Lifestyle

Indra Gunawan: Aku Anak Siantar

FaseBerita.ID – Meski berdomisili di Bali yang tercatat sebagai atlet Provinsi Jawa Timur, namun Indra Gunawan tetap menegaskan dirinya sebagai Anak Siantar. Penegasan itu menunjukkan, pria yang beberapa kali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional dalam olahraga renang itu sangat mencintai kota kelahirannya.

“Aku terus bawa nama Siantar. Aku kan anak Siantar!” tukasnya.

Lelaki yang lahir 21 Maret 1988 ini telah menorehkan sejumlah prestasi di bidang olahraga renang. Telah beberapa kali ia membuat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang dan bendera merah putih berkibar di dunia internasional.

Seperti saat ia mengikuti Sea Games di OCBC Aquatic Centre Singapura tahun 2015 lalu. Alumni SMA Methodist Pematangsiantar tahun 2006 ini menjadi penyumbang medali emas pertama bagi Indonesia di nomor 50 meter gaya dada putra. Bahkan satu-satunya medali emas bagi tim renang. Saat itu ia memiliki catatan waktu 28,27 detik.

Indra juga pernah menyumbangkan medali bagi Indonesia dalam Islamic Solidarity Games (ISG) IV/2017 di Aquatic Center, Aquatic Palace, Sabail Area Academician Ahad Yagubov Baku Azerbaijan.

Perkenalan bungsu dari empat bersaudara ini dengan dunia renang sebenarnya cukup unik. Seperti dikisahkan pria bertato Sang Buddha di lengan kirinya itu, saat ia duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar sebenarnya ia belum bisa berenang. Padahal teman-teman sebayanya sudah mampu berenang, dan sering menghabiskan waktu luang di kolam renang yang ada di kawasan Pematang.

Oleh ayahnya, Indra dibawa ke kolam renang. Bahkan setiap hari. Sejak itu, berenang menjadi kegiatan rutin Indra. Bahkan, renang menjadi jalan dan pilihan hidupnya.

Selanjutnya, suami dari Noemi Hemzo, wanita asal Hungaria ini, meyakini bahwa mindset dan usaha, serta keuletan akan mengubah banyak hal dalam hidup.

Indra pun mendedikasikan hidupnya di dunia olahraga, khususnya renang. Ia berharap suatu waktu Indonesia atau Bali bisa memiliki kolam renang berstandar internasional dan menjadi training camp bagi para atlet dari seluruh dunia, seperti Thailand yang menjadi destinasi training camp bagi para atlet renang.

Diakui Indra, ia sempat mewakili Kota Pematangsiantar dalam beberapa event pertandingan renang. Selanjutnya mewakili Provinsi Sumatera Utara, sebelum kemudian ‘dibeli’ oleh Provinsi Jawa Timur dan mewakili Indonesia di beberapa pertandingan tingkat internasional.

Memang, terhitung sejak 24 Maret 2015, Indra resmi menjadi atlet renang Provinsi Jawa Timur. Kala itu, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KOSI) Sumatera Utara (Sumut) John Ismadi Lubis mengatakan pihaknya harus merelakan Indra mutasi ke Jawa Timur karena mempertimbangkan kepentingan nasional. Hal ini, katanya, sesuai putusan Badan Arbitrase Olahraga Republik Indonesia (BAORI) yang menyidangkan kasusnya.

KONI Sumut, kata John yang didampingi sekretaris umumnya Chairul Azmi Hutasuhut, mengaku menerima putusan BAORI demi kepentingan negara dan karir Indra.

“Kalau kita menolak, maka Indra tidak mungkin bisa tampil di SEA GAMES Singapura, Padahal timnas renang Indonesia masih membutuhkan dia,” katanya.

Selain itu, sambung John, KONI Sumut tidak ingin karir Indra mati akibat tidak bisa mengikuti even-even internasional.

“Bagaimanapun, Indra merupakan atlet yang pernah mengharumkan nama Sumut,” ujar John.

Dalam keputusan BAORI, Provinsi Jawa Timur wajib membayar kompensasi pembinaan kepada KONI Sumut sebesar Rp1,1 miliar.

“Awalnya kita minta Rp4 miliar. Namun Jatim hanya sanggup Rp1,1 miliar. Sudah ditransfer ke rekening bank KONI Sumut, dan akan kita gunakan untuk biaya pembinaan atlet. Dana itu juga nantinya akan kita pertanggungjawabkan seperti aturan KONI selama ini,” terangnya. (int)

 

 



Pascasarjana

Unefa
Back to top button