Lifestyle

Imam Hanafi Wujudkan Cinta Siantar dengan Seni

Keinginannya fokus di dunia seni membuat Imam Hanafi rela meninggalkan pekerjaannya di salah satu perusahaan besar di Kota Pematangsiantar. Imam merasa, terikat dengan jam kerja membuatnya tidak memiliki banyak waktu untuk berkarya dan berkreativitas di bidang seni.

Padahal, menurut bungsu dari empat bersaudara ini, jika ada kegiatan di seni, ia sangat ingin memberikan pemikiran dan perhatian maksimal.

“Saya pilih keluar dari perusahaan. Padahal saya sudah delapan tahun bekerja di sana. Saya ingin punya banyak waktu untuk seni. Meskipun bukan saya yang tampil, tapi rasanya ada kepuasan jika bisa menghasilkan karya,” terang buah hati dari pasangan suami istri Sukirno dan Ana ini.

Jiwa seni memang sudah ada dalam diri alumni SMK Negeri 1 Pematangsiantar ini. Sejak sekolah, ia sudah aktif di grup tari, baik tradisional maupun modern.

Lulus sekolah, Imam memilih merantau ke Pulau Jawa. Beberapa tahun kemudian ia pulang ke Pematangsiantar. Di kota kelahirannya, Imam bekerja di salah satu perusahaan besar.

Di perusahaan tersebut, Imam diberi kesempatan berkarya dan berkreativitas di bidang seni. Ia diutus mengikuti pelatihan marching band di Medan. Selanjutnya, Imam didapuk menjadi pelatih marching band. Selain itu, Imam bergabung di grup dance yang ada di perusahaan tersebut.

Sambil bekerja, Imam mulai memasuki dunia modelling. Bukan sebagai model, namun menjadi coach atau pelatih. Berbekal belajar secara otodidak, Imam mulai mengajar modelling.

“Saya belajar sendiri untuk catwalk. Saya pakai high heels yang tingginya 15-20 centimeter. Saya berpikir, untuk mengajar modelling, paling tidak saya harus bisa catwalk,” tukas Imam yang sempat bergabung di beberapa agency model.

Hingga kemudian, setelah resign dari perusahaan, Imam membuka agency model sendiri. Diberi nama IM Model Management, yang beralamat di Jalan Sudirman Pematangsiantar.

Selain sebagai coach modelling, Imam piawai mendesain dan menjahit kostum, khususnya untuk keperluan fashion show. Ia bisa dengan mudah mendesain beberapa kostum sekaligus dalam satu tema.

“Misalnya kostum dengan tema ulos, biasanya sampai beberapa pieces. Saya desain dengan model berbeda-beda,” tandas Imam yang juga terbiasa merias wajah anak didiknya yang akan mengikuti fashion show atau perlombaan modelling.

Dari empat bersaudara, Imam yang kini juga mengajar marching band di salah satu sekolah di Saribudolok, Kabupaten Simalungun ini, satu-satunya yang fokus di bidang seni. Diakuinya, ia memang hobi menggambar saat masih sekolah, dan sempat bercita-cita menjadi fashion designer.

“Tapi orangtua melarang saya sekolah designer,” ujar Imam yang menekankan kepada anak didiknya bahwa modelling bukan sekadar ajang untuk gaya-gayaan.

Kini, setelah fokus di bidang modelling dan memiliki agency model, Imam mengaku memiliki kepuasan tersendiri. Apalagi, anak didiknya kerap menuai prestasi. Salah satunya, pemenang pertama Putra dan Putri Pariwisata Kota Pematangsiantar tahun 2019.

Untuk membekali anak-anak didiknya, Imam tak hanya mengajari catwalk. Namun juga public speaking dan ilmu pengetahuan umum. Dan jika anak didiknya bisa berprestasi, Imam merasakan kepuasan tersendiri.

“Ya, meskipun saya berada di belakang panggung, tapi kalau anak-anak saya menang, saya sangat bahagia. Rasanya tidak sia-sia pekerjaan saya,” sebut Imam, yang mengaku jika ada anak yang berbakat di bidang modelling namun tidak mampu secara materi, ia tetap bersedia mengajari dan mendukungnya.

Sebab, lanjut Imam, ia tidak semata-mata mengejar keuntungan secara materi. Baginya, bisa berkarya dan berkreativitas sudah sangat menguntungkan baginya. Apalagi, sambungnya, sejauh ini di Kota Pematangsiantar sangat minim wadah untuk berkarya dan berkreativitas.

Imam memang ingin memberikan sumbangsih dan mewujudkan kecintaannya kepada Kota Pematangsiantar melalui karya seni. Imam yang ingin memiliki galeri busana khusus hasil desainnya ini berharap Kota Pematangsiantar memiliki agenda rutin untuk menampilkan karya seni warganya. Misalnya seperti festival tahunan di Jember.

“Bayangkan, di Jember ada festival yang bisa mengundang wisatawan. Maunya Siantar juga punya seperti itu. Di Jember mereka menampilkan batik, kita di Siantar kan bisa menampilkan ulos,” papar Imam yang lahir 10 Mei 1990 ini.

Imam juga mengaku iri dengan ‘bebasnya’ seniman berkreativitas di Jogjakarta. Khususnya di kawasan terkenal, Malioboro.

Wisatawan, lanjutnya, jika ke Jogjakarta, dipastikan singgah di Malioboro.

“Di Malioboro itu, suasana yang dijual kepada wisatawan. Senimannya juga leluasa berkarya di situ. Kenapa di Siantar tidak dibikin seperti itu?” tanya Imam, yang sangat berharap ada anak Siantar bisa melaju ke tingkat nasional, bahkan internasional di bidang modelling. (awa)

Unefa

Pascasarjana


Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker