bahkan, cedera di kaki akibat kecelakaan pada tahun 2016 lalu bisa sembuh jika ia tetap menari.

“Sempat divonis tidak bisa lagi berjalan, bahkan harus diamputasi. Tapi perlahan bisa sembuh dengan terus menari. Memang harus pelan-pelan karena hingga sekarang pun masih dalam proses pemulihan,” tukas pemilik Sanggar Seni Simalungun Home Dancer (Sihoda) ini.

Laura sudah mengenal dunia tari sejak masih balita. Sebelum mengecap pendidikan formal, justru ia sudah dimasukkan ibunya, Tioria Damanik, ke salah satu sanggar tari yang ada di Rambung Merah, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun.

Laura terus menari, terutama tarian Simalungun di berbagai kesempatan. Bahkan saat duduk di bangku SMA Negeri 1 Raya, ia dan beberapa temannya kerap diundang untuk menari oleh Pemerintah Kabupaten Simalungun, termasuk untuk menyambut para tamu.

Setelah lulus SMA, Laura memutuskan melanjutkan pendidikan ke Pendidikan Seni, Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) Universitas Negeri Medan (Unimed). Meski keluarga besar agak kecewa dengan keputusannya, namun Laura jalan terus. Apalagi, kedua orangtuanya setuju.

“Menurut keluarga, saya seharusnya mengambil jurusan lain karena mereka tahu saya cukup pintar di bidang akademik,” terang gadis berhijab dan berkacamata ini.

Di kampus, Laura tentunya mendapatka banyak ilmu dan pengetahuan tentang seni tari. Ia juga aktif di menari di sejumlah kegiatan mahasiswa, khususnya di organisasi mahasiswa Simalungun.

Tak hanya menari, Laura juga diminta melatih menari teman-temannya di organisasi. Hingga kemudian terbentuk kelompok penari.

Kelompok penari itu menjadi cikal-bakal bagi Laura dalam mendirikan Sihoda di tahun 2014. Di Sihoda, Laura mengembangkan dan melestarikan budaya Simalungun di bidang seni tari. Tak hanya mengajar tarian Simalungun yang sudah ada, namun Laura juga menciptakan tarian baru yang gerakannya diadopsi dari gerakan tarian Simalungun.

“Untuk koreografi, saya sendiri yang ciptakan. Sedangkan aransemen musik, saya bekerja sama dengan komposer,” terang Laura yang sudah membawa grup tarinya ke ajang Festival Keraton Masyarakat Adat ASEAN di Sumenep beberapa waktu lalu.

Salah satu tarian yang diciptakan Laura yakni Tari Sihol. Tarian ini, katanya, menceritakan tentang kehidupan penyandang difabel.

Dilanjutkan Laura, murid-muridnya di Sanggar Sihoda tak hanya dari etnis Simalungun, namun beragam. Ada Batak Toba, Karo, Jawa, dan Tionghoa. Selain belajar tarian Simalungun, mereka juga mempelajari tarian etnis lain.

“Di Sanggar Sihoda, tidak hanya memelajari gerakan tarian yang sudah ada, tapi juga olah tubuh dan kelenturan. Saya ingin, murid-murid saya tak sekadar bisa menari, namun haris mampu menciptakan tarian,” tukas perempuan yang jika ingin menciptakan tarian harus mengadakan penelitian ke desa-desa dan menemui para budayawan. (awa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button