Lifestyle

Kaleidoskop 2019: Viral Akar Bajakah untuk Kanker Payudara

Obat herbal saat ini sedang jadi primadona. Masyarakat sudah mulai beralih mengonsumsi obat herbal sebagai pendamping obat atau resep dari dokter. Karena itu, saat akar bajakah yang diklaim bisa mengobati kanker payudara ditemukan, langsung mendadak isu itu menjadi viral. Masyarakat berbondong-bondong mencari akar bajakah.

Peristiwa ini menjadi viral sekitar Agustus 2019 saat publik mulai ramai mengetahui penemuan akar bajakah oleh 3 siswa asal Palangkaraya, Kalimantan bernama Yazid, Anggina Rafitri, dan Aysa Aurealya Maharani. Mereka menemukan obat penyembuh kanker dari kayu bajakah. Akar bajakah diklaim bisa menjadi obat anti kanker atau melawan kanker.

Internis Konsultan Hematologi dan Onkologi RS Kanker Dharmais dr Ronald A. Hukom mengatakan, masih perlu beberapa tahapan studi lebih lanjut untuk menjawab apakah akar bajakah bisa digunakan sebagai obat kanker. Tahapan studi ini mungkin akan memerlukan waktu cukup lama (belasan tahun).

Menurutnya, terapi standar untuk kanker, juga disebut terapi ‘tradisional’ atau ‘konvensional’, merujuk pada pengobatan dari Barat yang spesifik. Untuk kanker payudara, itu termasuk kemoterapi, terapi hormon, radiasi, dan pembedahan. Dia meminta masyarakat perlu bersikap bijak dalam menyikapi temuan seperti itu.

“Ya, masyarakat perlu selalu bersikap kritis dan mencari sumber yang dapat dipercaya tentang hal seperti ini, misalnya langsung bertanya pada dokter atau rumah sakit yang tepat,” katanya.

Didukung Pemerintah

Dalam dunia kesehatan, juga dikenal metode pengobatan dengan bahan-bahan herbal. Nama ilmunya disebut fitofarmaka. Kementerian Kesehatan melalui Balitbang Kemenkes mendorong uji akar bajakah dikembangkan lebih lanjut.

Era Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, ketiga siswa itu sudah diundang untuk mempresentasikan temuannya. Mereka berharap temuan mereka bisa mermanfaat bagi masyarakat.

Kepala Balitbang Siswanto mengungkapkan Bajakah dalam bahasa Dayak artinya akar-akaran. Jadi Bajakan bukanlah nama spesies tanaman. Saat disinggung terkait khasiat Bajakah yang diklaim mampu mengobati kanker, menurutnya masih terlalu dini. Menurutnya, obat bahan alam dari tanaman, biasanya pendekatannya dalam bentuk ekstrak.

Untuk menuju fitofarmaka, ada uji pre klinik, uji sel lainnya untuk kanker payudara, lalu kemudian baru dengan uji mencit (tikus) lalu lanjut ke manusia.

Dia juga menegaskan bahwa penelitian dilanjutkan untuk meninjau cara kerja, keamanan, dan manfaatnya. Terkait dengan ekstrak efek anti-kanker, maka harus diuji pada sel lain. Dan di dalam uji pada manusia, langkahnya masih panjang.

Kementerian Kesehatan memastikan penelitian lebih lanjut akan didukung oleh Balitbang Kemenkes. Dukungan termasuk soal riset klinis dan pembiayaan atau dana riset.

Tanggapan Dunia Industri

Di tempat terpisah, Vice President Research & Development dan Regulatory SOHO Global Health Raphael Aswin menjelaskan saat ini animo masyarakat menggunakan bahan herbal sebagai obat mendorong industri farmasi untuk lebih meningkatkan risetnya. Dia menilai tak hanya temulawak, bahan-bahan lain seperti jahe, kunyit, dan jambu biji sudah banyak terbukti melalui penelitian.

Saat ditanya soal temuan akar bajakah, menurut Aswin, paling terpenting bagi dunia industri adalah ketersediaan bahan. Sedangkan untuk akar bajakah, ketersediaannya masih belum bisa menjamin.

“Kami dari pihak industri (belum melirik). Untuk temuan seperti itu, kalau industri yang kami utamakan adalah supply. Nah kalau supply harus bisa kita maintain. Itu kan (akar bajakah) dari akar pohon yang usianya sudah tua. Mungkin hanya pada batch tertentu kami dapat, itu kami sulit di situ. Limited. Makanya kami fokus pada produk-produk yang bahan bakunya bisa kami manage,” tegasnya. (jp/int)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button