Lifestyle

Juniarta Uli Simangunsong: Berawal dari Modal Rp27 Ribu

FaseBerita.ID – Bisnis yang sudah dimulai dan berjalan namun sempat diabaikan, dan kemudian ditekuni kembali. Bahkan diharapkan bisa makin berkembang.

Hal itulah yang dialami Juniarta Uli Simangunsong. Tahun 2012 ia sudah memulai bisnis nail art (seni melukis kuku). Meski tidak memiliki tempat praktek (baca: salon) namun bisnis tersebut sudah berjalan. Bahkan Arta-demikian panggilan akrabnya-sudah memiliki banyak klien. Tidak main-main, dari bisnisnya itu, Arta yang saat itu sudah memiliki dua putri, bisa membeli sepedamotor.

Bisnis tersebut, katanya, diawali dengan modal hanya Rp27 ribu. Dengan uang tersebut, Arta membeli tiga warna cat kuku (kutex) yaitu hijau, merah, dan putih plus alat lukis kuku.

Dengan yakin,  Arta mengecat dan melukis sendiri kukunya. Tidak disangka, ada seorang temannya yang tertarik dan minta kukunya dilukis.

Arta menolak karena merasa tidak percaya diri. Namun si teman memaksa dan Arta pun akhirnya bersedia. Setelah selesai, si teman memberikan uang kepadanya Rp20 ribu.

Arta kaget dan tertegun. Ternyata, pikirnya, nail art bisa dijadikan ladang bisnis dan menghasilkan uang.

Tanpa berpikir terlalu panjang, Arta mulai bergerak. Ia mendatangi Pasar Dwikora Parluasan. Di pasar tradisional itu, Arta mulai menawarkan jasa nail art kepada beberapa pedagang yang dikenalnya. Selain itu, ia mendatangi salon-salon yang ada, dan meninggalkan nomor kontaknya.

Ternyata, banyak yang tertarik. Arta pun merambah ke Pasar Horas. Metodenya sama, mendatangi para pedagang dan salon-salon. Hasilnya memuaskan. Klien semakin banyak dan pundi-pundi mulai terkumpul.

Arta makin bersemangat. Ia mencoba mendatangi salon-salon yang ada di Siantar Plaza. Lagi-lagi ia mendapat sambutan positif. Arta pun bersedia datang ke rumah-rumah dan kos-kosan untuk memberikan jasa nail art.

Saat itu, katanya, ia tidak terlalu memikirkan uang yang diterimanya. Ia lebih semangat bekerja, berkarya, dan berkreativitas. Hasil pun tak mengkhianati proses. Sedikit demi sedikit uang terkumpul. Arta pun menambah koleksi cat kukunya hingga menjadi ratusan. Sehingga ia harus membawa tas besar untuk memuat cat kuku bila memenuhi panggilan klien.

Selain itu, Arta yang sebelumnya mendatangi klien dengan naik angkutan umum dan berjalan kaki, bisa membeli sepedamotor.

“Padahal saat itu saya memberikan tarif nail art Rp20 ribu untuk 10 jari tangan.  Kalau termasuk jari kaki, jadi Rp40 ribu,” kenang ibu tiga anak ini, yaitu Tiolenvia Siahaan, Audry Abelita Siahaan, dan Neymar Siahaan.

Selain bisnis nail art, Arta mulai mencoba bisnis lain. Ia jual beli barang eks impor (rojer), mulai pakaian, sepatu, hingga tas. Saat itu, alumni SMK Pariwisata Universitas Simalungun (USI) Pematangsiantar jurusan travelling itu sempat tidak didukung suami, Marupa Siahaan. Menurut suami, orang-orang yang ingin menikmati jasa nail art bisa langsung datang ke salon dan yang ingin beli rojer bisa langsung ke pasar.

Namun Arta tidak peduli. Ia memilih menjemput bola dalam menjalankan bisnisnya. Meskipun suatu hari ia pernah merasa ‘ditipu’ klien.

Ceritanya, ada yang meminta Arta datang ke rumahnya untuk jasa nail art. Ternyata letak rumahnya jauh dari jalan besar. Arta minta dijemput, namun si klien menolak dan mengatakan rumahnya tidak terlalu jauh dari jalan raya.

“Katanya dia mau cat kuku untuk 20 jari. Berarti kan Rp40 ribu. Ya sudah, saya mau. Ternyata rumahnya sangat jauh dari jalan raya. Parahnya, dari yang janjinya nail art 20 jari menjadi hanya 10 jari. Jadi saya hanya dapat Rp20 ribu. Ya sudah, saya berusaha ikhlas. Saya yakin rezeki sudah diatur Tuhan,” kenang Arta.

Ternyata, Arta terlena dengan bisnis rojer yang lebih simpel. Alhasil bisnis nail art telantar dan ditinggalkannya.

Menganggap bisnis rojer lebih menjanjikan, Arta membuka butik di dekat rumah orangtuanya, Jalan Patuan Anggi No 200 Pematangsiantar di tahun 2016. Namun karena sesuatu hal, bisnis itu terpuruk. Arta ‘jatuh’.

Arta berusaha bangkit. Perlahan ia menyadari memiliki talenta yang sempat diabaikannya. Ia mencoba kembali ke bisnis awal, yakni nail art.

“Jadi tahun 2018 saya kembali ke nail art.  Butik saya ubah jadi Salon Arta. Saya merasa, inilah bisnis saya sebenarnya. Tanpa harus sekolah dan membayar mahal, saya mampu mengerjakan nail art secara profesional. Tuhan itu baik,” sebut Arta yang kini juga melayani jasa make up, hair do, dan perawatan tubuh serta rambut.

Diakui Arta, sebenarnya saat ia masih duduk di bangku SMP, oppung Boru (nenek) dari pihak ayah telah memintanya untuk menekuni bidang salon kecantikan. Bahkan sang oppung menyarankan nama untuk salonnya, yakni Arta Salon. Namun saat itu, Arta tak memedulikan saran oppung-nya. Sebab saat itu ia yang suka jalan-jalan, berkeinginan masuk sekolah pariwisata jurusan travelling, agar bisa terus jalan-jalan.

Saran oppung tak pernah diingat Arta. Lulus SMK, Arta malah merantau ke Batam dan bekerja di sana. Hingga setelah menikah pun, Arta tetap di Batam. Hingga kemudian kembali ke Pematangsiantar.

Barulah, setelah ingin kembali memulai bisnis nail art, Arta teringat saran oppung-nya yang sudah meninggal dunia.

“Saya senang bisa memenuhi keinginan oppung. Suami pun sudah mendukung sepenuhnya. Saya ingin fokus ke nail art juga ke bidang salon kecantikan. Saya ingin sekolah make up dan hair do agar bisa merias pengantin,” jelas Arta yang memiliki impian salon miliknya berubah menjadi Home Nail Art.

Arta ingin terus berkarya dan berkreativitas, khususnya di nail art. Dia menyadari telah memulainya dari nol. Namun berkat usaha dan keyakinannya, ia bisa bangkit dan perlahan membeli peralatan nail art.

“Harga alat-alatnya tidak murah. Tapi pelan-pelan bisa saya beli satu per satu. Saya ingat, dulu untuk mengeringkannya harus pakai kipas angin. Kalau dipanggil klien, saya selalu bilang agar sediakan kipas angin. Sekarang saya sudah punya alatnya khusus,” sebut Arta yang mengaku saat sekolah sebenarnya tidak suka pelajaran menggambar, namun kini malah ia mampu melukis di atas kuku.

Masih kata sulung dari tiga bersaudara ini, sebenarnya hingga kini ia tidak percaya bisa mampu bangkit dan memiliki salon sendiri. Bahkan ia mampu berkreasi dalam melukis kuku.

“Biasanya saya dapat inspirasi untuk nail art di malam hari sebelum tidur. Saya bayang-bayangkan, terus saya coba.  Saya yg foto dan didokumentasikan,” terang Arta yang kini juga masih menjalankan bisnis online shop untuk produk fashion.

Kini, Arta mulai dikenal sebagai nail artist. Kliennya dari berbagai kalangan, terutama menengah ke atas. Mulai wanita karir, istri pejabat, pengusaha, dan lainnya, khususnya para perempuan yang selalu ingin tampil cantik dan menawan.

“Kalau sekarang tarifnya mulai Rp100 ribu hingga Rp400 ribu. Tergantung bentuk yang diinginkan klien,” tukas perempuan yang juga bersedia mendatangi klien sesuai janji dan jadwal yang disepakati.

Sejauh ini, Arta menampilkan hasil karyanya di media sosial Facebook (FB) dengan akun Munaroh. Menurut Arta, ia memang aktif di FB, namun lebih banyak memosting hasil karyanya.

“FB untuk jualan dan cari uang. Begitulah kira-kira,” tandas Arta seraya menambahkan, nama Munaroh adalah panggilan untuknya dari para sahabatnya.

Arta berpesan jangan pernah takut berkarya dan jangan pernah putus asa dalam kondisi apapun. Setiap orang, katanya, memiliki talenta masing-masing yang bisa dikembangkan.

“Kuncinya, tetap yakin. Dan, jangan iri dengan kesuksesan orang lain. Kita tidak tau apa saja yang sudah dikerjakannya untuk meraih kesuksesan. Kerjakan saya, selebihnya serahkan kepada Tuhan,” ujarnya. (awa)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button