Lifestyle

Juniaty Theresia Sitinjak: Selalu Berjuang dan Berserah pada Tuhan

Demi bisa menjadi panutan di lingkungan masyarakat dan membanggakan keluarga, Juniaty Theresia Sitinjak tetap berjuang.

Tidak ada kata prustasi, selalu berjuang serta berserah kepada Tuhan. Inilah yang selalu jadi motivasi gadis yang berparas cantik ini.

Anak pertama dari 4 bersaudara ini menceritakan, suka dukanya selama kuliah itu banyak. Yang paling klasik kalau buat keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah apalagi kalau bukan masalah pembayaran uang kuliah.

“Ada saja masa dimana terkadang buat mengumpulkan Rp1.000 saja susahnya minta ampun. Suka duka yang paling berkesan dulu sewaktu kuliah dapat tawaran buat mengajar di sekolah. Saat itu dimulai pada semester 5 akhir. Padahal masa PPL belum dijalani tapi sudah jadi guru,” ujarnya.

Dulu mikirnya kuliah sambil kerja sangat susah. Namun setelah dijalani, nikmatnya luar biasa.

“Semuanya campur aduk dan berantakan, Paling stres saat jadwal mata kuliah dan mengajar sama. Mau permisi ke sekolah gak berani apalagi minta ganti roster. Karna jadwal kuliah gak bisa diubah, habis kuliah ya langsung berangkat ke sekolah buat mengajar. Demi tugas dan tanggung jawab dalam mencerdaskan anak bangsa,” kata wanita yang tinggal di Jalan Durian no 45 lapangan bola atas kecamatan Siantar Selatan ini.

Dulu pernah nekat tidak masuk kuliah demi jadwal ngajar dan demikian sebaliknya. Dulu sempat pernah berpikir bakal gimana dan sampai prustasi dengan keadaan. Tapi semuanya berkat Tuhan dan dorongan dari orang tua serta keluarga dapat di selesai dengan baik dan keduanya bertahan sampai garis finish.

Dia juga bercerita kalau suka duka yang satu ini pasti semua mahasiswa pernah mengalaminya yaitu minta tanda tangan dan persetujuan dosen buat skripsi agar dapat wisuda dalam waktu yang telah ditetapkan.

“Rasanya sudah kayak ngalah-ngalahin minta tanda tangan dan persetujuan presiden. Udah susah payah janjian sama dosennya, mendadak beliau ngebatalin, minta dijadwalin ulang, atau bahkan nyuruh nunggu lama dulu sampai akhirnya bisa ditemui. Nunggu mulai sampai sore tapi gak bisa juga konsultasi. Dalam sejarah dunia belajar, gak pernahlah sampai nangis, tapi karena skripsi inilah aku pernah nangis. Deadline 1 minggu terakhir lagi jadwal sidang lewat dari situ ya tahun depan wisuda katanya,” ceritanya yang masih ingat bener saat itu dia lagi sakit tapi harus jadi wonder girl buat mengurus skripsi.

Saat disinggung motivasi jadi guru itu awalnya dari mana dan termotivasi dari siapa, Juniati mengatakan saat pertanyaan ini muncul dan ditanyakan bingunglah mau menjawabnya. Karena dari kecil sudah bercita-cita menjadi seorang guru yang di sebut pahlawan tanpa tanda jasa.

“Ya bingung jawabnya. Tak ada motivasi tertentu. Tapi mulai dari kecil kalau ditanya mau jadi apa ya jawabnya mau jadi guru. Kesannya pada masa itu kalau jadi guru keren dan hebat. Tapi seiring berjalannya waktu dan pengalaman selama jadi guru, 1 yg jadi motivasi besar kenapa mau jadi guru, karena menjadi guru setiap harinya tetap belajar. Bukan hanya siswanya yg belajar. Ternyata jadi guru mampu mengubah sifat anak murid. Rasanya ada kepuasan dan kelegaan tersendiri dalam hati kalau berhasil mendidik anak murid itu. Aku itu orangnya cuek, keras kepala. Saat bertemu dan menghadapi siswa yg sama sepertiku sifatnya, rasanya seperti dapat lawan perang. Tapi dengan semdirinya, akunya yg jadi melembutkan hati dan mampu mengajaknya bicara dari hati ke hati. Sewaktu mengajar siswa dan mentransfer ilmu ke mereka rasanya seperti sedang memandang masa depan,” terangnya.

Kalau motivasi dari keluarga pasti ada. Karena anak pertama dan keluarga pasti menaruh harapan besar. Karena anak pertama adalah contoh buat adek-adeknya. Mereka mendukung secara penuh apa yg menjadi pilihan.

“Kalau dari keluarga selalu memotivasi saya bang apapun pilihan dan apapun yang akan saya lakukan akan pihak keluarga selalu mendukung. Karena orang tua saya juga selalu bilang kamulah contoh buat adik-adik kamu, kalau kamu sukses pasti adik-adik kamu juga ikut,” ujar wanita yang hobby membaca itu.

Juniati menambahkan menjadi seorang guru itu harus bisa memotivasi murid. Apa lagi Anak didik sekarang jauh berbedalah saat dia menjadi murid. kalau Anak didik zaman sekarang punya dunia sendiri sepertinya dan agak susah kalau dinasehati. Jadi disinilah tantangan menjadi seorang guru itu muncul.

“Jadi saya selalu mengingat mereka dan selalu mengingat mereka. Jangan sia-sia kan keringat dan tenaga orangtua yang menyekolahkanmu. Guru mu yang di sekolah adalah perwakilan orangtuamu dalam mendidik dan mengajar kamu. Pada dasarnya tak ada orang tua yanh mengajarkan anaknya hal yg tidak baik,” harapnya.

“Sesibuk apapun saya, selalu menyempatkan waktu untuk kumpul dengan keluarga karena keluarga selalu menjadi prioritas utama,” sebutnya. (Mag 04)

Universitas Simalungun  
Tags

Berita lainnya

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close