Lifestyle

Karina Deliana Pulungan Mama Muda dan Cantik Piawai Ngulek Sambal

Masih muda dan cantik, siapa sangka Karina Deliana Pulungan piawai membuat berbagai macam sambal. Ibu dua anak yang akrab disapa Aryn ini bahkan menjadikan sambal sebagai lahan bisnis.

Sambal yang dikemas dalam kemasan cup tersebut ternyata banyak peminatnya. Alhasil, Aryn pun bertekad menekuni bisnis tersebut.

Aryn menceritakan, kepiawaiannya membuat sambal bermula ketika ia mengikuti suaminya bertugas di Kalimantan beberapa tahun lalu. Suaminya, Jefry Tan sangat gemar mengonsumsi sambal.

“Suami saya selalu minta sambal setiap kali makan nasi. Meskipun hanya potongan cabai dicampur kecap, yang penting ada sambal,” terang ibu dari Edgard (4) dan Elcano (1 tahun 3 bulan).

Karenanya, Aryn pun berusaha belajar membuat beberapa jenis sambal. Ia mencoba membuat sambal hijau yang kebetulan andalan keluarganya. Sambal lainnya, yaitu sambal kincung atau kecombrang yang resepnya diperoleh dari teman-temannya di Kalimantan. Hanya saja, sambungnya, di Kalimantan lebih dikenal dengan nama sambal lucung.

“Juga sambal matta yang sempat populer beberapa waktu lalu,” tukas alumni SMK Negeri 3 Pematangsiantar jurusan Pariwisata ini.

Awal 2019 Aryn dan keluarga kembali ke Pematangsiantar. Di kota kelahirannya ini, Aryn dan suami mencoba berbisnis. Mereka membuat menu ayam penyet dengan aneka sambal. Juga kari ayam plus sambal hijau, baby cumi, teri kacang, hingga rendang jengkol. Masakan tersebut dipasarkan secara online.

Bisnis tersebut berjalan lancar. Bahkan, Aryn dan suami sempat berencana membuka kafe. Namun rencana tersebut terpaksa ditunda. Sebab sang suami menerima tawaran pekerjaan ke luar negeri.

Bahkan, bisnis kuliner Aryn juga vakum karena putra sulungnya mulai masuk sekolah.

“Repot kali waktu itu. Suami sudah berangkat, dan anak saya yang besar mulai sekolah. Yang nomor dua juga masih bayi,” sebut perempuan yang memberi merek bisnisnya dengan nama Bymamiedkitchen.

Maret 2020, wanita yang sempat bekerja sebagai Sales Promotion Girl (SPG) saat masih lajang ini memulai kembali bisnis kulinernya. Hanya saja kali ini, ada menu khusus sambal, dan ternyata menjadi yang paling laris.

Menurut Aryn, sambal buatannya dikerjakan secara manual. Tidak menggunakan blender atau mesin penggiling listrik. Hal itu, kata dia, sengaja dilakukannya untuk menjaga rasa.

“Kalau pakai blender, kurang mantap. Makanya diulek. Karena banyak, nguleknya pakai lumpang. Biasanya dibantu mama. Kalau untuk sambal matta, kan bahannya diiris-iris saja,” jelas wanita yang lahir 4 November 1990 ini.

Aryn menjamin, sambal buatannya selalu fresh karena memang baru dibuat jika ada orderan. Tidak pernah bermalam, tanpa penyedap, hanya ditambah garam dan kaldu jamur. Khusus sambal hijau, ditambah teri sehingga rasanya lebih gurih.

“Kalaupun ada sambal yang berlebih semalam, tidak akan saya jual untuk hari ini,” sebut Aryn yang tetap langsing meskipun tanpa diet.

Aryn, sulung dari empat bersaudara ini, menjual sambal buatannya dengan harga Rp10 ribu per cup kemasan 200 mililiter. Pelanggannya, banyak dari kalangan Tionghoa.

“Kebetulan, waktu suami saya masih di Siantar, dia memasarkannya ke teman-temannya yang Tionghoa,” tandas Aryn yang sering memosting masakannya di akun Instagram: @arynadeliajap. (awa)

USI