Lifestyle

Haqqi Munawar Lubis (Eky) 6 Bulan jadi Barista, Langsung Berprestasi

Meski baru enam bulan menjadi barista, namun Haqqi Munawar Lubis sudah bisa meraih prestasi bergengsi.

Anak muda yang akrab disapa Eky ini baru saja memenangkan Kompetisi Manual Brewing (menyeduh kopi secara manual) Battle Throwdown V60 tingkat Sumatera Utara, di Medan, akhir Oktober lalu.

Eky yang ditemui di tempat kerjanya, Mo Coffee di Jalan Wahidin Pematangsiantar ini menceritakan, sejak tahun 2013 ia sudah tertarik dengan jenis kopi premium, yang berbeda dengan kopi yang selama ini ia nikmati.

“Biasanya minum kopi yang hitam, kental, dan manis. Saat di Medan menikmati kopi yang encer, ada terasa asam dan pahit. Saya bingung,” jelas Eky yang selanjutnya berusaha mencari tahu jenis kopi tersebut dengan banyak membaca.

Kopi tersebut terus membuat anak ketiga dari empat bersaudara itu penasaran. Hingga kemudian dia kembali ke Pematangsiantar dan bertemu teman kecilnya yang sama-sama tinggal di Jalan Jawa Pematangsiantar, Fikri Azdadin alias Black.

Lama tidak berjumpa, ternyata Black sudah bekerja di Mo Coffee Jalan Toba Pematangsiantar sebagai barista. Eky pun diajak ke Mo Coffee. Di situlah, Eky mengetahui ternyata di Pematangsiantar sudah ada kopi seperti yang pernah dinikmatinya di Medan. Sejak itu, Eky sering datang ke Mo Coffee dan menikmati racikan kopi di sana.

Hingga suatu hari, Eky membuka warung kopi di Jalan Voly Pematangsiantar. Namun yang dijualnya bukan kopi premium ataupun specialty seperti yang ada di Mo Coffee.

“Saya jual kopi Robusta, join dengan teman. Kebetulan lokasinya di basecamp teman-teman anak kreatif,” ujar alumni SMK Taman Siswa jurusan mesin Pematangsiantar ini.

Namun hati dan pikiran Eky tetap saja ke kopi premium. Untuk menutupi rasa penasarannya, Eky tetap menjalin komunikasi dengan Black dan banyak bertanya. Selain itu, terus mencari literasi tentang kopi.

Hingga kemudian, warung kopinya tutup karena terkendala modal. Eky pun makin sering berkomunikasi dengan Black dan datang ke Mo Coffee.

Dan, sekitar enam bulan lalu, owner Mo Coffee, Ricky Sigalingging bersama beberapa temannya membuka kafe baru dengan nama yang sama, di Jalan Wahidin Pematangsiantar. Eky ditawari menjadi barista.

Gayung bersambut. Eky merasa mendapat peluang sekaligus tantangan. Mulailah ia belajar menjadi barista, dengan Ricky sebagai pembimbing.

Belum lama menjadi barista, Eky ditantang lagi mengikuti kompetisi meracik kopi secara manual.

“Sempat bingung juga, karena di sini kan saya pakai mesin. Tapi Bang Ricky terus men-support saya, termasuk Black untuk ikut kompetisi. Katanya, kalau mau tau kualitas kopi racikan kita, harus ikut kompetisi,” tukas buah hati Edi Syahputra Lubis dan Mila Nasution ini.

Selama sekitar sebulan, Eky digembleng oleh Ricky dan Black. Kebetulan, Black merupakan juara pertama Barista ajang Aeropress Indonesia 2018, dan sudah mengikuti kompetisi hingga Australia.

Awalnya, Eky berniat mengikuti lomba guna mengukur kemampuan dirinya, sekaligus ingin mengetahui euforia kompetisi. Soal juara, Eky mengaku sama sekali tidak menjadi target.

Namun, melihat keseriusan Ricky dan Black membimbingnya, termasuk memberikan literasi tentang meracik kopi. Eky akhirnya bertekad tidak akan mengecewakan keduanya.

“Saya serius latihan. Bahkan tiga hari menjelang kompetisi, saya belajar sendiri, karena Bang Ricky harus keluar daerah,” ujar Eky yang didampingi Ricky saat mengikuti kompetisi yang diadakan di Medan Fair Plaza, 25, 26, dan 27 Oktober lalu.

Di hari pertama, lanjut Eky yang sempat bergabung di salah satu event organizer(EO) di Pematangsiantar ini, kompetisi diikuti 32 barista yang berasal dari beberapa daerah, termasuk Aceh. Dari 32 barista tersebut, Eky ternyata masuk peringkat 3 besar.

“Nggak ada juara 1, 2, atau 3. Yang diumumkan hanya tiga nama terbaik,” tandas pria yang saat mengikuti kompetisi melihat para barista asal Medan tampak lebih profesional dan kompak, termasuk penampilan.

Selanjutnya, mereka yang masuk 3 besar, dipertandingkan lagi dengan peraih 3 besar barista dari kompetisi yang sama, yang digelar di Binjai.

Nah, dari enam peserta itu, Eky meraih juara pertama. Ia berhak memeroleh trofi, sertifikat, dan uang tunai.

“Dalam kompetisi, yang dinilai juri adalah hasil akhir. Mereka tidak menilai bagaimana kita meracik. Panitia memberikan waktu sekitar 10 menit, yaitu 5 menit untuk untuk prepare (persiapan), dan 5 menit untuk menyeduh,” jelas laki-laki yang hobi membaca ini.

Uang hadiah, sambung Eky, digunakan untuk memenuhi nazar-nya memberikan sumbangan ke masjid yang sedang dalam tahap pembangunan di dekat rumah, membeli handphone, dan tentunya mentraktir teman-teman.

“Kebetulan Hp saya memang sudah rusak. Begitu ada uang, ya saya beli,” aku lulusan SMP Negeri 2 Pematangsiantar itu.

Ke depan, Eky memantapkan dirinya sebagai barista, dan ingin mencoba kompetisi barista lainnya.

“Saya ingin ikut kompetisi seperti yang pernah diikuti Black. Yang pasti, barista sudah menjadi pilihan profesi. Apalagi orangtua mendukung. Saya bisa meraih juara juga karena doa orangtua,” sebut pria yang lahir 1 Oktober 1994 ini lagi.

Selain bekerja sebagai barista, Eky juga aktif di Rumah Kreatif Ruang Aktif Ruang Seni (Rarart). Di komunitas para pelaku seni itu, seperti mural, melukis, sablon, musik, dan senirupa itu, Eky di bagian industri kreatif.

“Terakhir, saya dan teman-teman di Rarart mengkonsep  acara launching buku salah seorang penulis asal Perdagangan, Simalungun,” kata Eky yang rambut kribo-nya menjadi ciri khas dirinya. (awa)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close