Lifestyle

Irna Prisdayani Damanik Lestarikan Hiou melalui Rumah Katuktak

FaseBerita.ID – Mungkin hanya sedikit pengusaha yang khusus memasarkan Hiou Simalungun. Namun di Rumah Katuktak, di Jalan H Ulakma Sinaga, Gang Durian Ujung, Rambung Merah, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun, khusus menyediakan berbagai motif Hiou.

Owner Rumah Katuktak, Irna Prisdayani Damanik mengaku, sebagai generasi Simalungun, ia merasa berkewajiban melestarikan adat dan budaya sukunya. Salah satu yang dilakukannya, mendirikan Rumah Katuktak, yang menyediakan beragam Hiou Simalungun.

Sebenarnya, kata Irna, berawal di Agustus 2018. Kala itu, Irna yang merupakan guru Sekolah Minggu di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Rambung Merah, ingin membantu Sekolah Minggu Sektor Timur B Jemaat GKPS Rambung Merah tersebut dalam bidang keuangan. Irna berinisiatif mengumpulkan Hiou dari beberapa partonun (penenun) yang ada di Rambung Merah.

Berbekal jumlah teman yang cukup banyak di akun media sosial (medsos), Irna pun memasarkan Hiou. Ternyata, upaya Irna berhasil. Banyak pesanan yang datang.

“Karena Sekolah Minggu memang butuh dana saat itu, jadi keuntungan dari penjualan Hiou sepenuhnya diserahkan ke Sekolah Minggu,” sebut istri dari Liharman Saragih, Kepala Program Studi (Kaprodi) Manajemen Universitas Simalungun (USI) itu.

Rupanya Irna merasa enjoy memasarkan Hiou. Alhasil, aktivitasnya tersebut berlanjut sampai sekarang hingga kemudian ia mendirikan Rumah Katuktak.

Katuktak, katanya, adalah alat tenun yang berukuran besar. Hanya saja, Hiou yang dikumpulkan Irna dan dipasarkan, justru diproduksi alat tenun Gedogan.

“Gedogan itu alat tenun berukuran kecil. Yang mengerjakannya duduk di lantai dengan posisi kaki diselonjorkan, lalu menenun menggunakan dua tangan. Sedangkan Katuktak, bisa mengerjakan tenunan dengan satu tangan,” terang ibu dua putri ini, yaitu Chelsea Renata Saragih (12) dan Elnisura Saragih (8).

Lebih lanjut Irna mengatakan, saat ini ia menghimpun Hiou dari berbagai tempat. Bahkan hingga ke Tarutung, Silalahi, dan tentunya daerah-daerah di Simalungun Atas.

Biasanya Hiou yang dikirim partonun masih mentah. Artinya, baru selesai ditenun. Sehingga masih membutuhkan beberapa proses lagi. Misalnya, memperindah rumbai-rumbai.

“Untuk sentuhan lanjutan, dikerjakan beberapa orang di rumahnya di sekitar Rambung Merah. Sedangkan finishing touch-nya tetap saya yang mengerjakan,” ujar Irna, yang memastikan Hiou-Hiou tersebut dikerjakan hand made.

Irna mengaku, saat ini ia tetap menyisihkan laba penjualannya untuk Sekolah Minggu. Ia merasa, penjualannya lancar karena ia tidak melupakan awal ia merintis usaha tersebut

“Pernah, karena sibuk, saya lupa menyerahkan bagian anak Sekolah Minggu. Lalu, penjualan berkurang. Saya bilang ke suami, terus dia mengingatkan apakah saya sudah menyerahkan bagian untuk Sekolah Minggu. Barulah saya ingat. Setelah saya serahkan, penjualan pun meningkat kembali. Jadi saya memang sangat meng-imani hal tersebut,” tukas alumni Teknik Kimia Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung tersebut.

Masih kata Irna, karena dipasarkan secara online, maka pelanggannya banyak yang berdomisi di luar kota, seperti Jakarta, Bandung, bahkan Papua.

Malah, lanjutnya, beberapa waktu lalu ia mengirimkan empat set Hiou ke Inggris.

“Banyak dari luar daerah. Tapi ada beberapa dari mereka pernah singgah ke sini saat mudik,” sebut lulusan SMA Budi Mulia Pematangsiantar itu.

Irna menuturkan, foto Hiou yang biasa diposting dan dipasarkannya di medsos merupakan milik sendiri dan sudah ready. Jadi dia sama sekali tidak menggunakan foto orang lain.

Jika ada beberapa orang yang berminat, tentu saja Irna memprioritaskan pemesan pertama. Nah, jika pemesan pertama membatalkan pesanannya, Irna tidak pernah kecewa. Sebab masih ada pemesan kedua, dan seterusnya.

“Kalau memang saat itu tidak terjual, juga tidak apa-apa. Bisa saya pajang di Rumah Katuktak. Nanti bisa saya posting lagi,” tandas sulung dari dua bersaudara, buah hati pasangan Puasa Damanik dan Risnawati Bukit.

Pemesan, lanjutnya, juga bisa mengajukan permintaan sesuai selera masing-masing. Misalnya untuk warna. Selain itu, untuk bulang (penutup kepala wanita), bisa diberi hiasan payet.

“Sekarang kan fashion sudah berkembang. Jadi ada saja yang memesan bulang berpayet,” kata Irna, seraya menambahkan, pesanan bulang meningkat drastis pasca ibu negara Iriana Joko Widodo mengenakan bulang saat menghadiri upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Indonesia ke-74 di Istana Negara tahun 2019 lalu.

Kebetulan, sambung Irna, saat itu ia menonton siaran langsung upacara di televisi. Begitu Iriana muncul dengan mengenakan bulang, Irna mengaku ia merasa terharu dan sangat bangga.

“Langsung saya berpikir, pasti sebentar lagi bulang laku keras. He he he… Terima kasih kepada Ibu Iriana yang telah mengenakan bulang. Padahal, sangat banyak pakaian adat suku-suku di Indonesia yang memiliki penutup kepala lebih mewah,” tambah Irna yang ke depan, akan bekerja sama dengan Jabu Sihol untuk semakin memperkenalkan Hiou Simalungun.

Sebagai pedagang, Irna memiliki kode etik sendiri. Ia tidak pernah memposting pembelinya di medsos. Namun jika ada pembeli yang posting sendiri dan kemudian men-tag akun Irna, dirinya sangat berterima kasih karena telah mempromosikan usahanya.

“Tak semua orang ingin privasinya dibuka, walaupun hanya namanya. Ini sangat saya jaga. Kalau pembeli yang posting, itu hak dia kan…” kata Irna yang selalu mengemas pesanan pelanggan menggunakan kotak, lalu membungkusnya dengan kertas kado yang rapi.

Lebih lanjut Irna menceritakan, sebagai perempuan, ia tidak suka berdiam diri. Di masa gadis hingga menikah, ia merupakan pegawai salah satu bank swasta. Namun kemudian ia memilih resign karena kerap ditugaskan ke luar daerah.

“Saya kerja di bank selama 10 tahun, sejak 2005 hingga 2015. Tahun 2007 saya menikah, dan tetap bekerja hingga tahun 2015,” tukasnya.

Pasca resign, suami membebaskan Irna mencari kesibukan. Saat itu, Irna memutuskan berkebun jeruk, ubi, dan beternak.

“Saya yang biasanya jam setengah tujuh pagi sudah rapi, setelah resign jadi di rumah. Suami takut saya shock, dan membiarkan saya cari kesibukan. Dia selalu support saya, termasuk untuk Rumah Katuktak ini,” tandas perempuan yang lahir 9 Mei 1981 tersebut.Ke depan, Irna ingin tetap fokus berbisnis melalui online, namun menambah jumlah stok barang yang ready. Untuk buka toko atau outlet, Irna mengaku saat ini belum memikirkannya.

“Fokus ke online dulu. Meskipun kalau ada yang datang ke Rumah Katuktak, selalu ada barang yang ready stok,” pungkas Irna yang melayani customer melalui telepon, Whatsapp, bahkan Video Call. (awa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button