Lifestyle

Intervensi Kesehatan

FaseBerita.ID – Bagaimanakah pola hidup sehat yang dimaksud? dr Boy Abidin SpOG menjelaskan bahwa pola hidup sehat itu didapat dari keteraturan menjaga pola tidur, aktivitas dan pola makan.

“Kembali pada pola hidup sehat, mulai pola tidur, pola aktivitas, pola makan. Kalau mau sehat, tidur setidaknya 6 sampei 8 jam,” ujar dr Boy.

Setelah menjalankan pola hidup sehat, selanjutnya adalah olahraga. Olahraga seharusnya menjadi aktivitas penting bagi setiap orang untuk mempeoleh tubuh yang sehat. Dr Boy menjelaskan bahwa kegiatan tidak perlu dilakukan setiap hari, cukup 2 hingga 3 kali seminggu selama setengah hingga satu jam.

“Olahraganya idealnya seminggu dua sampai tiga kali. Olahraga yang bisa dilakukan adalah aerobik seperti sepeda, jalan, berenang atau apapun yang sifatnya banyak membakar atau menggunakan pernafasan kita. Idealnya dilakukan setengah sampai satu jam,” ujar dr Boy.

Selain itu, pilihlah waktu berolahraga yang tepat. Jika sempat, berolahraga di pagi atau sore hari di bawah sinar matahari baik untuk ketahanan tulang di masa tua nanti.

“Olahraga itu penting sekali, kemudian jangan takut dengan sinar matahari karena kalau kurang sinar matahari tulang bisa kropos pada usia lanjut. Matahari yang baik itu ada pada jam 6 hingga 8 pagi dan jam 4 hingga 6 sore, untuk berolahraga di bawah sinar matahari bagus dilakukan di jam-jam itu,” katanya.

Yang tidak kalah penting adalah menjaga pola makan. Selain frekuensi makan tiga kali sehari, mengatur asupan gizi dalam makanan juga penting dilakukan. Usahakan untuk selalu menyeliokan buah dan sayur dalam menu makanan Anda.

“Pola makan, usahakan kembali pada makanan alami dan natural sehingga kita tahu jenis makanannya apa dan pengolahannya seperti apa. Cepat saji boleh tapi sekali-kali dan jangan lupa sayuran dan buah-buahan yang mengandung antioksidan,” jelasnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa hal yang paling penting adalah komitmen dan konsistensi menjalankan seluruh anjuran di atas. Semua harus dilakukan secara berkesinambungan agar dapat memperoleh tubuh yang sehat.

Perhatian orang tua terhadap perkembangan anak, khususnya stunting perlu ditingkatkan. Hal ini karena stunting manisfestasi dari kegagalan pertumbuhan yang dimulai dari sejak dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan yaitu mempersiapkan seorang ibu, memberikan pelayanan kepada ibu hamil secara maksimal dan optimal, dan persalinan dilakukan di pelayanan fasilitas kesehatan.

Perhatian perlu ditingkatkan pada 1.000 hari pertama kehidupan. Hal ini karena kebutuhan asupan gizi yang baik sangat dibutuhkan untuk perkembangan otak maupun pertumbuhan anak.

Hasil penelitian menunjukkan, pemberian ASI eksklusif sangat berkaitan dengan kejadian stunting pada anak karena pada saat ASI tidak diberikan, anak tidak mendapatkan kekebalan yang terkandung dalam ASI.

Sementara itu, pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) dini yang tidak bersih sebelum anak usia 6 bulan atau anak belum siap mengonsumsi makanan akan menimbulakan kecenderungan cepat terinfeksi penyakit.

Imunisasi juga dapat menstimulasi sistem imun untuk membentuk antibodi yang dapat melawan agen infeksi. Upaya mengurangi stunting perlu keterlibatan berbagai kalangan, baik pemerintah, LSM, maupun masyarakat akan arti bahaya stunting bagi anak penerus bangsa.

Akselerasi target stunting RPJMN 2019 sebesar 28% dan tujuan SDGs, salah satunya untuk mengurangi stunting sampai 40% di 2025 perlu dukungan semua pihak. (viva/int)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button