Lifestyle

Jenrianto Juara Nasional Tata Rias Pengantin Adat Karo

Sebagai penata rias pengantin adat, Jenrianto sering mengikuti berbagai perlombaan, bahkan hingga berskala nasional. Tahun lalu, Jen meraih juara umum Tata Rias Pengantin Kategori Non Paes yang digelar Jakarta. Saat itu, Jen menampilkan pengantin adat Karo, yang tingkat kesulitannya dianggap sangat tinggi.

Memang sejak kecil, Jen senang melihat dekorasi atau pelaminan pengantin. Jika ada tetangga yang punya hajatan, ia betah memerhatikan para pekerja memasang pelaminan.

Kegemarannya berlanjut hingga ia remaja. Bahkan, di saat duduk di bangku SMK Pariwisata Universitas Simalungun (USI) Pematangsiantar, Jen sudah memiliki beberapa helai kain dan aksesoris yang bisa digunakan untuk membuat pelaminan sederhana.

“Pelaminan sederhana untuk acara  khitanan sudah bisa saya buat saat itu,” terang warga Marjandi Embong, Kecamatan Panombeian Panei, Kabupaten Simalungun ini.

Lulus SMK, Jen melanjutkan pendidikan ke Akademi Pariwisata dan Perhotelan Universitas Darma Agung (UDA) Medan. Setelah wisuda, ia sempat bekerja di salah satu hotel. Namun hanya bertahan sekitar tiga bulan. Alasan bungsu dari delapan bersaudara ini, ia merasa lebih tertarik di bidang tata rias dan dekorasi pengantin, khususnya pengantin adat.

Meski sempat ditentang orangtua, Jen berkeras dengan pilihannya. Ia pun mulai banyak belajar, termasuk di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Ayu, di Jalan Rajawali Pematangsiantar. Di tempat itu, Jen banyak belajar tentang pengantin adat dan dekorasi.

“Kami juga mendapat pencerahan dari para tokoh adat, khususnya tentang pengantin dan adat pernikahan termasuk filosofinya,” terang pria yang sudah mengantongi sedikitnya 14 piagam penghargaan kompetensi di bidang tata rias pengantin adat.

Sedikit demi sedikit, Jen mulai membangun usahanya di tahun 2005. Kebetulan, istrinya Hilda Hairani berkecimpung di bidang yang sama.

“Kami berkenalan di salah satu kegiatan pelatihan tata rias. Mertua saya memang sudah memiliki usaha tata rias dan dekorasi pengantin. Jadi, klop lah,” tukas bapak dua anak ini, yaitu Izdihar Khansa (6) dan Rizky Almira (4) ini.

Selain bersama Jen menjalankan bisnis tata rias dan dekorasi pengantin, Hilda juga merupakan guru di salah satu sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Marjandi Embong.

Jen tak tanggung-tanggung menjalankan bisnisnya. Ia benar-benar fokus. Sehingga Jen’s Decoration yang didirikannya kini tak hanya mencakup tata rias pengantin dan dekorasi, namun juga teratak lengkap dengan kursi, meja, dan lainnya, hingga perlengkapan makan.

“Jen’s Decoration juga memiliki LPK dan kursus,” sebut Jen yang memiliki koleksi pakaian pengantin adat Simalungun, Jawa Solo, Jawa Jogjakarta Paes Ageng, Melayu, Mandailing, Toba, dan Karo.

Sebagai penata rias pengantin adat, Jen yang merupakan Ketua Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Melati Kabupaten Simalungun sering mengikuti berbaga perlombaan tata rias pengantin adat, bahkan hingga tingkat nasional.

Tahun 2019 lalu, Jen meraih juara umum Tata Rias Pengantin Kategori Non Pais yang digelar di Hotel Bidakara Jakarta. Saat itu, Jen menampilkan pengantin adat Karo, yang tingkat kesulitannya dianggap sangat tinggi.

Tahun sebelumnya, yaitu 2018, Jen menjadi juara Tata Rias Pengantin Melayu, Karo, Simalungun (Mekarsi) mewakili Kota Pematangsiantar dalam rangka Hari Aksara Tingkat Nasional yang dipusatkan di Lubukpakam, Kabupaten Deliserdang.

“Waktu itu saya tampilkan pengantin adat Simalungun,” tukas Jen yang sudah tiga tahun menjabat sebagai Ketua HARPI Melati Kabupaten Simalungun.

Dijadwalkan, 24 Maret 2020 mendatang, Jen menjadi salah satu pengisi acara di event Luxury Wedding Performance di Medan. Pengisi acara lainnya, sejumlah  penata rias dari Medan.

“Kembali, saya akan tampilkan pengantin adat Simalungun. Bahkan kali ini pengantin adat Simalungun baku,” ujar Jen yang beberapa kali mewakili Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mengikuti lomba tata rias pengantin tingkat nasional.

Jen yang juga menjabat Seksi Pendidikan HARPI Melati Sumut memiliki prinsip rezeki tidak akan salah tempat. Ia merasa tidak perlu kecewa jika ada kenalan yang tidak menggunakan jasanya.

“Kadang, ada sesama penata rias mohon izin karena ia mendapat job dari orang yang dekat rumah saya. Saya bilang, tidak perlu minta izin lah. Malah saya sarankan, jalau ada yang kurang, silakan hubungi saya,” tandasnya.

Jen sendiri pernah mengalami, saat merias pengantin di kawasan Sinaksak, salah satu aksesoris pengantin tertinggal. Ia pun menelepon temannya yang merupakan anggota HARPI Melati dan meminjam aksesoris.

“Begitulah seharusnya sesama penata rias. Saling mendukung satu sama lain. Jangan saling tidak bertegur sapa gara-gara job,” pungkas Jen yang menerima job hingga ke Tanjungmorawa dan Medan. (awa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button