Lifestyle

Hakiki Mutiatun Purba Bisnis Kue Berawal dari Anak Alergi Jajanan

Memiliki anak yang tidak bisa sembarangan menikmati jajanan yang ada di pasaran karena mudah alergi, ‘memaksa’ Hakiki Mutiatun Purba untuk kreatif. Apalagi, putri sulungnya sangat gemar mengonsumsi brownies namun selalu alergi setelah menikmati yang dibeli dari toko kue.

Kiki, demikian ia biasa dipanggil, mencoba membuat brownies sendiri. Meski awalnya sempat gagal, namun akhirnya ia mampu menghasilkan brownies yang lezat, dan tentunya disukai anak-anaknya.

Kiki pun bercerita ke teman-temannya tentang brownies buatannya yang higienis dan tidak menggunakan mentega atau margarine, melainkan memakai minyak jagung (corn oil). Juga tidak dipanggang, tetapi dikukus. Teman-temannya penasaran, dan memesan kue yang sama dari Kiki.

“Setelah mencicipi, kawan-kawan bilang enak dan suka. Barulah saya berani posting foto brownies di media sosial. Selanjutnya, banyak yang pesan brownies, termasuk kue tart brownies,” terang Kiki yang merupakan guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) di SMK Negeri 2 Pematangsiantar.

Istri dari Lukfi Yosfian ini kemudian tak hanya berhenti di cake brownies. Banyak jenis penganan lainnya yang ditawarkan melalui media sosial. Seperti budapest durian, brownies durian, brownies alpukat, nugget, dan lainnya.

“Pokoknya, apa yang saya posting, pasti ada saja yang pesan. Termasuk untuk lauk-pauk sehari-hari, misalnya semur ayam, gulai jengkol, dan lainnya. Jadi istilahnya, kami makan tapi pembeli yang bayar,” terang ibu tiga anak ini, yaitu Khansa Musfirah Tsaqif (11), Bahy Abiyyu Zhafran (8), dan Rafania Shiza Farzana (2).

Alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FKIP UMSU) Medan jurusan Bahasa Inggris ini menuturkan, ia biasanya mengerjakan orderan kue dan masakan di malam hari. Jika orderan banyak, dilanjutkan pagi Subuh, sebelum ia pergi mengajar.

“Saya memberlakukan sistem pre order. Untuk kue tart, minimal tiga hari sebelumnya sudah harus order. Saya kerjakan sendiri. Tapi kalau banyak orderan, saya biasanya pakai jasa pekerja yang selalu siap membantu,” terang Kiki yang sempat bertugas mengajar di Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara selama dua tahun.

Untuk mengantarkan pesanan kepada pembeli, Kiki biasanya mengantar sendiri. Khususnya di kawasan yang dikintasinya dalam perjalanan dari rumah di Perumahan Pondok Asri Tozai Baru, Kecamatan Sitalasari ke SMKN 2 di Jalan Sangnaualuh Damanik.

“Free ongkir. Tapi kalau di kawasan yang tidak saya lintasi, ya dikenakan biaya,” tukas wanita berhijab yang mengaku hobi menyanyi dan memasak ini.

Diakui Kiki, di awal memulai bisnis kue yang diberi nama Brownies Khansa, ia hanya memiliki satu loyang untuk cetakan kue, berbentuk segi empat. Perlahan, dari hasil menjual kue, ia bisa membeli bermacam-macam bentuk dan ukuran loyang, serta alat masak lainnya.

Kiki, selama ini mengantar sendiri pesanan ke pembeli. Ia mengendarai sepeda motor metic-nya menyusuri jalan-jalan di Pematangsiantar.

“Untuk kue tart, saya bisa hanya satu tangan memegang stang sepedamotor. Kotak kue diletakkan di paha. Makanya, meski sepedamotor saya sudah keluaran tahun lama, saya tetap setia. Saya merasa sudah menyatu, dan enggan menggantinya,” tukas Kiki yang perna terjatuh karena menghindari ayam.

“Kue-nya nggak rusak, tapi saya yang luka-luka,” kenangnya.

Disinggung tentang suami, Kiki bersyukur pasangan hidupnya itu mendukung usaha dia sepenuhnya. Bahkan, suami bersedia membantu, termasuk mengantar orderan.

“Kebetulan baru tahun ini suami pindah tugas ke Siantar. Sebelumnya, dia selalu tugas di luar kota dan hanya weekend pulang ke Siantar,” tambah Kiki.

Kiprah Kiki di bisnis kue sudah mendapat pengakuan. Ia sudah diminta memberikan pelatihan membuat aneka kue kering dan manisan buah di Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Anak Pematangsiantar.

“Juga melatih ibu-ibu di PT Taspen untuk membuat kue. Selain menyediakan penganan yang higienis, juga bisa dibisniskan untuk menambah income keluarga,” tukas Kiki yang memiliki keinginan membuka studio khusus untuk tempat memajang penganan buatannya. Jika ada yang berminat belajar, akan dibuka cooking class.

Kiki sendiri tergabung dalam komunitas Bakulers. Anggotanya biasanya berkumpul sebulan sekali. Namun sehari-hari mereka aktif berkomunikasi di grup WA.

“Ada yang jenis jualannya sama, tapi nggak pernah merasa bersaing. Malah, kalau ada yang dapat order banyak, nggak jarang berbagi dengan temannya,” tandas Kiki. (awa)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker