Lifestyle

Herawati Hasibuan Mimpi Punya Salon Muslimah pun Tercapai

FaseBerita.ID – Bermimpilah, lalu bangun dan wujudkan. Kata-kata bijak tersebut sering terdengar sebagai motivasi. Banyak hal yang berawal dari mimpi. Sama halnya dengan mimpi Herawati Hasibuan yang ingin memiliki salon khusus bagi Muslimah.

Mimpi Hera, demikian ia biasa disapa, itu mulai muncul ketika ia merasa kurang nyaman saat rambutnya dipangkas di salon umum. Sebab tiba-tiba saja ada pria yang bukan muhrim tiba-tiba melintas.

“Dari situ, saya mulai bermimpi ingin ada salon khusus Muslimah. Tapi dulu saya anggap itu hanya angan-angan,” terang pengelola Yayasan Pendidikan Islam Terpadu Ulil Albab Pematangsiantar itu.

Lebih lanjut dikatakan perempuan berhijab ini, di tahun 2016 impiannya terwujud. Tetapi tanpa disengaja. Saat itu, lanjutnya, ada yang menawari dirinya untuk mengontrak salon beserta peralatannya.

Meski sempat bingung karena sama sekali tidak punya pengalaman tentang salon, Hera bersedia mengontrak salon tersebut. Tentunya dengan izin suami tercinta, Agus Suhairi Nasution.

“Kebetulan ada seseorang yang saya kenal bersedia menjalankan salon tersebut. Namanya Anna. Sedangkan saya, lebih fokus mengurus yayasan pendidikan,” tukas ibu empat anak itu.

Dengan niat melayani Muslimah yang ingin merawat diri, salon yang berada di Jalan Jawa No 68 Pematangsiantar itu mulai beroperasi.

“Namanya Aisyah Salon Muslimah. Aisyah itu saya ambil dari nama istri Rasulullah Muhammad SAW,” terang pemilik gelar Sarjana Pendidikan Islam (SPdI) dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Pematangsiantar tersebut.

Diakui Hera, di tahun-tahun pertama pengunjung salon masih minim. Bahkan laporan keuangan menunjukkan defisit. Hera sempat pesimis. Namun, support justru terus datang dari suaminya.

Subhanallah, suami saya selalu mengingatkan saya tentang niat awal membuka salon, dan agar jangan mengutamakan materi,” tandas wanita yang sempat menjadi guru Taman Kanak-kanak itu.

Di tahun ketiga, Hera benar-benar takjub. Pengunjung salon mulai ramai. Perlahan-lahan, laporan keuangan menunjukkan angka surplus.

“Benar-benar luar biasa. Saya bilang itu hasil kerja ‘marketing langit’. Sebab kita memang tidak ada promosi, termasuk di media sosial,” tukas Hera, seraya menambahkan Salon Muslimah miliknya memberikan pelayanan layaknya salon pada umumnya, mulai gunting rambut, creambath, facial, spa rambut, manicure, pedicure, make up, jilbab fashion, dan lainnya.

Lebih lanjut Hera menjelaskan, pelanggan salonnya dari berbagai kalangan, termasuk ibu rumah tangga dan pelajar. Pengunjung salon, sambungnya, biasanya ramai di hari Jumat. Memang, di hari Jumat, Hera memberikan diskon sebesar 20 persen untuk semua jenis treatment.

“Karena sangat ramai, banyak yang harus booking dulu sejak hari Kamis. Bahkan saya sendiri, kalau di hari Jumat, tidak bisa treatment,” kata alumni Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pematangsiantar.

Hera yang kini memiliki empat pegawai di salon, yakni seorang manajer dan tiga pekerja, mengatakan, sesuai laporan keuangan, dalam sebulan paling sedikit salon melayani 250 treatment.

“Pengunjung akan membludak di bulan Ramadan. Bahkan hingga di malam Takbiran,” katanya lagi.

Anak ketiga dari empat bersaudara itu menambahkan, ke depan ia sebenarnya memiliki banyak impian, khususnya untuk pengembangan salon Muslimah. Mulai memiliki gedung sendiri, melayani jasa make up pengantin, salon dilengkapi dengan sarana lainnya, seperti kolam renang dan sanggar senam, plus tempat latihan memanah. Tentu saja khusus untuk Muslimah.

“Plus, saya ingin punya salon Muslimah yang premium,” tambah Hera, yang ingin banyak bermunculan salon Muslimah lainnya di Pematangsiantar.

“Saya juga butuh rekanan di usaha yang sama. Serta supaya ada semangat kompetisi untuk memberikan yang terbaik. Kalau rezeki, itu sudah ada yang mengatur,” tambah Hera yang sudah memastikan bahan-bahan treatment di salonnya sudah aman untuk pekerja dan klien.

Perempuan yang hobi membaca dan mendengarkan musik ini, di tengah kesibukannya selalu meluangkan waktu untuk keluarga. Biasanya, mereka berkumpul di meja makan saat makan malam setelah menunaikan salat Magrib.

“Kalau hari biasa, kami berkumpul dengan tiga anak. Saat weekend, baru lengkap karena anak yang sulung kuliah di Medan dan pulang ke Siantar setiap Jumat sore,” sebut Hera yang kerap diminta anak-anaknya untuk memasak di rumah. (awa)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button