Lifestyle

Junita Lila Sinaga dari NGO ke Bawaslu

FaseBerita.ID – Nama Junita Lila Sinaga saat ini dikenal sebagai salah seorang Komisioner Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Pematangsiantar. Namun jauh sebelum bertugas di lembaga negara tersebut, ia sudah lama mengabdikan diri di Non Government Organization (NGO) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Terhitung sejak tahun 1997, Lila, demikian ia biasa disapa, sudah bergabung di Forum Komunikasi Pemberdayaan Masyarakat (FKPM). FKPM merupakan lembaga yang mendampingi para buruh industri.

“Saya lulus dari Fakultas Hukum Universitas Simalungun tahun 1993. Setelah lulus, orangtua tidak mengizinkan saya meninggalkan Siantar. Memang, sejak SMA dan kuliah pun, saya tetap harus di Siantar,” cerita perempuan berambut panjang ini.

Orangtua, tambahnya, memang cukup ketat mengawasi pergaulannya. Orangtua, lebih setuju rumah mereka dijadikan tempat berkumpul teman-teman Lila. Sehingga, orangtua mengenal semua teman-temannya, malah ada yang sudah dianggap sebagai anak sendiri.

Pascawisuda, Lila sempat ikut menjalankan bisnis bersama keluarga. Hingga kemudian ia diajak bergabung di FKPM. Namun di tahun 1999, Lila memilih keluar dari FKPM. Lantas, bersama beberapa temannya, mereka mendirikan Lembaga Advokasi Pemberdayaan Rakyat (LAYAR), tepatnya September 1999.

Awal pendirian LAYAR, katanya, karena para buruh yang tadinya mereka dampingi merasa kecewa. Alhasil, mereka pun berinisiatif mendirikan NGO baru, yang juga peduli terhadap buruh.

Diakui Lila, saat mendampingi buruh, ia dan teman-temannya menunjukkan totalitas. Bahkan, mereka memiliki program Live in dengan buruh.

“Jadi, kami menginap di kediaman buruh, seperti tempat kos mereka selama 3-4 malam. Kita ikut dalam keseharian mereka. Kami pernah makan ramai-ramai dengan buruh langsung dari kuali,” cerita Lila yang  yang aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) saat masih mahasiswi.

Dengan mengetahui kehidupan para buruh sehari-hari, mereka menganalisa dan memutuskan kapan para buruh bisa mengikuti program-program mereka.

Dalam perjalanannya, LAYAR tak hanya mendampingi buruh, namun ‘merambah’ mendampingi program trafficking atau perdagangan manusia. Hal ini terjadi, karena mereka menemukan ada kasus trafficking di salah satu perusahaan perkebunan. Kasus tersebut berdasarkan informasi dari buruh dampingan.

“Kami pun berkomunikasi dengan NGO yang khusus peduli trafficking, namun karena di Siantar belum ada NGO seperti itu, akhirnya LAYAR yang mengurusinya,” sebut wanita yang tinggal di Jalan Linggarjati Pematangsiantar itu.

Lila pun terus aktif di NGO. Di tingkat Sumatera Utara (Sumut), ia tergabung di Forum Perempuan Sumatera Utara, Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), dan hingga kini di Aliansi Sumut Bersatu (ASB). Di ASB, Lila merupakan anggota pendiri.

“Untuk LAYAR sendiri, saya sudah non aktif sejak tahun 2011. Dan orang-orangnya juga sudah menyebar dan kini memiliki kegiatan sendiri-sendiri,” tukasnya, seraya berharap ada anak-anak muda di Pematangsiantar yang memiliki kepedulian terhadap buruh, anak-anak, dan perempuan.

Lebih lanjut Lila mengatakan, di NGO, sangat banyak yang dia peroleh dan pelajari. Mulai sistem komunikasi, tim kerja, dan lainnya. Sebab bagaimanapun, pekerjaan yang dikerjakan oleh tim pasti hasilnya lebih cepat dan lebih baik.

Masih kata Lila, kepuasan batin lah yang diperolehnya saat bergabung di NGO. Apalagi jika telah berhasil menuntaskan suatu kasus. Kepuasan itu, tidak bisa dinilai dengan uang.

“Jadi, memang tidak mudah bertahan di NGO. Malah tidak sedikit yang menganggap kami yang aktif di NGO adalah orang-orang yang kurang kerjaan. Itu bagi mereka yang orientasinya memang uang. Padahal, bekerja dan berbuat saja dulu, uang akan datang melalui donatur. Donatur kan tidak bodoh, mereka melihat dulu apa yang sudah dibuat dan apa program dari suatu NGO, baru mengucurkan dana,” papar Lila.

Setelah non aktif di LAYAR, Lila vakum dalam kegiatan apapun. Apalagi, dipicu meninggalnya sang ibu yang sangat disayanginya.

“Ada donatur yang menawarkan dana ke LAYAR. Tapi karena saat itu saya sibuk mengurus ibu saya yang sakit, saya nggak berani menerimanya. Hingga kemudian setelah ibu saya meninggal, saya sangat terpukul dan terpuruk,” jelas Lila yang ditinggal ibu untuk selama-lamanya pada November 2011.

Lila yang senantiasa aktif, menjadi mengurung diri. Jika ada teman yang mengajaknya ke luar, ia memilih di rumah saja. Malah si teman yang disuruh menemaninya di rumah.

“Praktis, hidup saya hanya makan tidur, nonton televisi. Benar-benar enggan melakukan kegiatan. Teman-teman pun bingung. Ada yang mengajak bergabung dalam suatu kegiatan, jawaban saya selalu sama, yakni malas,” terangnya.

Hingga kemudian, menjelang Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) tahun 2013, saat itu yang menjabat Komisioner Bawaslu Sumut (dulu Panwaslu) Esther Ritonga, rekannya sesama aktivis NGO, banyak teman mengajaknya bergabung di Bawaslu untuk Kota Pematangsiantar. Namun lagi-lagi Lila menolak. Apalagi, sejak dulu ia memang tidak tertarik dalam bidang politik.

Hanya saja, teman-temannya terus mendesak. Mereka bersedia mengurus berkas-berkas yang dibutuhkan asalkan Lila bersedia. Akhirnya, Lila luluh. Apalagi, terus mendapat dukungan dari teman-temannya.

“Saya hargai juga kepedulian mereka. Saya ikut tes, dan dinyatakan lulus. Jadilah saya sibuk mengurus Pilgubsu di Pematangsiantar saat itu,” beber Lila, yang sebelumnya pernah menjadi pemantau pemilih independen.

Kini, hingga tahun 2023 Lila menjabat Komisioner Bawaslu Pematangsiantar. Tak lama lagi, hingga tahun depan, Lila akan disibukkan mengurus Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Pematangsiantar.

“Kalau untuk ke politik praktis, seperti menjadi anggota legislatif, sejauh ini saya belum terpikirkan. Padahal, sejak ada kewajiban keterwakilan perempuan 30 persen dalam daftar calon anggota legislatif, ada saja partai politik yang mengajak saya. Biarlah saya menjalankan amanah yang sedang dipercayakan kepada saya saat ini,” jelas Lila yang mengaku merasakan situasi, sistem, dan ritme kerja yang berbeda di Bawaslu dibandingkan dengan di NGO.

Lila sadar, amanah yang sedang diembannya bukan karena dirinya hebat. Ia yakin ini hanya titipan Tuhan.

“Atas yang saya capai sekarang ini, ada andil dari semua pihak, terutama Tuhan dan teman-teman yang peduli serta menyayangi saya,” pungkasnya. (awa)

Unefa

Pascasarjana

Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close